Infeksi Akut Strain Bakteri corynebacterium diphteriae

Infeksi Akut Strain Bakteri corynebacterium diphteriae

  Jumat, 8 December 2017 09:39

Berita Terkait

Penyakit difteri kembali mencuat. Hingga November 2017, Kementrian Kesehatan mencatat beberapa provinsi mewabah penyakit ini. Jumlahnya mencapai ratusan kasus dan menelan korban jiwa. Penyakit infeksi akut oleh strain bakteri ini menyerang beberapa bagian tubuh, menyebabkan komplikasi penyakit lainnya, dan mengakibatkan kematian.

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri 

Difteri merupakan penyakit kategori berbahaya. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri corynebacterium diphteriae, termasuk dalam bakteri basil gram positif bersifat aerob. Bakteri akan memproduksi toxin, yang menyerang tonsil, faring, laring, hidung (saluran pernafasan) dan kulit. Difteri juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang disebabkan oleh toxin, salah satunya miokraditis atau kerusakan jantung, menyerang konjungtivas (mata), serta genitalia. 

Dokter umum di RS Umum Sentra Medika Sanggau, Suci Purnamasari menyatakan difteri dapat dicegah, yakni melalui pembentukan imunitas yang didapat dari imunisasi. Menurut kajian Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), merebaknya kasus difteri belakang ini disebabkan cakupan imunisasi yang gagal mencapai target.  Ada beberapa masyarakat di berbagai provinsi di Indonesia yang melakukan negative campain sebagai gerakan anti-imunisasi. 

Selain hadirnya gerakan anti-imunisasi, adapula orang tua yang tidak membawa anak untuk mendapatkan imunisasi ulangan yang seharusnya diberikan. Atau, missed opportunity, dimana pemberian vaksin tidak sesuai jadwal dikarenakan anak sedang sakit ringan, serta kualitas vaksin yang berkaitan dengan cold chain di fasilitas kesehatan. Hal inilah yang menyebabkan pembentukan antibodi pada anak tidak maksimal.

“Sebuah penelitian prospektif case control di Georgia yang pernah saya baca menyatakan, tidak memberikan imunisasi jadi faktor risiko terkuat yang berhubungan dengan kejadian difteri,” ujarnya.

Suci menuturkan difteri dapat menyerang berbagai rentang usia. Namun, dari sekian banyak, difteri paling sering menyerang anak-anak, khususnya balita dan orang tua di atas 60 tahun. Penyakit ini juga mudah menular. 

Sumber penularannya bisa terjadi dari seseorang yang carrier (pembawa). Meski tidak sakit, tetapi dalam saluran nafas atau tubuhnya terdapat bakteri corynebacterium diphteriae. Seseorang carrier (pembawa) ini dengan mudah menularkan, baik pada orang sehat maupun sakit. Media penularannya bisa melewati hidung dan mulut, kontak kulit (khususnya pada kasus difteria kutaneus), makanan, serta kontak tidak langsung melalui benda-benda yang digunakan penderita difteri. Proses penularannya terbilang panjang, setelah bakteri masuk ke dalam tubuh, ia akan mengalami masa inkubasi selama dua hingga lima hari (rentang satu hingga 10 hari). 

Selama masa inkubasi bakteri di dalam tubuh ini, difteri tidak akan langsung menimbulkan gejala. Melainkan ketika inkubasi di dalam tubuh dirasa sudah cukup, mulai timbul gejala difteri. Gejala yang ditimbulkan berupa gejala lokal pada fokus infeksi, diakibatkan dari pembentukan pseudomembran dan gejala sistemik akibat penyebaran toxin melalui pembuluh darah. 

Berat atau ringannya gejala lokal difteri bergantung pada luasnya pembentukan pseudomembran oleh bakteri. Infeksi lokal pada tonsil hanya menimbulkan gejala ringan, seperti lemah, demam dengan suhu yang tidak terlalu tinggi, nyeri tenggorokan, pembengkakan kelenjar di leher. Akan tetapi, jika infeksi telah meluas ke area faring bagian belakang, langit-langit, sekitar glottis (pita suara) dan kesulitan menelan. Air liur akan menetes akibat sulit menelan.

Pembengkakan leher bagian depan yang lebih massif, sehingga memberikan tampilan leher seperti leher banteng (bullneck) yang menandakan klasik difteri. Bullneck sering diikuti dengan aktivitas mengorok akibat sumbatan jalan napas. Suara serak dan batuk menggonggong mengindikasikan pseudomembran telah meluas hingga ke laring. Penyakit yang berat dapat menyebabkan sesak, distress pernapasan hingga gagal napas. 

Alumnus Fakultas Kedokteran Universita Tanjungpura Pontianak ini menyatakan toksin yang diproduksi bakteri pada fokus infeksi dapat meluas ke berbagai organ melalui pembuluh darah dan menimbulkan gejala sistemik. Organ tubuh yang sering mengalami kerusakan jantung (menyebabkan miokarditis dan gangguan irama ringan hingga berat), sistem saraf (menyebabkan kelumpuhan), dan ginjal (menyebabkan gagal ginjal). 

Menurut data dari National Institutes for Communicable Disease tahun 2016, sebanyak 30 persen pasien yang mengalami gejala lokal akan mengalami gejala sistemik. Gejala sistemik tersering adalah gangguang jantung. Komplikasi difteri lainnya adalah, komplikasi saluran napas yang menyebabkan sumbatan jalan napas sehingga gagal napas. Komplikasi jantung menyebabkan miokarditis, aritmia (gangguan irama), gagal jantung, dan gagal sirkulasi. Komplikasi saraf, seperti kelumpuhan otot menelan, menyebabkan kesulitan menelan dan aspirasi (masuknya cairan atau isi lambung ke saluran napas), serta kelumpuhan anggota gerak ringan hingga total. 

“Dan komplikasi ginjal yang menyebabkan gagal ginjal juga tidak luput disebabkan oleh difteri,” tambah Suci. 

Pemberian vaksin pun menjadi sesuatu yang mutlak sebagai pencegahan terhadap difteri, khususnya imunisasi DPT satu, dua, dan tiga yang diberikan pada bayi usia dua, tiga dan empat bulan yang terjadwal pada imunisasi dasar. DPT empat dan lima diberikan pada usia bayi 18 bulan dan anak berusia lima tahun. Sedangkan, DTP enam dapat diberikan Td/Tdap pada rentang usia 10 hingga 12 tahun. 

“Adapun DPT empat, lima, dan enam merupakan imunisasi lanjutan. Booster Td diberikan setiap usia 10 tahun,” ungkapnya. 

Disamping itu, vaksin juga diberikan pada individu-individu yang kontak dengan pasien difteri. Vaksin diberikan sesuai dengan status imunisasi masing-masing (minimal mendapatkan booster). Fungsi diberikannya vaksin setelah kontak adalah untuk mencegah agar tidak menderita difteri, bukan untuk mengobati difteri.** 

Berita Terkait