Industri Kayu Lapis yang Masih Bertahan

Industri Kayu Lapis yang Masih Bertahan

  Minggu, 10 April 2016 14:52
LOGGING: Ratusan batang kayu gelondongan berbagai jenis ini menjadi pemandangan tersendiri jika kita melintasi sungai Kapuas di area perusahaan PT Erna, Kabupaten Sanggau.

Berita Terkait

MATAHARI mulai menyingsing saat kami tiba di Kabupaten Sanggau, sebuah kabupaten yang juga dilalui oleh sungai-sungai besar, seperti Sungai Kapuas dan Sungai Sekayam. Dimana sungai Sekayam ini hulunya berada di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia (Serawak).

Sejak jaman dulu Sungai Kapuas sudah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya. Selain untuk aktivitas mandi dan  mencuci, Sungai Kapuas sampai saat ini juga masih menjadi penopang perekonomian masyarakat di Kalimantan Barat pada umumnya. Salah satunya menjadi jalur transportasi bagi kapal-kapal tongkang dan perahu.

Kapal-kapal tongkang yang melewati sungai Kapuas, selain membawa hasil kayu dari hulu ke muara, juga membawa CPO (crude palm oil) dari pabrik-pabrik kelapa sawit yang ada. Sedangkan perahu yang melintasi sungai Kapuas biasanya mengangkut bahan kebutuhan pokok dan hasil-hasil pertanian seperti karet dan kebutuhan rumah tangga, seperti sembako.

Memasuki kabupaten ini, saya rasanya hampir tak percaya. Ternyata sudah 36 jam lebih saya berada di Bandong KM Cahaya Borneo ini. Kapal legendaries dari masa ke masa.

Juanda, sang juru mudi tak henti-hentinya memutar kendali kapal. Sejak pagi tadi, ia hanya beristirahat saat menjelang adzan dzuhur. Kemudian kembali melanjutkan tugasnya. Duduk di kursi kemudi. Matanya terus menatap ke depan sesekali tengok kanan-kiri.

Meski usianya senja, yaitu 66 tahun. Juanda cukup cakap dalam mengendalikan kapal. Matanya begitu awas melihat situasi. Apalagi di daerah itu kerap sekali lalu lintas perahu motor. Beberapa kapal penambang pasir yang melakukan operasi di tengah sungai.

Dari kejauhan, kepulan asap membumbung tinggi dari cerobongnya. Terberai bersama angin. “Itu PT. Erna Djuliawati,” kata Juanda kepada saya.

Seperti diketahui, PT. Erna Djuliawati merupakan perusahaan kayu lapis yang masih bertahan hingga sekarang. Bahkan perusahaan yang terletak di pinggiran Sungai Kapuas ini salah satu perusahaan yang mendapat fasilitas sebagai kawasan Berikat yang memproduksi kayu lapis dengan tujuan atau oriantasi eksport ke beberapa Negara seperti, Jepang, Hongkong, India, Malaysia dan beberapa Negara lainnya.

Perusahaan merupakan perusahaan padat karya dengan memperkerjakan tenaga kerja lebih kurang 5.500 karyawan, yang masih tetap bertahan hingga kini ditengah gejolak perekonomian dunia yang tidak menentu.

Berdasarkan data, tahun 2015 ini (Oktober), PT. Erna Djuliawati memberikan kontribusi Devisa Impor sebesar USD 5.404.533 dan untuk ekspor kontribusi Devisi Ekspor sebesar USD 71.759.286 dengan tonase ekspor sebesar 70.027.383 Kg.

Wow luar biasa. Saya sendiri pernah melihat secara langsung bagaimana perusahaan ini memproduksi kayu lapis kelas eksport. Dengan kecanggihan mesin yang dimiliki, sekejap, perusahaan ini mampu memproduksi ratusan kayu lapis.

Terlepas dari itu semua, tiba-tiba pandangan mata saya teralihkan dengan ribuan kayu (log) yang berjejer menyerupai rakit di pinggiran sungai tak jauh dari perusahaan itu. Menurut Juanda, kayu-kayu itu milik PT. Erna yang siap diolah menjadi kayu lapis.

Jujur saya terkesan dengan pemandangan di depan mata saya itu. Saya pun langsung mengambil kamera dan mengabadikannya.   Waktu terus berjalan seiring jarum jam. Saya tak henti-hentinya mengamati sekeliling saya. Juanda, sang juru mudi masih saja memutar kendali kapal. Dua diantara anak buah kapal sedang terlelap tidur, dua lainnya melakukan aktivitas apa yang bisa dilakukannya. Sedangkan Jumi’an alias Anai sang juragan sedang asyik bermain game dengan anak dan istrinya. Mungkin itu salah satu untuk mengusir kebosanan selama perjalanan.(arief nugroho)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait