Indonesia Mencari Pahlawan Penegak Moral

Indonesia Mencari Pahlawan Penegak Moral

  Rabu, 11 November 2015 08:42   409

Leo Sutrisno

DALAM bukunya yang berjudul ‘Dominasi penuh muslihat’, Haryatmoko (2010) mengilustrasikan sejumlah dominasi yang berakibat negatif.  Diantaranya adalah: dominasi kejahatan politik, dominasi agama, dominasi gender melalui wacana, dominasi simbolis dalam pendidikan, dan dominasi kapital. Karena sifat manipulatifnya  dominasi ini mengakibatkan ketidakadilan, diskriminasi dan kekerasan.

Ketidakadilan, diskriminasi dan kekerasan selalu menimbulkan korban. Korban itu dapat berupa perorangan atau kelompok baik etnis, agama, minoritas, maupun kelompok marginal. Secara faktual korban dirugikan dan secara struktural korban diposisisikan pada pihak yang lemah. Karena itu, korban tidak dapat membela diri dan tanpa perlindungan. Korban berada dalam posisi didominasi.

Melalui berbagai muslihatnya, dominasi sering tidak dirasakan lagi oleh korbannya, bahkan justru disetujui karena telah dibatinkan dalam dirinya. Si korban menjadi ‘terlena’ dan merasa nyaman dalam ketidakberdayaannya.

Sebagian besar masyarakat Indonesia sebanarnya berada pada posisi menerima dominasi simbolis yang penuh muslihat ini. Ambil salah satu dominasi di bidang ekonomi, misalnya. Dewasa ini, banyak orang Indonesia yang merasa belum nyaman kalau belum mengunggah ‘status’-nya di media sosial. Orang dengan ringan hati melepas uang lembaran puluhan ribu demi sejumlah pulsa bagi HP-nya.

Selain itu, ukuran keberhasilan hidup digunakan oleh sebagian besar orang Indonesia adalah seberapa besar  materi yang dapat ditimbun. Sehingga, meminjam kata-kata Emha Ainun Najib, ‘orang dinilai oleh dasi yang dipakainya atau oleh kursi yang didudukinya’.

Dominasi di dalam pendidikan juga melanda sebagian peserta didik dari jenjang pra-sekolah hingga jenjang strata-3. Mereka merasa nyaman dan puas jika sudah berhasil ‘menirukan’ kembali apa yang diajarkan oleh guru atau dosennya. Akibatnya, banyak orang yang berpendidikan lebih sebagai mesin reproduksi, seperti beo,  ketimbang sebagai mesin produksi.

Dalam wacana jender,  banyak perempuan menjadi cukup bahagia jika menjadi orang nomor dua ke bawah. Dengan berbagai muslihat yang diciptakan oleh lawan jenisnya, para perempuan ini lebih merasa nyaman jika diposisikan sebagai burung di dalam sangkar emas. Sehingga, perlahan tetapi pasti, mereka kehilangan kemampuan mengepakkan sayap-sayapnya.

Di bidang agama dapat terlihat korban-korban kekerasan akibat cara berpikir binair para pemeluknya, ‘agamaku yang benar dan agamamu yang salah’. Mereka ini dengan nyaman mengembangkan cara berpikir dengan paradigma tunggal. Cara berpikir ini terjadi karena rasa patuh mereka terhadap ‘penguasa’.

Di bidang politik juga terjadi dominasi dalam berbagai bentuk kejahatan. Fokus kejahatan politik adalah konstruksi simbolik akan hasrat untuk menjadi lebih unggul dari yang lain. Konstruksi simbolik seperti ini menghasilkan kepemilikan, si pemilik  dan yang bukan, yang unggul dan yang bukan unggul. Kekerasan  muncul ketika si pemilik ‘menumpas’ dan ‘merampas’ hak-hak dari yang bukan pemilik.

Kini, kekerasan sungguh memenuhi kepala. Akibatnya, banyak korban yang sungguh tidak berdaya. Bayangkan, ada dosen yang sering mendapat ‘teror’ gara-gara tidak mau kompromi kepada tindak plagiat dan penyontekan. Akibatnya, si dosen tersebut memilih untuk mengundurkan diri dari mengajar.

Di dalam masyarakat umum, sungguh untuk hidup jujur. “Yang jujur tidak mujur” merupakan ungkapan yang secara diam-diam diamini oleh banyak orang dan sekaligus digunakan untuk pembenaran tindak ketidakjujurannya.

Sekarang ini, menjadi orang baik ternyata sebuah pilihan yang keliru. Mereka yang hidup baik termarjinalisasi, teraleniasi tentu saja terisolasi. Akibatnya, tidak banyak orang yang berani hidup baik secara kasat mata.Orang-orang asketis menjadi sangat langka. Orang-orang semacam ini akan menjadi omongan dan olokan. Karena itu, sekarang ini, Indonesia memerlukan pahlawan-pahlawan yang berani ‘mati’ memerangi dominasi-dominasi simbolis yang penuh muslihat itu. Pahlawan-pahlawan yang dapat memberdayakan orang Indonesia untuk berani hidup baik, berani hidup jujur, berani menepuh jalan asketis. Semoga!**