Indikasi Sengaja Dibakar, Lima Warga Ditangkap

Indikasi Sengaja Dibakar, Lima Warga Ditangkap

  Selasa, 23 Agustus 2016 09:30
PADAMKAN API: Membuka lahan dengan membakar lahan masih dilakukan sebagian masyarakat, terlihat warga dibantu pemadam kebakaran Kota Pontianak sedang memadamkan api di lahan yang terbakar di Jalan Parit H. Husin 2, Senin (22/8). MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Wali Kota Pontianak Sutarmidji mengindikasikan, ada unsur kesengajaan yang dilakukan pihak tertentu terkait kebakaran lahan di Pontianak. Bahkan muncul indikasi lain bahwa lahan sengaja dibakar oleh pengembang (developer) untuk membuka lahan perumahan baru. 

“Saya pastikan jika di Pontianak ini lahan dibakar, bukan terbakar,” ungkap Sutarmdiji di Pontianak, Senin (22/8). 

Sebab, lanjut dia, jika yang dibakar adalah lahan untuk berladang, maka hanya ada di daerah tertentu saja. Bisa dibilang sebagian kecil saja wilayah kota ini yang terdapat ladang. Misalnya di pinggiran Kecamatan Pontianak Utara. “Tapi ada indikasi lain yaitu developer melakukan pembersihan lahan untuk membangun perumahan dengan cara dibakar,” terangnya.

Jika demikian, orang nomor satu di Pemkot Pontianak ini akan melakukan tindakan tegas. Apabila terbukti ada pihak developer yang bertindak demikian, maka izinnya akan dibekukan. “Sanksinya, yang bersangkutan tidak saya izinkan untuk membangun perumahan selama tiga tahun,” tegasnya.

Selain itu, akan ada sanksi lainnya berupa denda sebesar biaya yang dikeluarkan untuk memadamkan api. Dia juga meminta lahan-lahan yang terbakar itu dipasang plang yang menunjukkan bahwa lahan tersebut sedang dalam pengawasan pemkot.

“Kemudian bagi pelaku yang disuruh membakar, jika tidak ada pasal pidana umum yang dapat menjeratnya maka saya minta ditipiring dan dijatuhkan hukuman denda sebesar-besarnya. Kami akan tegas saja seperti itu,” tambahnya. 

Mengenai penanggulangan karhutla, wali kota yang telah menjabat dua periode ini juga akan cepat merespon keluhan damkar swasta. Menurutnya selama ini damkar swasta sudah banyak membantu melakukan pemadaman bencana kebakaran. Dia pun berjanji akan cepat merealisasikan hibah untuk damkar swasta yang ada di Pontianak. 

“Nanti ada hibah, begitu perubahan anggaran selesai kami akan merealisasikan supaya mereka (damkar) bisa sedikit terbantu. Karena mereka repot juga, sudahlah tenaga suka rela, biaya operasionalnya juga besar,” ujarnya. 

Untuk besaran anggaran hibah tersebut Sutarmdiji mengatakan, belum bisa memastikan angkanya. “Saya belum tahu ada berapa ratus juta, tidak besar, tapi Insyallah ada,” katanya.

Sutarmidji menilai terjadinya bencana kabut asap juga disebabkan perilaku masyarakat yang tidak peduli. Banyak yang cuek ketika ada lahan terbakar, padahal lokasnya dekat dengan pemukiman. 

“Ketika apinya sudah besar barulah ribut, tapi waktu lihat orang bakar dia (masyarakat) diam-diam saja. Coba waktu lihat orang bakar tangkap ramai-ramai, ini malah dibiarkan,” kesalnya.

Sutarmidji mengapresiasi salah satu ide antisipasi penyebaran kebakaran lahan, yaitu membuat batas dengan menanam botol-botol berisi air di sekeliling wilayah perumahan. “Saya dukung ide kreatif seperti itu, idenya bagus, asal harus benar caranya, karena sekalian bisa mengurangi sampah plastik,” pungkasnya. 

Sementara itu, sudah sepekan musibah karhutla terjadi di Kalbar. Di Pontianak tercatat 36 titik dengan luas kebakaran diperkirakan mencapai 10 hektare. Lima warga yang diduga melakukan pembakaran sudah ditangkap. 

Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyatakan, di sejumlah kecamatan di Pontianak menjadi lokasi Karhutla. Hasil pantauannya, disebabkan oleh petani yang membuka lahan dengan cara membakar. Ada juga, yang sengaja membakar untuk kepentingan pribadi, seperti membuka lahan untuk dibuat perumahan. 

“Dalam seminggu ini, sudah 36 titik karhutla di terjadi Pontianak. Ada lima orang sudah dilakukan penahanan,” kata Edi Kamtono, Senin (22/8).     

Lima orang yang sudah ditahan diantaranya pemilik tanah dan petani. Modusnya, kata Edi, pemilik tanah hendak membuat rumah, lahan yang ingin ditempati tersebut, lantas dibakar. Sementara petani, melakukan pembakaran untuk menanam sayur dan lain sebagainya. 

“Kalau yang apinya masih kecil, kami minta dipadamkan, dan diberikan peringatan. Ada yang sengaja bakar, hingga meluas. Itu kami tahan, sampai lima hari tidak padam. Ini harus ada tindakan hukum,” tegasnya. 

Kepala BPBD Kota Pontianak Aswin Taufiek menyebut, kawasan paling rentan karhutla di Pontianak Utara dan Selatan. Namun, yang paling berat, kata dia, di Pontianak Tenggara. 

“Pada bulan Maret-April, laporannya dua kali kejadian. Tapi bulan Agustus, kami mendapatkan angka 34 kejadian karhutla. Dalam sehari, ada tujuh kali,” ungkapnya. 

Dari sejumlah kasus karhutla, Aswin menyebut ada unsur kesengajaan. Saat memantau di lapangan, dia melihat patok pembatas dalam lingkaran bekas lahan terbakar. Ini, kata membuktikan warga sengaja membuka lahan untuk dibangun perumahan dengan cara dibakar. 

“Tahap awal kami sudah patrol. Kita edukasi dengan Polsek, Koramil melakukan edukasi, tapi tidak berhasil. Mereka yang melakukan pembakaran lahan sudah kami tangkap, jadi sudah lima kami tangkap. Tadi malam ada dua orang, warga Pontianak Timur, kami belum tahu motifnya apa,” sebutnya. 

Aswin memperkirakan, luas karhutla yang terjadi di Pontianak sekitar 10 hektare dan 36 titik. Sejauh ini, BPBD bekerjasama dengan pemadam swasta sudah berjibaku memadamkan api. “Ada helikopter BNPB yang bisa water booming, apabila diluar kawasan, BPBD bisa mengajukan. cukup bisa via telpon kita bisa water booming,” tukasnya.(gus) 

Berita Terkait