Imunisasi Tak Optimal, Difteri Kian Merebak

Imunisasi Tak Optimal, Difteri Kian Merebak

  Selasa, 12 December 2017 10:00

Berita Terkait

PONTIANAK - Jangkauan imunisasi penta yang kurang dianggap sebagai penyebab merebaknya penyakit difteri. Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan kuman bakteri corynebacterium diphtheria.

Kuman itu menyerang faring, laring atau tonsil. Difteri menimbulkan gejala dan tanda berupa demam + 38º C. Munculnya Pseudomembran di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan dan tak mudah lepas serta mudah berdarah, sakit waktu menelan, serta leher membengkak seperti leher sapi (bullneck) akibat pembengkakan kelenjar getah bening di leher. Selain itu terjadi pula sesak nafas disertai suara mendengkur (stridor).

Di Kalbar ada tujuh kasus penyakit difteri. Satu kasus dinyatakan positif dan sisanya masih berupa suspect atau dugaan penyakit difteri. Ini merupakan data kasus hingga pekan ke-49 tahun ini, atau November 2017.

Di kabupaten/kota, Kubu Raya dianggap mendapat status KLB penyakit difteri. Sebab di daerah ini, satu orang meninggal dunia akibat penyakit difteri berusia enam tahun. Korban yang meninggal dunia merupakan warga Sungai Rengas, Kabupaten Kubu Raya, pada Mei 2017.

“Meskipun hanya satu tapi sudah positif maka bisa dinyatakan KLB,” kata Kepala Bidang pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kalbar, Marsalena di Pontianak, kemarin.

Di pusat juga, Kementerian Kesehatan juga sudah merilis data kejadian luar biasa (KLB) penyakit difteri per November 2017. Dari seluruh provinsi di Indonesia, Jawa Timur menduduki peringkat pertama dengan jumlah 271 kasus dan 11 kematian. Jawa Barat menyusul dengan jumlah 95 kasus dan 10 kematian, dan Banten di peringkat ketiga dengan jumlah 81 kasus dan tiga kematian.

“Kalbar belum semoga saja tidak, tetapi bisa saja KLB ketika beberapa kabupaten juga mendapat status KLB. Seperti pada kasus rabies,” ujar Marsalena.

Merebaknya kasus ini juga tidak bisa lepas dari tidak optimalnya pemberian imunisasi. Secara nasional capaian imunisasi dalam skala satu tahun haruslah 95 persen. Angka itu cukup sulit tercapai bagi 14 kabupaten/kota se-Kalimantan Barat. Untuk periode September saja, cakupan Penta (imunisasi) tidak sampai target.

Dari target 71,3 persen, ada 11 kabupaten/kota yang tidak mencapai. Cakupannya hanya berkisar antara 48,0 persen hingga 70,2 persen. Hanya satu kabupaten saja yang cakupan Penta di bulan September melebihi target yakni di Kabupaten Sanggau sebesar 106,1 persen.

“Sebelum tercapai saja sudah kecolongan dan tentu saja bisa menjadi status KLB karena penularan difteri sangat cepat. Apalagi pada daerah yang rendah imunisasi,” kata dia. Namun selain capaian kualitas vaksin dan kualitas rantai dingin harus baik, dan cara pemberian vaksin harus tepat dan benar.

Marsalena mengakui rendahnya cakupan imunisasi itu karena mendapat penolakan dari masyarakat. Penolakan itu berkaitan dengan kehalalan dan keharaman sumber asal vaksin serta pengaruh dari budaya masyarakat.

“Pemerintah sudah berusaha keras tapi penolakan itu dari masyarakat. Mereka curiga halal dan haram vaksin, lalu budaya dari kelompok tertentu yang tidak mau memvaksin anak-anaknya. Harapan kami masyarakat percaya dengan pemerintah melalui layanan yang disiapkan untuk imunisasi,” jelas Marsalena.

Imunisasi penta sebenarnya harus dilakukan sebanyak tujuh kali. Tahapan itu diantaranya imunisasi dasar pada bayi (di bawah satu tahun) sebanyak tiga dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak satu bulan. Selanjutnya, diberikan Imunisasi Lanjutan (booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak satu dosis vaksin DPT-HB-Hib.

Kemudian pada anak sekolah tingkat dasar kelas satu diberikan satu dosis vaksin DT. Lalu pada murid kelas dua diberikan satu dosis vaksin Td. Setelah itu pada murid kelas lima diberikan satu dosis vaksin  Td.

“Imunisasi harus lengkap dan tidak boleh bolong. Jika bolong maka ada kemungkinan kuat terkena difteri,” ujar Marsalena.

Lalu imunisasi juga diberikan pda wanita usia subur (calon pengantin dan ibu hamil) denga satu dosis vaksin Td atau bila status imunisasinya tidak lengkap diberikan dua dosis vaksin Td dengan jarak satu bulan.

Imunisasi dianggap menjadi benteng terkuat agar tidak tertular penyakit difteri. Alasannya penyakit ini menyerang orang yang tidak mempunyai kekebalan terutama anak. Akan tetapi dapat juga menyerang orang dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi Difteri atau telah mendapat imunisasi Difteri tetapi tidak lengkap.

Masa inkubasi difteri adalah dua hingga lima hari dengan masa penularan beragam. Dapat juga selama dua minggu, kurang dari dua minggu, atau lebih dari empat minggu. Penularan terjadi melalui droplet infection (percikan ludah) dari kasus  Difteri atau carrier. Terapi antibiotik yang efektif dapat mengurangi penularan.

Difteri merupakan penyakit serius dengan angka kematian rata-rata 5 hingga 10 persen pada anak usia kurang lima tahun. Artinya dari setiap 100 anak yang sakit Difteri, sekitar 5 sampai 10 orang di antaranya dapat meninggal dunia. Pada orang dewasa di atas 40 tahun, angka kematian mencapai 20 persen.

Ada tiga jenis kasus Difteri, yaitu kasus konfirmasi Difteri, kasus carrier Difteri, dan kasus kontak difteri. Kasus konfirmasi Difteri adalah orang dengan gejala klinis Difteri dan hasil laboratorium apus tenggoroknya menunjukkan hasil positif Corynebacterium diphtheriae.

Kasus carrier Difteri adalah kontak kasus yang tidak menunjukkan gejala Difteri, tetapi hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan positif untuk Corynebacterium diphtheriae. Carrier kronis dapat menularkan penyakit sampai enam bulan. Kasus carrier harus mendapat pengobatan antibiotika sampai hasil laboratoriumnya menunjukkan negatif. (mse)

Ingatkan Orang Tua Imunisasi ...

Berita Terkait