Impor 500 Guru Besar Asing

Impor 500 Guru Besar Asing

  Sabtu, 15 Oktober 2016 08:49

Berita Terkait

JAKARTA – Tidak semua yang berbau impor buruk. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M. Nasir pun punya sikap demikian. Dia akan mendatangkan ratusan guru besar untuk mendorong perguruan tinggi Indonesia masuk di ranking dunia.

Niat itu dikemukakan mantan Rektor Universitas Diponegoro tersebut kemarin (14/10). Dia mengatakan, pada tahap pertama nanti, 200–500 guru besar asing datang ke Indonesia. Mereka berasal dari Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Inggris, Australia, Jepang, dan Korea Selatan.

”Amerika bahkan sudah menyiapkan modelnya,” katanya. ”Kalau Inggris masih dalam pembicaraan, tapi mereka sudah sepakat. Nanti kita diundang ke sana untuk melihat programnya,” ujar Nasir di Jakarta kemarin.

Untuk memuluskan rencana itu, Nasir sudah melakukan pembicaraan dengan kementerian/lembaga terkait. Bersama Kementerian Keuangan untuk rencana anggaran. Kementerian Hukum dan HAM terkait penerbitan visa. Lalu, Kementerian Ketenagakerjaan untuk masalah izin. Pihaknya juga sudah berunding dengan perwakilan perguruan tinggi.

”Kami jelaskan bahwa ini bukan semata-mata nyari uang, tapi pengembangan akademik untuk membantu kami mendorong perguruan tinggi masuk kelas dunia,” paparnya.

Bila pengajuan anggaran disetujui, lanjut dia, program langsung tancap gas pada 2017. Para guru besar itu akan tinggal 2–3 tahun di Indonesia. Tugas mereka difokuskan untuk membimbing mahasiswa program doktor. Selain membantu meraih gelar doktor bimbingannya, mereka diminta membantu publikasi internasional dari hasil yang diperoleh.

”Target kami untuk meningkatkan program doktor dan publikasi internasional. Juga, kerja sama riset antar perguruan tinggi,” papar guru besar di bidang behavioral accounting dan management accounting itu.

Nanti pun tidak semua perguruan tinggi langsung dilibatkan. Kemenristekdikti akan menyeleksi perguruan tinggi mana yang siap. Dengan demikian, mereka bisa secara serempak masuk di kancah internasional. ”Kami lihat mana yang siap kami dorong ke perguruan tinggi kelas dunia,” ungkapnya.

Diakui, keterlibatan guru besar asing itu bisa sangat membantu memperkecil kesenjangan. Banyak ilmu baru yang bisa ditransfer oleh mereka. ”Indonesia tidak bisa berkembang lebih cepat kalau kita tidak melakukan kolaborasi sistem pendidikan ini. Kita sudah tidak bisa menggunakan cara lama,” katanya.

Rektor Universitas Tanjungpura (Untan) Thamrin Usman mengatakan, gerbang kampusnya terbuka buat kedatangan para guru besar (gubes) dari luar negeri. Dia berharap gubes yang diimpor berasal dari rumpun sains dan teknologi (saintek). ”Khususnya sains dasar dan teknologi sesuai kebutuhan daerah,” jelasnya.

Usman mengatakan, jumlah gubes di kampusnya saat ini 33 orang. Mereka terbagi ke semua rumpun bidang keilmuan. Usman berharap pemerintah bisa menegaskan posisi gubes impor apakah akan masuk hitung-hitungan akreditasi atau tidak.

Usman juga berharap tetap ada rambu-rambu untuk gubes asing. Di antaranya, para gubes itu siap berbagi pengalaman dengan para dosen dan mahasiswa di kampus yang menampung. Selanjutnya, tidak mengganggu anggaran Kemristekdikti serta ditempatkan di PTN dengan akreditasi institusi C dan B. Dengan demikian, mereka bisa mengangkat akreditasi institusi menjadi B atau A. ”Jangan lupa juga harus ada kontrak kinerja,” jelasnya. Jika aspek-aspek itu dijalankan, kalangan PTN bakal terbuka menerima gubes asing.

Dukungan serupa dikemukakan Rektor Universitas Andalas (2011–2015) Werry Darta Taifur. Menurut dia, program itu baik lantaran bisa meningkatkan akademik perguruan tinggi di Indonesia. ”Selain itu, bisa meningkatkan akses perguruan tinggi ke dunia internasional, terutama perguruan tinggi di daerah, karena selama ini susah. Mereka biasanya hanya mau dengan yang sudah maju,” ungkapnya.

Namun, ada catatan yang harus jadi perhatian pemerintah. Yakni, seleksi dari para guru besar itu. Dia berharap guru besar yang didatangkan lebih diprioritaskan untuk program-program yang belum memiliki guru besar. Di Universitas Andalas, misalnya, hingga kini belum ada guru besar untuk jurusan perawat dan kedokteran gigi. (mia/wan/c10/ang) 

Berita Terkait