Imigrasi Deportasi 15 Warga India dan Filipina

Imigrasi Deportasi 15 Warga India dan Filipina

  Minggu, 29 November 2015 08:44
GHOFUR EKA/JAWA POS

Berita Terkait

SURABAYA – Jumlah warga negara asing (WNA) yang dideportasi terus bertambah. Kemarin (28/11) Kantor Imigrasi Kelas I Tanjung Perak memulangkan 15 WNA ke negara asalnya. Sebagian besar mereka adalah WNA pekerja yang diamankan dalam operasi dengan sandi Bhumi Pura Wira Wibawa bulan lalu.

Para WNA itu dipulangkan melalui jalur udara. Ada 12 WNA yang kembali ke Filipina, sedangkan tiga lainnya ke India. Mereka diterbangkan dari Bandara Internasional Juanda dengan menggunakan maskapai berbeda.

Sembilan orang menuju Singapura untuk transit menggunakan Silk Air pada pukul 18.40. Enam orang lainnya memakai maskapai AirAsia dengan tujuan Kuala Lumpur pada pukul 18.25.

Para WNA bertolak ke negara mereka dengan pengawalan petugas imigrasi hingga Bandara Juanda. Pengawalan itu hanya dilakukan sebagai bentuk pengamanan yang biasa, bahkan lebih mirip petugas pengantar. Tidak berupa pengamanan ketat seperti saat narapidana (napi) diterbangkan ke kota atau negara lain.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Tanjung Perak Saffar Muhammad Godam mengatakan, deportasi terhadap para WNA tersebut sudah sesuai dengan ketentuan. Sebanyak 12 WNA yang dipulangkan itu melanggar Undang-Undang Keimigrasian.

Salah satunya adalah menyalahi izin tinggal. Artinya, para WNA tersebut melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan izin yang diberikan pihak imigrasi. Misalnya, izin yang dimiliki di Indonesia untuk berwisata, tapi ternyata digunakan untuk bekerja. Ada juga yang izinnya sekolah, tapi untuk bekerja demi mendapatkan penghasilan. Bahkan, ada WNA yang izinnya berkumpul dengan keluarga, tapi ternyata membuka usaha.

Untuk WNA yang dipulangkan kemarin, sebagian besar menyalahi izin tinggal karena bekerja. Setelah dideportasi, mereka bisa kembali ke Indonesia setelah masa tangkal habis. Jangka waktunya bisa sampai enam bulan. ”Masa tangkal tidak berlaku seumur hidup,” tegas Godam.

Meski demikian, tetap ada pengecualian masa tangkal untuk pelanggaran khusus. Yang paling utama, WNA yang terjerat kasus narkoba dan menjadi narapidana di Indonesia. Setelah menjalani pidana dan kembali ke negara asal, mereka tidak bisa balik lagi ke Indonesia selamanya.  (may/c7/fat)

Berita Terkait