IMF Koreksi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

IMF Koreksi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

  Sabtu, 18 November 2017 10:00

Berita Terkait

JAKARTA - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini, dari 5,2 menjadi 5,1 persen. Perwakilan IMF Luis E. Breuer menyatakan, pada tahun depan, ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh di angka 5,3 persen.

Pertumbuhan ekonomi tersebut didukung pencapaian kinerja ekspor yang sangat baik dan investasi. Selanjutnya, konsumsi rumah tangga yang sempat melambat diperkirakan kembali meningkat seiring dengan kenaikan pertumbuhan kredit.

Untuk itu, IMF memprediksi inflasi akhir tahun ini tetap rendah di kisaran 3,7 persen pada 2017 dan 3,6 persen tahun depan. Sementara itu, defisit neraca berjalan diharapkan tetap berada di kisaran 1,7 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2017 dan 1,9 persen pada 2018.

’’Risiko yang perlu diwaspadai pemerintah Indonesia berasal dari faktor eksternal. Di antaranya, ancaman dana keluar, pertumbuhan Tiongkok yang melambat, dan kondisi geopolitik,’’ katanya, kemarin (16/11).

Sementara itu, risiko domestik meliputi tidak tercapainya target penerimaan pajak dan kondisi pengencangan finansial global yang bisa berpengaruh pada suku bunga di Indonesia.

IMF menilai, untuk mengantisipasi sejumlah risiko eksternal dan internal tersebut, pemerintah Indonesia sebaiknya memberlakukan kebijakan jangka menengah yang menyeimbangkan buat mendukung pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitasnya.

Sementara itu, kebijakan fiskal harus kembali membangun bantalan guna menjaga stabilitas.

Mengenai laporan IMF tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan, prediksi itu tidak jauh berbeda dengan proyeksi pemerintah. Bahkan, dia menilai IMF justru lebih optimistis konsumsi rumah tangga bisa tumbuh sampai lima persen tahun ini.

Sementara itu, untuk proyeksi ekspor dan investasi, IMF cenderung lebih hati-hati. Soal ekspor, lanjut Sri Mulyani, kinerjanya cukup bagus pada kuartal ketiga ini. Padahal, kinerja ekspor negatif pada 2016.’’Kami melihat momentum tersebut sebagai kesempatan,’’ katanya. (ken/c22/sof)

Berita Terkait