Ikan Toman - Channa Micropeltes

Ikan Toman - Channa Micropeltes

Senin, 28 March 2016 09:16   2,963
mancingmania.com

BALAI Pengelolaan Sumber Daya Pantai dan Laut (BPSDPL) Pontianak, 2009, menyatakan bahwa keberadaan sejumlah ikan langka, misalnya: Parang-parang, Ringau, dan Seluang Batu, di Kalimantan Barat mulai terancam punah. Salah satu ancaman itu berupa  penangkapan ikan-ikan berukuran kecil menggunakan alat tangkap merusak (bubu waring) yang digunakan untuk pakan alami budidaya ikan Toman. Ikan Toman merupakan salah satu ikan yang dibudidayakan di kawasan danau Sentarum (Kompas TV, Kompas.com 6 November 2013).

Dalam Wikipedia disebutkan ikan Toman termasuk sejenis ikan buas dari suku ikan gabus (Channidae). Bentuk tubuhnya mirip dengan ikan gabus. Ikan Toman merupakan spesies yang terbesar dalam suku ikan Gabus. Di habitatnya ikan Tman dapat tumbuh besar hingga lebih dari satu meter panjangnya.

Dalam bahasa Inggris ikan Toman dikenal sebagai red snakehead, redline snakehead atau Malabar snakehead. Istilah ‘snakehead ‘ mengacu pada bentuk kepalanya yang menyerupai kepala ular. Allen Benziger bersama 13 anggota yang lain dari timnya, 2013, memperbaiki dan memvalidasi taksonomi ikan Tomang ini setelah 146 tahun dibuat untuk pertama kali.

Ikan Toman tersebar di Sumatra, dan Kalimantan, Dilaporkan ikan ini juga terdapat di Malaysia, Thailand, Laos, Vietnam, India, dan mungkin pula Myanmar dan di India.  Ikan ini diperkirakan dibawa masuk ke India oleh manusia sebelum abad ke-19.

Keberadaan ikan ini memang ditakuti oleh banyak orang. Helen Fields, Smithsonian Magazine,  2005, menurunkan artikelnya dengan judul ‘Infasi ikan Toman’. Kemunculan ikan Toman di Sungai Potomac, di danau Michigan dan di danau California, menimbulkan rasa ketakutan yang tinggi masyarakat sekitar.

Penelitian tentang ikan Toman juga dikembangkan oleh Alison M. Murray dari Departmen ‘Biological Sciences’, Universitas Alberta Edmonton, Kanada. Pada 2012, ia mempelajari biografi dan hubungan antara fosil dengan kehidupan ikan Toman Afrika (African Snakehead Fishes). Ia mendokumentasikan osteologi ikan Toman Afrika sebagai dasar studi filogenetik hubungan antara fosil Afrika dan kehidupan ikan Toman Afrika.

Sajan Sajeevan, dan Anna Mercy T. Varkey (Universitas perikanan  dan Kelautan Kerala, India), serta Mithun Sukumaran (Politeknik Temasek, Sungapura), 2014, menemukan ikan Toman (1.5 m) di sungai Valapattanam, barat laut Kerala (11.93° N, 75.30° E), India, pada 15 Maret 2013. Mereka menyatakan, ikan jenis ini sekarang memasuki pasar internasional sebagai ikan hias, akuarium. Namun, akan sangat membahayakan karena sejumlah penggemar juga membuang ikan ini ke sungai. Padahal, keberadaannya sering bersifat predator bagi sejumlah ikan yang lain.

Charles PH. Simanjuntak,  M. F. Rahardjo dan Sutrisno Sukimin dari IPB, 2006, menemukan 9 spesies ikan gabus di banjiran Sungai Kampar kiri. Tenuan ini merupakan sekitar 10% dari 86 spesies ikan yang mewakili 21 famili dan 44 genera yang terkoleksi dalam penelitian itu

Resfiza, Muslim, dan Ade Dwi Sasanti dari Fakultas Pertanian UNSRI, 2014, meneliti perbedaan jumlah kromosom Ikan Toman (Channa micropeltes) Dan ikan Serandang (Channa pleuropthalmus). Mereka menemukan perbedaan jumlah kromosom dari dua spesies ikan genus Channa ini.   Jumlah kromosom C. Micropeltes berkisar berkisar  40-50, dan C. Pleuropthalmus berkisar 43-46.

Karena bentuknya yang menakutkan dan sifat-sifatnya sebagai preditor ini, ikan jenis ini (ikan kotes – ikan gabus) justru pernah diangkat ke dalam salah satu bentuk renungan religius. Dibayangkan ikan ‘kotes’ sedang berada di sebuah kolam. Berenang-renang kian kemari. Tak ada kesan menakutkan, dia terlihat tenang dan pasrah. Belang di badannya malah menjadi hiasannya.  Tidak ada kesan buas dan serakah. Kepalanya yang bulat bersisik seperti ular malah menjadi ciri khasnya. Tanpa air memang kelihatan jelek. Tetapi di dalam air yang jernih ia tampak indah. Airlah yang mengubah kesan dia.

“Memang kami sendiri ikan kotes (Toman) itu. Kami ini jelek dan jahat. Badan kami bersisik dosa. Kami rakus, serakah, dan suka melukai sesama. Kehadiran kami di tengah sesama sering menjadi hama. Kamilah ikan sombong itu. Kemegahan kami tidak punya daya tahan, dikelabui godaan apa saja. Kamilah ikan seperti ular itu, kami ditakuti sesama. Kepala kami penuh dengan pikiran kejahatan dan kelicikan. Kami adalah para pendosa. Tetapi, seperti ikan kotes itu di dalam air menjadi indah, ternyata di dalam air pengampunan-Nya, dosa kami menjadi indah.  Tuhan tak memperhitungkan dosa kami. Kami dibersihkan dengan air-Nya. Kita diijinkan menikmati keheningan air-Nya, berenang-renang dalam air kesucian-Nya, berkecimpung dalam air-Nya’. Tuhan adalah samudera pengampunan. Air pengampunan-Nya menjadikan dosa kami hiasan yang indah. Kerakusan kami dihilangkannya menjadi rasa pasrah. Kebuasan kami dijadikan kesabaran dalam air keheningan-Nya. Kesombongn kami dijadikan ketenangan batin dan kerendahan hati. Sisik dosa kami tanggal dan dibersihkan oleh air kekudusan-Nya. Kami adalah pendosa yang dicintai Tuhan’ (G.P. Sindhunata, SJ. 2002). Semoga!

Leo Sutrisno