Identifikasi Sub-Sub Suku Dayak di Landak dan Bengkayang

Identifikasi Sub-Sub Suku Dayak di Landak dan Bengkayang

  Sabtu, 12 December 2015 09:37
PENELITI : Para peneliti identifikasi sub-sub suku dayak di Kabupaten Landak dan Bengkayang saat Seminar Laporan Akhir Riset Swakelola di Hotel Star, Kamis (10/12). LITBANG FOR PONTIANAK POST

Melalui fasilitasi SKPD Kantor Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kalbar, Drs.Simon Takdir,MA bersama anggota tim peneliti, Drs.Donatianus BSEP,M.Hum, Albertus,S.Pd,M.Let, Gustaf Hariyanto ST ,SS, M.Si dan Edy Agustinus,S.Sos berkesempatan melakukan penelitian mengenai identifikasi sub-sub suku dayak. Terkhusus di Kabupaten Landak dan Bengkayang.   IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

PENELITIAN yang berlangsung selama tahun 2015 tersebut, diperlukan untuk membuat suatu dokumentasi yang akurat dan mendalam mengenai kejelasan dan kepastian tentang klasifikasi subsuku dayak. Sekaligus untuk memahami dinamika masyarakat dan kebudayaan kontemporer dalam konteks fenomena glokalisasi subsuku-subsuku dayak di kedua kabupaten tersebut.

Identifikasi mengenai sub-sub suku dayak di dua kabupaten ini penting, karena paling tidak bisa mengklarifikasi dan menjernihkan kerancuan klasifikasi kelompok-kelompok suku dayak. Seperti yang telah terjadi, kasus subsuku Dayak Benuaq terhadap subsuku Dayak Tunjung Asli dan Dayak Tunjung Linggang Kaltim. Lalu kasus subsuku Dayak Salako dan subsuku Dayak Kanayatn di Kalbar dan Sarawak, Malaysia Timur. Serta kasus masalah identitas kesukuan pada suku Bajo.

Mengacu kepada historisitas kesukuan bersama dengan kajian sosiolinguistik dan sistem sosiokultur yang terdapat dalam masing-masing kelompok suku, tim peneliti menyimpulkan bahwa suku dayak di dua kabupaten ini terdiri dari sub-sub suku yang selanjutnya disebut kelompok-kelompok suku.

Masing-masing kelompok suku memiliki historisitas kelompok kesukuan, rumpun bahasa ibu dengan dialek-dialeknya, kawasan tempat tinggal dan sistem sosiokultur. Hal-hal tersebut menjadi dasar pengelompokan yang sekaligus merupakan pembeda masing-masing kelompok suku itu.

Persamaannya adalah bahwa kelompok-kelompok suku itu merupakan bagian dari satu suku besar di Borneo, yaitu suku dayak. Suku dayak merupakan sebuah suku yang secara umum masih menggantungkan diri pada pertanian padi secara tradisional. Karena itu, pola umum sistem sosiokultur dalam setiap kelompok suku masih sama. Perbedaan-perbedaan kecil yang ditemukan dalam setiap kelompok suku hanya merupakan akumulasi pengalaman-pengalaman dari proses adaptasi terhadap lingkungan tempat tinggal mereka. Perbedaan-perbedaan kecil itu menjadi ciri wilayah dari masing-masing kelompok suku.

Temuan tim peneliti di lapangan terkait dengan jumlah subsuku atau kelompok suku dayak, di Kabupaten Bengkayang terdiri dari empat kelompok suku, yaitu kelompok suku dayak Salako, Kanayatn, Bidayuh dan Iban. Sementara suku dayak di Kabupaten Landak terdiri dari tiga kelompok suku, yaitu kelompok suku dayak Salako, Kanayatn dan Bidayuh. Artinya kelompok suku dayak Iban tidak berada di Kabupaten Landak.

Selanjutnya, gejala atau gerakan glokalisasi dalam kehidupan sosial kelompok-kelompok suku dayak di dua kabupaten ini tampak antara lain munculnya fenomena budaya glokal dan keperluan nama kelompok suku. Kedua fenomena ini merupakan fenomena budaya yang muncul dari gerakan glokalisasi. Gerakan glokalisasi merupakan respon masyarakat lokal, kelompok-kelompok suku dayak di dua kabupaten ini terhadap kehadiran budaya global dalam kehidupan sosial mereka di era kontemporer.

Makna identitas kelompok suku diidentifikasi melalui kerangka berpikir strukturalisme, antropologi struktural dan semiotik struktural. Analisis makna identitas tersebut menunjukkan bahwa antropologi struktural mengidentifikasi makna denotasi dan semiotik struktural mengidentifikasi makna konotasi. Makna identitas kelompok suku merupakan sebuah fenomena budaya yang mengacu pada pengertian bahwa nama suatu kelompok suku merupakan sebuah tanda yang tampak.

Tanda yang tampak ini merupakan bagian dari sebuah struktur yang mewakili sebuah konsep atau makna dari orang-orang, bahasa ibu, tempat pemukiman atau lokalitas, sistem sosiokultur yang berada dalam kognisi manusia. Karena struktur itu berada dalam kognisi manusia, maka sifatnya abstrak. Dengan kata lain, nama-nama kelompok suku, Salako, Kanayatn, Bidayuh dan Iban merupakan penanda atau citra akustik dari konsep atau makna, kelompok orang, bahasa ibu, lokalitas dan sistem sosiokultur sebagai tinandanya (konsep).

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, maka tim peneliti menyarankan kepada lembaga terkait yang menyelenggarakan penelitian ini. Pertama, penelitian tentang identifikasi sub-sub suku dayak ini harusnya tidak berhenti di Kabupaten Landak dan Bengkayang saja. Perlu ada kelanjutannya. Sebab masih ada kelompok-kelompok suku dayak yang sama di dua kabupaten ini juga diperkirakan berada di wilayah lain seperti di Kota Singkawang, Kabupaten Sambas dan Sarawak, Malaysia Timur.

Dengan dilanjutkannya penelitian identifikasi sub-sub suku dayak yang sama di luar kabupaten ini, maka hasil penelitian identifikasi sub-sub suku dayak itu akan menjadi menyeluruh, utuh dan lengkap dan terdokumentasi dengan baik. Saran kedua, pihak lembaga terkait hendaknya mensosialisasikan hasil penelitian ini agar masyarakat ramai mengetahui dan memanfaatkannya dengan baik.

Ketiga tim peneliti menyadari, penelitian ini bukan tidak mengandung kekurangan-kekurangan. Karena itu tim peneliti menyarankan kepada pihak yang kurang puas dengan temuan-temuan ini dapat melakukan penelitian yang sama sehingga kebiasaan sebuah dialog intelektual bukan dialog yang bersifat ad hominem dapat terbangun dengan baik.**