Ibu vs Ayah

Ibu vs Ayah

  Rabu, 11 November 2015 08:44
Ismi

Berita Terkait

1. Menegaskan aturan
Ayah lebih disegani anak dibanding ibunya, sebab ayah cenderung mengutamakan logika, sementara ibu lebih kepada perasaan. “Memang dalam sebuah keluarga, ada salah satu orang tua yang sebaiknya disegani anak, sehingga akan lebih mudah menerapkan aturan. Jika ayahnya yang sedikit longgar dalam menetapkan aturan, maka ibunya yang lebih tegas, begitu juga sebaliknya,” jelas Psikolog Ismi Ardhini.
Hanya saja perlu komitmen keduanya, terutama menerapkan aturan dalam keluarga. Jangan sampai aturan yang dibuat, malah dilanggar si ibu ataupun si ayah. “Kalau ayahnya sudah melarang, tetapi ibunya bilang boleh. Sudah sulit lagi anak melaksanakan aturan tersebut,” paparnya.

2. Mengikuti tumbuh kembang anak
Ayah juga berperan dalam mengetahui tumbuh kembang anak. Dia menyontohkan pada anak dengan autis, ketika ayahnya ikut berperan dalam tumbuh kembang anaknya saat diterapi, maka ini akan memberikan kemajuan yang baik bagi anak. “Ada makanan yang boleh mereka makan, ada yang tidak. Seperti mie instant misalnya, anak autis tidak boleh memakannya. Mungkin ketika dia minta ke ibu, karena ibu ini lebih banyak mengutamakan perasaan, cenderung mengiyakan. Tetapi seorang ayah biasanya lebih banyak ke logika dan lebih tegas. Tidak boleh ya tidak boleh, sebab itu racun,” ucapnya.

3. Pengambil keputusan
Secara kasat mata, anak mungkin lebih banyak curhat pada ibunya. Tetapi pada situasi tertentu, anak lebih nyaman bercerita pada ayahnya. Terutama hal-hal yang butuh pertimbangan, dihadapkan pada pilihan. “Kalau yang berkaitan dengan emosi, atau perasaan biasanya anak larinya ke ibu, sebab ibu yang setiap hari ada di rumah atau lebih banyak di rumah. Tapi kalau untuk masalah tertentu, yang dia bingung mempertimbangkan dan mengambil keputusan, biasanya lari ke ayah,” beber Ismi  yang menyarankan disaat situasi seperti itulah peran ayah harus lebi maksimal lagi.

4. Kompetisi
Ayah biasanya lebih banyak memberikan semangat pada anak. Anak senang dengan hal itu. Terutama saat anak mengikuti kompetisi-kompetisi tertentu. “Kalau ibu khan cenderung lebih ke hal rasa aman, misalnya tidak boleh itu nanti jatuh, tidak boleh ini, nanti begini,” tandasnya. (mrd)

 

Berita Terkait