Ibu, Ini Anakmu!

Ibu, Ini Anakmu!

  Selasa, 21 June 2016 09:30
KEVIN NAMANYA: Bayi yang ditelantarkan orangtuanya dipangku oleh seorang perawat RSU Santo Antonius, Pontianak saat akan diserahkan kepada Dinsosnaker Kota Pontianak, Senin(20/6). HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK –Seorang bayi laki-laki berusia dua bulan diserahkan Rumah Sakit Umum St. Antonius, Pontianak kepada Dinsosnaker Kota Pontianak. Bayi itu diabaikan oleh ibu kandungnya sejak masa kelahiran. 

Sebelum dirujuk dan dirawati intensif di Ruang Penatologi dalam inkubator di RSU St. Antonius, bayi itu sebelumnya lahir di Rumah Sakit Yarsi, 10 April 2016. Hasil diagnosis dokter menyebut kondisi bayi dalam keadaan kurang baik, mengalami bayi berat lahir sangat rendah dan aspiksia (susah bernafas) berat. 

“Bayi ini sebenarnya rujukan dari RS. Yarsi dengan berat badan lahir rendah. Waktu lahir dengan berat badan 1,3 kilogram,” kata Petrus Juntu, Wakil Direktur Pelayanan RSU St. Antonius, Pontianak di Kantor Dinsosnaker Pontianak, Senin (20/6). Bayi itu diserahkan ke Dinsosnaker Pontianak lalu dilimpahkan ke LKIA yang disaksikan KPAID Kalbar. 

Berdasarkan berita acara penyerahan, bayi itu lahir dari seseorang bernama Nur Wahyuni, warga Sungai Jawi, Gang Agung No. 33-34. Informasi dari seorang perawat IGD Yarsi berdasarkan keterangan berita acara menyebutkan, bayi itu lahir dari perempuan tidak bersuami. Saat hendak melakukan persalinan diantar oleh dua orang laki-laki. 

Setelah alamat itu ditelusuri untuk mencari penanggujawab bayi, alamat tidak valid. Saat dilakukan pencarian, warga setempat menyatakan tidak mengenal nama Nur Wahyuni. 

“Selama perawatan, kami sudah berusaha mencari orangtuanya. Bahkan penanggungjawab, tapi tidak ketemu. Kami terus  berupaya, tapi tidak mendapatkan titik temu. Kesulitan lagi, alamat orangtua melahirkan salah,” kata Petrus menceritakan.

Dua orang laki-laki yang mengantar saat persalinan pun, disebutkan tidak mengenal jelas siapa Nur Wahyuni. Mereka mengaku, hanya sebatas menolong. “Sampai sekarang dua bulan sepuluh hari, orangtua juga tidak kunjung dapat diketemukan,” tambahnya. 

Diberi nama Kevin

Sebelum berpaling dan melangkah keluar meninggalkan bayi mungil, wajah Adriana Susi Irawati terlihat sembab menahan sedih. Tersirat seakan tidak ingin berpisah. Dengan mengusap kening dan menciumnya, Susi merelakan bayi itu diserahkan ke Dinsosnaker Pontianak.

Susi, bukan ibu kandungnya. Selama dua bulan 10 hari dirawat dirawat intensif di Ruang Penatologi, dia dan beberapa perawat lainnya menjadi ibu pengganti. Bayi itu bahkan sudah diberi nama oleh ibu barunya: Kevin namanya.

“Pasti sayang sama dia. Kasih sayang kami sudah seperti anak sendiri,” kata Susi saat menggendong Kevin.

Selama menjalani perawatan, Kevin mendapatkan kasih sayang dari semua perawat yang mendapatkan giliran jaga. Bukan hanya kasih sayang layaknya ibu, tapi juga membelikan baju.

“Susunya SGM, sekali delapan kali. Baju sama Pampers kami kasih. Semua yang merawat itu ibunya,” ujarnya. 

Kevin mendapatkan perawatan intensif. Kelahiran dengan berat badan rendah, diungkapkan Petrus sangat rawan dan mudah terjadi komplikasi. “Tapi, selama perawatan dua bulan ini sehat-sehat saja, tidak ada masalah serius. Terakhir, berat badan sekarang, 3 kilogram 304 gram,” akunya.

Diungkapkan pula, biaya perawatan Kevin selama dirawat sampai hari ini diserahkan ke Dinsosnaker Pontianak, mencapai Rp24 juta. Biaya ini, diakui Petrus cukup sulit bagi pihaknya. Akan tetapi, seandainya ada yang membantu meringankan, dengan senang hati akan diterimanya. 

“Tapi dalam hal ini, kami mau nagih ke mana. Pokoknya ikhlas sajalah, kalaupun ada yang mau bantu nantinya boleh berhubungan dengan kami,” jelasnya. 

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Pontianak Aswin Djafar mengatakan, sesuai dengan prosedur bayi tersebut seharusnya diserahkan ke Dinsos juga dengan intansi terkait. Dia juga memastikan akan menelusuri keberadaan ibu kandung anak yang sudah diganti namanya menjadi Rizky Ramadan olehnya itu. 

“Kami komit akan menelusuri orangtua anak tersebut. Kami upayakan sedapat mungkin bisa ketemu dengan orangtuanya. Karena ini terkait dengan bayi itu,” jelas Aswin. 

Mengenai biaya rumah sakit yang mengasuh, Aswin juga mengungkapkan akan berupaya menyelesaikannya. “Akan kami upayakan biaya diselesaikan. 

Direktur Pelaksana Lembaga Kesejahteraan Ibu dan Anak Kusmanto menegaskan pihaknya siap untuk merawat bayi tersebut hingga ada orangtua yang benar-benar ingin mengadopsinya nanti. Tentunya tambah dia, sesuai dengan persyaratan yang diatur oleh pemerintah. 

“Pada intinya kami mengimbau kepada orangtua yang menelantarkan anak ini supaya segera datang ke Dinsos untuk segera menemui anaknya. Anak ini kasian, perlu orangtua,” ungkapnya.

Ketua KPAID Kalbar, Achmad Husaeni berharap, ada orang yang bermurah hati di Pontianak bersedia mengadopsi bayi tersebut. Dia juga memastikan, pihaknya akan terus memonitor perkembangan tumbuh kembang anak tersebut.

Sepanjang 2016 diakui, Achmad, kurang dari lima kasus jenis penelantaran anak di Pontianak. “Yang baru terungkap kurang dari lima kasus. Tapi sebenarnya banyak yang tidak terungkap,” jelasnya.

Dia juga memastikan akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk menindaklanjuti dan melacak keberadaan orangtuanya. 

“Kami amankan dulu anak ini, dalam posisi yang betul-betul aman. Nanti baru akan kami koordinasi dengan kepolisian untuk melacak keberadaan orangtuanya. Pertama kami akan mencari tahu alamat yang sudah terdata. Nyatanya semuanya palsu, mungkin barang kali pelan akan terungkap,” tukasnya. (gus)

 

Berita Terkait