I Am (Not) Good Enough

I Am (Not) Good Enough

  Jumat, 5 January 2018 10:00

Berita Terkait

“Sering minder karena jarang menjadi juara kelas atau memenangkan kompetisi. Aku kerap merasa nggak memiliki bakat apa pun. Sering mengeluh, menangis dan menjadikan hal-hal sepele bahan galauan. Kalau sudah merasa begitu, aku lebih senang menghabiskan waktu sendiri di kamar.”

- Seren, 13, Pontianak

SEBAGIAN remaja mungkin nggak menyadari jika dirinya memiliki inferiority complex (IC) syndrome. Yup, IC adalah salah satu masalah mental health, dimana seseorang merasa dirinya kurang mampu jika dibandingkan orang lain.

Bisa dibilang, seseorang ini akan merasa inferior, bahkan lebih rendah dari siapa pun di dalam suatu situasi atau lingkungan yang sedang dihadapi. Nggak jarang, seseorang dengan kasus inferiority complex (IC) mengalami stres.

Psikolog Yulia Ekawati Tasbita, M.Psi., mengatakan, hadirnya IC syndrome berawal dari konsep dirinya sendiri. Baik secara fisik atau psikis, bahkan ekonomi. Membuat perasaannya nggak berharga serta rendah diri.

Dengan begitu, perasaan inferior akan semakin diperkuat atau dipupuk oleh dirinya sendiri. Nggak menutup kemungkinan juga oleh lingkungan terhadap perilaku yang ditimbulkan dirinya ini.

Dalam pikiran seorang IC akan melekat dan memunculkan perilaku yang memandang dirinya amat rendah dan terhina. Seseorang akan membenci dirinya, bahkan juga membuat dirinya terasing dari lingkungannya.

Salah satu Owner Biro Konsultasi Persona ini menuturkan, inferiority complex (IC) syndrome juga termasuk penyakit sosial. Perilaku yang dilakukan seseorang tidak sesuai dengan norma atau nilai yang berlaku di masyarakat.

Beberapa penyakit sosial akibat syndrome ini dapat berdampak pada kasus bullying, pemerkosaan, dan bunuh diri.

Sebenarnya, perasaan inferior pada manusia sudah ada sejak bayi, karena adanya kelemahan yang dimiliki secara fisik. Sehingga, membuat bayi dan anak memiliki ketergantungan pada orang dewasa.

Nggak jarang, anak juga mendapatkan dua perlakuan ekstrem yang berbeda. Ada anak yang dimanja dan anak yang ditolak. Kedua perilaku ini akan melahirkan individu yang mengalami inferiority complex (IC) syndrome.

Menurut Yulia, anak yang dimanjakan dalam pengasuhannya, dimana segala sesuatunya dilayani dan terpenuhi. Namun, ia nggak mendapatkan perlakuan yang sama saat berada di luar. Anak akan lebih mudah merasa shock dan perasaan inferiornya menjadi berkembang.

Sedangkan, bagi anak yang nggak mendapatkan kasih sayang dari ortu, akan menimbulkan perasaan rendah diri. Mereka akan mudah marah, frustrasi, serta nggak percaya terhadap lingkungannya.

“Inferioritas dapat berkembang pada usia tersebut. Namun, kembali lagi bagaimana lingkungan memperlakukan anak di dalam kehidupannya. Apakah perasaan inferior yang dimiliki berkembang dalam bentuk yang positif atau negatif,” ujarnya.

Apabila pada masa usia anak-anak, perilaku orang tua dan lingkungan tanpa sadar mengembangkan inferioritas pada diri anak. Perasaan tersebut menjadi berkembang dan melekat.

Sebagai manusia wajar jika merasakan adanya inferior di dalam diri. Namun, bukan sebagai sesuatu yang abnormal. Tapi, sebagai penentu tingkah laku diri, secara positif perasaan inferior dapat mendorong seseorang untuk berusaha menjadi lebih baik dan positif.

“Jika seseorang dengan jiwa yang nggak sehat, justru akan menjadikan perasaan inferior semakin berkembang, menjadi IC bahkan menjadi seseorang yang memiliki superior personal yang cenderung negatif,” pungkasnya.

Pengalaman memiliki perilaku inferiority complex (IC) sempat dimiliki Seren Rohyan Nasution. Cewek satu ini kerap merasa rendah diri, khususnya minder karena masalah fisik.

“Sering minder juga karena jarang menjadi juara kelas atau memenangkan kompetisi,” cuapnya.

Seren kerap merasa dirinya nggak memiliki bakat apa pun. Sering mengeluh, menangis dan menjadikan hal-hal sepele bahan galauan. Terlebih melihat sang kakak yang aktif di berbagai organisasi. Semakin menciutkan dirinya.

“Kalau sudah merasa begitu, aku lebih senang menghabiskan waktu sendiri di kamar,” tambah siswi SMPN 11 Pontianak ini.

Melihat perilaku sang adik yang cukup mengkhawatirkan, Anita Jogi Nasution nggak mau membiarkan hal ini berlarut-larut. Ia pun berjuang sekuat tenaga untuk menumbuhkan kepercayaan diri Seren.

Bagi Jogi, adiknya memiliki kepandaian tersendiri, khususnya di bidang masak dan teknologi. Terkadang, Jogi merasa heran dan nggak mengerti, mengapa adiknya suka menangis kalau merasa kepercayaan dirinya berkurang.

Untuk membangkitkan semangat, Jogi kerap memaparkan kelebihan sang adik. Contohnya, memuji masakan dan kelihaian Seren di bidang teknologi. Terlebih, seluruh kepandaian itu dipelajarinya secara otodidak.

“Dia itu sebenarnya hebat, hanya dengan melihat video di youtube aja udah bisa jago menggambar dan merias wajah,” pujinya.

Selain memaparkan kelebihan, mahasiswi jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Pontianak ini juga sering mengikutsertakan sang adik dalam berbagai lomba. Salah satunya lomba puisi yang diadakan Aksi GenRe Pontianak. Hal itu tak lepas dari kegemaran Seren membuat puisi sejak SD.

Jogi bahkan memberikan kata-kata motivasi dan perumpamaan, ‘ibarat telur, untuk menghasilkan kehidupan baru butuh tenaga dari dalam untuk menetaskan anak ayam, bukan dari luar’. Dimana Jogi akan terus selalu mendukung dan menguatkan sang adik.

“Alhamdulillah sekarang sudah mulai ada perubahan. Meski masih memiliki sikap rendah diri saat show up, yah setidaknya nggak seperti dulu,” tutup Jogi. (ghe)
 

Berita Terkait