Hutan di Tengah Sawit Membara

Hutan di Tengah Sawit Membara

  Jumat, 26 Agustus 2016 09:30
TERBAKAR: Foto udara kebakaran lahan yang diambil dari Heli Bell-412 milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Kabupaten Kubu Raya, Kamis (25/8). Area yang terbakar merupakan hutan di sekitar perkebunan kelapa sawit. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Satu kawasan hutan yang dikelilingi perkebunan sawit di Desa Rasau Jaya III, Kecamatan Rasau Jaya, Kubu Raya terbakar, Kamis (25/8) kemarin. Belum diketahui secara pasti penyebab dan luas area yang terbakar. 

Berdasarkan pantauan udara Helikopter BELL-412 milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di wilayah tersebut terlihat asap membumbung tinggi akibat terbakar. Di sekeliling hutan yang terbakar itu merupakan perkebunan kelapa sawit. Belum diketahui kepemilikannya, apakah perusahaan atau perorangan.  

Pontianak Post ikut serta dalam pengamatan udara tersebut. Helikopter yang dipiloti Kapten Abdul Syukur dan Kapten Priyatna itu berangkat dari Lanud Supadio, Pontianak sekitar pukul 09.17.

Setidaknya ada dua lokasi yang diobservasi. Lokasi pertama di radius 195 dari Pontianak atau 10 nautical miles dari Supadio. Sementara lokasi kedua berada di radius 285 atau 12 nautical miles dari Supadio. 

Dari pantauan udara tampak jelas kepulan dari lahan terbakar. Tepatnya di titik koordinat 109o 20'10'' E, 0o 14' 25'' S atau berada di Desa Rasau Jaya III, Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya. Sementara di lokasi kedua, ditemukan beberapa hotspot di wilayah pemukiman warga.

"Kita sudah lihat bersama-sama dari pantauan udara. Memang kita temukan ada hotspot berdekatan dengan perkebunan sawit, namun kita tidak tahu itu milik perusahaan atau perorangan," ujar Kapt Abdul Syukur, pilot Heli BELL-412, kemarin.

Hasil observasi dengan pantauan udara ini, kata Abdul, akan dikoordinasikan dengan Satgas Karhutla di Skuadron 51 Lanud Supadio yang merupakan Posko Satgas Siaga  Darurat Bencana Asap di Kalimantan Barat.  

"Kami akan koordinasikan dulu. Apakah langsung dilakukan water bombing atau bagaimana," jelasnya.

Pantauan udara atau observasi melalui udara dilakukan untuk mencari hotspot yang paling potensial untuk dipadamkan menggunakan sistem water bombing, khususnya wilayah-wilayah yang tidak terjangkau personel darat. "Itu yang menjadi prioritas kami," kata Kolonel Inf Muhammad Muchidin, Asisten Operasi Kodam XII Tanjungpura.

Menurut Muchidin, titik paling rawan terjadi kebakaran berada di daerah Rasau Jaya. Sebab berdasarkan pantauan, di daerah itu banyak ditemukan hotspot baik dalam skala besar maupun kecil. 

Dalam sepekan terakhir, kata Muchidin, pemadaman api dengan water bombing cukup menekan kepekatan asap. "Progress-nya cukup bagus. Sepekan ini ada beberapa hotspot yang bisa kita padamkan khususnya di ring bandara sehingga penerbangan dari dan menuju Bandara Supadio tidak ada hambatan," bebernya.

Sekretaris Manggala Agni Kalbar, Sahat Irawan Manik mengungkapkan, kondisi kebakaran hutan dan lahan di Kalbar, khususnya di radius Bandara Supadio Pontianak, belum begitu mengkhawatirkan.  "Sejauh ini masih terkendali," kata Sahat.

Dalam sepekan terakhir, Heli BELL-412 KLHK setidaknya telah melakukan 91 kali water bombing di wilayah sekitar Bandara Supadio.

Hanya saja, lanjutnya, untuk penanggulangan kebakaran di darat, petugas mengalami hambatan akses.  Untuk Manggala Agni sendiri sudah menyebar ke seluruh wilayah Kalbar.

Kepala BKSDA Kalbar, Sustyo Iriyono mengatakan, dalam dua hari terakhir, jumlah hotspot di daerah ini mengalami penurunan. Data satelit NOAA menunjukkan penurunan yang signifikan. Dari sebelumnya 425 hotspot menjadi 246 hotspot. Menurut Sustyo, kebakaran hutan dan lahan disebabkan karena meningkatnya aktivitas warga dalam membuka ladang. Akibatnya kabut asap pun muncul.

"Harapan kami setelah Agustus ini selesai karena terjadi penurunan yang cukup signifikan," harapnya.

Dikatakan Sustyo, penanggulangan kebakaran hutan dan lahan diprioritaskan pada lahan gambut yang ada di beberapa wilayah, seperti Pontianak, Kubu Raya, Mempawah dan Ketapang. "Kita sudah sebar tim ke seluruh wilayah Kalimantan Barat," bebernya.

Sementara itu untuk penindakan hukum, Kapolda Kalbar Irjen Pol Musyafak telah memerintahkan seluruh jajaran untuk melakukan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan secara tegas dan keras agar ada efek jera.

Berdasarkan data, jumlah kasus yang ditangani Polres di Jajaran Polda Kalbar sebanyak 145 kasus di 150 lokasi yang tersebar se-Kalbar. Di antaranya 142 kasus dalam tahap penyelidikan, tiga kasus tahap penyidikan yang ditangani Polresta Pontianak sebanyak dua kasus dan satu kasus ditangani Polres Sanggau. 

Sementara itu jumlah lahan yang terbakar seluas 371,95 hektare dan yang berhasil dipadamkan bersama sama TNI, POLRI, Manggala Agni, BPBD dan Pemadam Kebakaran swasta ada 274,85 hektar.

"Terhadap pelaku pembakar hutan dan lahan tetap diproses baik perorangan maupun korporasi. Hanya untuk korporasi sampai saat ini pihaknya belum menemukan adanya pelanggaran. Jika ditemukan pelanggaran, Polri tetap bertindak profesional," ungkap Kepala Bidang Humas Polda Kalbar Kombes Pol Suhadi SW, kemarin.

"Semuanya dilakukan secara transparan, dapat dipertanggungjawabkan dan independen tanpa ada campur tangan dari manapun," pungkasnya. (arf)

Berita Terkait