Humor Sederhana ala Shitlicious

Humor Sederhana ala Shitlicious

  Kamis, 22 September 2016 10:04

Maraknya penulis baru yang bermunculan tak membuat eksistensi Alitt Susanto pudar. Penulis kelahiran 1 Oktober 1987 ini masih eksis di dunia maya. Banyak pertanyaan yang ditujukan pemilik akun @shitlicious ini, mulai dari pertanyaan seputar percintaan, pertanyaan yang mengarah ke curhat sampai dengan pertanyaan yang super nggak jelas maksudnya apa.

Penulis yang bisa dikatakan sebagai selebask ini memulai karirnya sebagai penulis blogger sampai akhirnya berhasil merilis 3 buku yang diberi judul “Shitlicious: Saat Keapesan Menjadi Santapan Istimewa” (2010), “Skripshit: Kisah Sesat Mahasiswa Abadi” (2012) , dan “Relationshit” (2014). Ketiga buku Alitt konsisten dengan genre humor dan komedi yang sukses mengocok perut pembacanya.

Alitt memilih bahasa yang sederhana dan apa adanya dalam semua buku karyanya jadi pembaca nggak akan kesulitan memahami isi buku. Hampir mirip dengan kebanyakan penulis blogger, Alitt memilih menceritakan kehidupan sehari-hari yang beberapanya adalah pengalaman pribadi. Eits...nggak hanya cerita cinta-cintaan aja yang Alitt ceritakan di sini justru lebih banyak pesan kehidupan selain cinta-cintaan yang bisa diambil dari karya-karya penulis asal Yogyakarta ini.

 Salah satu buku karya Alitt Susanto berhasil difilmkan oleh Starvision pada tahun 2015, yang berjudul “Relationshit”. Tak jauh berbeda dari film komedi ala Raditya Dika, film “Relationshit” juga banyak menunjukkan sketsa-sketsa kehidupan tragis sang tokoh utama, bedanya film ini tidak diperankan langsung oleh Alitt Susanto melainkan aktor Jovial da Lopez. (dee)

 

Diva Naomira Cantika

SMAN 1 Pontianak

“Alitt Susanto hampir sama dengan penulis blogger yang lain, cuma yang membedakan dari Alitt itu penyampaiannya yang apa adanya. Setiap sketsa yang diceritakan pasti memiliki pesan kehidupan yang disampaikan dengan selentingan candaan. Jadi, kita nggak akan bosan baca bukunya. Salah satu kutipan dalam buku Relationshit yang aku suka itu adalah, ‘manusia mungkin bisa bertahan hidup tanpa makanan tapi tidak ada manusia yang bertahan hidup tanpa harapan’.”