Hujan Halangi Keindahan Jembatan Tayan

Hujan Halangi Keindahan Jembatan Tayan

  Sabtu, 9 April 2016 09:04

Berita Terkait

MENJELANG tengah malam, Juanda kembali ke kursi kemudi. Sementara empat anak buah kapal beristirahat.

Malam semakin larut. Tak terasa perjalanan kami tiba di Tayan, sebuah kecamatan di Kabupaten Sanggau.

Pemandangan yang manarik tatkala Bandong yang saya tumpangi melintasi di bawah Jembatan Tayan. Kerlap kerlip lampu begitu indah menyinari sekelilingnya. Namun pandangan saya sempat terganggu dengan turunnya hujan yang begitu deras. Juanda mengurangi kecepatan Bandongnya. Mengantisipasi kemungkinan yang akan timbul. Tirai-tirai terbuat dari terpal pun diturunkan, mengantisipasi agar air tak masuk ke dalam Bandong.

Memang hujan tak berlangsung lama, kira-kira setengah jam. Usai melintasi Jembatan Tayan, hujan pun mulai reda. Sepertinya fenomena hujan local.

Jembatan Tayan ini membentang, menghubungkan tiga desa sekaligus, yaitu Desa Kawat, Desa Pulau dan Piasak. Jembatan yang baru saja diresmikan Presiden RI Joko Widodo ini juga klaim sebagai jembatan terpajang di Kalimantan, bahkan di Indonesia. Jembatan itu juga menghabiskan dana lebih dari satu trilyun rupiah.

Selain jembatan yang fenomenal, Tayan juga terdapat kerajaan yang diberinama Kerajaan Tayan. Konon, Kerajaan Tayan pertama kali didirikan oleh Gusti Lekar, anak kedua dari Panembahan Dikiri (Raja Matan) pada abad ke 15. Sedangkan anaknya yang pertama bernama Duli Maulana Sultan Muhammad Syarifuidin, menggantikan ayahnya menjadi Raja Matan.

Sultan Muhammad Syarifudin adalah Raja pertama yang memeluk Islam oleh tuan Syech Syamsuddin dan mendapat hadiah dari raja mekah sebuah Qur’an kecil dan sebentuk cincin bermata jamrut merah.

Kedatangan Gusti Lekar di Tayan semulanya untuk mengamankan upeti dari rakyat daerah itu kepada Kerajaan Matan, sebelumnya pembawa upeti tersebut selalu mendapat gangguan oleh seseorang yang mengatakan dirinya raja di Kuala Lebai. Untuk semuanya itu Gusti Lekar bersama seorang suku Dayak bernama Kia Jaga dari Tebang berhasil mengamankan upeti tersebut sampai ke kerajaan Matan.

Mengenai asal-usul nama Tayan ini masih terdapat berbagai versi, antara lain: asal kata  Ta artinya Tanah dan Yan artinya Tajam (Tanah Tajam) Apakah ini dimaksudkan dengan kondisi tanah ujung Tanjung, disitu tempat mulai dibuka atau didirikan kota Tayan?

Versi kedua adalah, asal kata Tai artinya Besar dan An artinya Kota (Kota Besar) sebuah tempayan yang di tenggelamkan di muara Sungai Tayan sebagai tanda mulai berdirinya Kota Tayan.

Gusti Lekar wafat di makamkan di sebuah bukit dekat Kota Meliau, karena tempat atau bukit tersebut masih termasuk wilayah Kerajaan Tayan. Dengan wafatnya Gusti Lekar ini, maka sebagai penggantinya menjadi raja di Tayan di angkatlah Gusti Gagok dengan gelar Pangeran Manca Ningrat, beristrikan Utin Halijah dan memperoleh seorang anak yang di beri nama Gusti Ramal. Sedangkan saudaranya yang lain, yaitu Gusti Manggar menjadi Raja di Meliau, Gusti Togok menjadi Raja di Sanggau dan Utin Peruan menikah dengan Abang Sebatang Hari seorang pangeran di Embau Hulu Kapuas (Kapuas Hulu).

Sejak itu ibu kota Kerajaan Tayan di pindahkan ke suatu tempat bernama Rayang. Ditempat ini masih terdapat peninggalan berupa makam Raja-Raja dan sebuah meriam, yang konon atau menurut cerita meriam ini tidak mau dipindahkan ketempat lain dan pada saat-saat tertentu posisinya dapat berubah sendiri.

Dengan berakhirnya masa Kerajaan Tayan ini, status keraton di jadikan monumen peninggalan sejarah yang dilindungi (Monumen Ordonansi No. 238 tahun 1931) dan mendapat bantuan biaya pemeliharaan dari Pemerintahan Daerah TK I Kalimantan Barat.

Peninggalan sejarah lainnya yaitu sebuah Mesjid Jami’ yang letaknya kurng lebih 100 mater kearah Barat Keraton dan Makam Raja-raja serta puluhan meriam peninggalan VOC.

Setelah lama fakum, Raja-raja nusantara mengangkat Gusti Yusri sebagai raja di Kerajaan Tayan hingga saat ini. (arief nugroho)

 

Liputan Khusus: 

Berita Terkait