Hujan, Banjir dan Tanah Longsor “Bertemu” di Jawa Tengah

Hujan, Banjir dan Tanah Longsor “Bertemu” di Jawa Tengah

  Minggu, 7 Agustus 2016 10:54   2,516

Oleh: Azka Ni'amillah

INDONESIA  kembali berduka dengan kejadian banjir dan tanah longsor pada tanggal 18 Juni 2016 yang ada di beberapa kabupaten di Jawa Tengah, tepatnya di 16 kabupaten/kota di Jawa Tengah, dimana sehari sebelumnya terjadi hujan lebat sampai hujan ekstrim di beberapa kabupaten tersebut yang berlangsung selama 18 jam mulai dari jam 07.00 WIB (18/06)  s.d. 01.00 WIB (19/06). Setelah proses pencarian korban bencana longsor yang secara resmi dihentikan sejak Jumat 24 Juni 2016 pukul 15.09 WIB, total korban yang berhasil ditemukan dalam musibah ini mencapai 43 orang, dengan rincian 39 meninggal karena longsor dan empat orang meninggal karena banjir.

Kejadian ini berlangsung tidak lama setelah dua kejadian sebelumnya mengalami hal yang hampir serupa yaitu, di Sibolangit, Sumatera Utara (15/06) dan di Kota Padang, Sumatera Barat sehari setelahnya. Kedua wikayah tersebut masing-masing mengalami musibah yang berbeda, daerah Sibolangit mengalami bencana yang sama dengan wilayah Jawa Tengah dan menimbulkan enam korban jiwa sedangkan di Kota Padang hanya mengalami kejadian hujan ekstrim yang mengakibatkan banjir dan genangan air di wilayah tersebut.

Kita perlu siaga dan belajar dari bencana alam di Jawa Tengah, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Mengingat bencana alam tersebut terjadi pada diluar musim penghujan dan terjadi di bulan-bulan yang rata-rata curah hujannya dalam range cukup normal  sampai dibawah normal.

Pada hari itu di beberapa wilayah di Jawa Tengah terjadi fenomena hujan ekstrim dengan jumlah curah hujan lebih dari 150 mm, terutama di Kabupaten Purworejo mencapai 328 mm. Berdasarkan pantuan citra satelit Himawari dan dinamika atmosfer yang dilakukan Stasiun Klimatologi Klas 1 Semarang menunjukkan sebaran jenis awan konfektif yang besar (cluster awan) yang terjadi pada tanggal 18 Juni 2016, jam 00.00 UTC (United Time Coordinate) atau sekitar jam 07.00 WIB, pertumbuhan awan tersebut bergerak dari wilayah Jawa Barat ke timur kearah Jawa Tengah pada jam 06.00 UTC (13.00 WIB) sampai jam 18.00 UTC (01.00 WIB tanggal 19 Juni 2016) menyebabkan terjadinya hujan sangat lebat sampai hujan ekstrim merata di wilayah-wilayah yang mengalami banjir dan tanah longsor. Selain itu ada tiga pemicu terjadinya hujan sangat lebat samoai ekstrim di Jawa Tengah tanggal 18 Juli 2016 yaitu, Aktifitas Gelombang Kelvin (bergerak ke timur), MJO (Madden Julian Oscilation) atau yang lebih dikenal anomali yang berakibat pada angin, per-awanan, dan intensitas hujan. Anomali tersebut sudah aktif di wilayah Samudera Hindia dan mulai masuk ke wilayah Maritim Indonesia, faktor selanjutnya adalah suhu muka air laut yang hangat di wilayah Indonesia.

Upaya mitigasi

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang dua tahun terakhir, menunjukkan bencana longsor terjadi 600 kali. Sebanyak 338 jiwa tewas akibat longsor sepanjang 2014 dan 46 orang tewas pada 2015. Korban terluka dalam dua tahun terakhir sebanyak 221 orang dan rumah yang rusak berat mencapai 2.337 unit. Sementara banjir dalam dua tahun terakhir menewaskan 107 orang, 254 orang terluka, dan 1.557 rumah rusak berat.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, di Jakarta, menyebutkan, longsor terus memakan korban jiwa disebabkan jumlah penduduk yang banyak tinggal di zona rentan longsor. Ada 40,9 juta jiwa warga di 274 kabupaten/kota yang tinggal di zona longsor. Zona yang dimaksud oleh BNPB adalah wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Karena menurut PVMBG ketiga daerah ini memiliki kondisi tanah yang sebagian besar dari kombinasi aktivitas gunungapi dan patahan.

Kemudian masyarakat disana umumnya menyukai menanam tanaman produksi yang tidak membutuhkan waktu lama untuk ditebang kembali. Dari sini dibutuhkan peran-peran lain seperti BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), PVMBG (Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi), Dinas Pertanian, Dinas Perhutanan, dll untuk saling bekerja sama memberikan penyuluhan kepada warga terkait bencana banjir dan longsor serta kerugian yang didapat apabila kita tidak memiliki suatu persiapan nyata mengurangi dampaknya.

Salah satu upaya mitigasi yang bisa dilakukan dari beberapa peran tersebut antara lain, BMKG memberikan sosialisasi bencana banjir dan tanah longsor dibantu dengan BPBD dan Dinas Pertanian serta Dinas Perhutanan memberikan bibit tanaman yang berakar kuat seperti cengkeh, mahoni, pucung, dll sehingga bisa menyerap air dan menahan tanah dari longsor. Upaya-upaya tersebut merupakan salah satu dari banyak cara yang bisa kita lakukan sebagai wujud perhatian menekan dampak dari kedua bencana alam ini. **

Penulis: Program Sarjana Terapan Meteorologi 

Sekolah Tinggi Meteorologi  Klimatologi  dan Geofisika