Home Sweet Home; Gebrakan Indonesia Sejahtera

Home Sweet Home; Gebrakan Indonesia Sejahtera

  Rabu, 6 January 2016 08:21   1

 Oleh: NurhasanahPERAN sebuah keluarga amatlah penting bagi seorang anak. Kondisi keharmonisan ayah dan ibu menjadi faktor besar yang membentuk psikologis seorang anak. Awalnya saya bertanya-tanya mengapa anak-anak yang hidup sederhana begitu mudah berperestasi? begitu damai menjalani kehidupan meski tak luput dari penglihatan dan pendengaran saya bahwa hidup mereka jauh dari kata beruntung dibandingkan si penulis ini.

Akhirnya saya ketahui ternyata mereka pulang kerumah dalam keadaan membawa bermacam masalah, tetapi masalah itu hanya sampai di pintu depan rumah setelah itu diselesaikan dengan senyuman oleh ayah dan ibunya. Mereka membawa beban hidup di kota di selesaikan dengan bersahaja oleh sambutan hangat tangan ayah dan ibunya di kampung. Saat lemah motivasi, mereka lewati dengan berkumpul bersama keluraga kecil yang sederhana itu hingga hadirlah inspirasi baru untuk berkarya. Saat mulai bingung mencari arah selalu ada ibu yang siap menjadi tempat berbagi dan memberi semangat kembali. Ada ayah yang selalu memberi harapan “tenang nak semua akan baik-baik saja”.

Dalam perjalanan hidup banyak teman yang karyanya luar biasa saya temui, kesan pertama tak ada yang begitu spesial dari mereka tapi semakin saya mendekat dan sering mendengar cerita mereka bahwa sumber inspirasi itu ada dalam keluarganya yang hidup bersama dalam irama yang harmonis. Bahkan ada yang berkata apa arti kesuksesan tanpa keluarga. Mereka hidup sederhana tapi bersama. Suka duka dibagi rata hingga beban hidup tak terasa hadirnya. Ada sosok yang rela berkorban demi anak yang sukses (ayah) dan ketika ia selalu menyediakan waktu produktif untuk anaknya maka tunggu saja waktunya. Sang anak akan menjadi orang yang berpontesi besar untuk negaranya kelak. Saat ini orang-orang yang merindukan kehancuran suatu kaum sedang sibuk mencari cara bagaimana agar si ayah sibuk di luar rumah mencari nafkah sehingga kehabisan waktu untuk bermain dengan  anaknya. Dengan dalil yang terkenal “anak akan hidup bahagia di saat bergelimpangan harta” betul begitukah?
Pada kenyataannya anak yang akan bahagia adalah setiap waktu dimana ia butuhkan pertolongan yang menolong pertama kali adala ayah atau ibunya. Dimana ia butuh teman bercerita yang selalu siap mendengarkan ceritanya adalah ayah atau ibunya. Tak dapat terbayangkan jika setiap anak yang lahir di indonesia dibesarkan dalam keluarga yang menginspirasi di atas dengan penuh perhatian ayah dan ibu. Fokus kedua orang tuanya adalah bagaimana menjadikan anak-anaknya sukses di dunia dan bisa mengantarkan ke dua orang tuanya ke surga pada akhirnya. Maka saat itu terjadi indonesia akan memiliki generasi penerus berbasis surga.
Orientasi anak-anak ini akan mengarah pada bagaimana mengukir prestasi, mengabdi pada negeri agar dapat menjadi manusia, yang sebaik-baiknya yaitu banyak manfaatnya bagi orang lain. Saat ia menjadi dokter, ia akan jadi dokter yang alim akan menyembuhkan pasiennya dengan senang hati tanpa pamrih hanya berharap ridho ilahi, begitu pula saat ia menjadi guru akan ikhlas dengan sepenuh hati membagi ilmu tanpa menilai besar gaji karena ia sadar memberi ilmu yang bermanfaat pada sesama adalah salah satu amal jariyah yang pahalanya tidak akan putus-putus meski pun ia telah tiada.
Saat jadi pemimpin ia akan memjadi sebaik-baiknya pemimpin karena ia sadar setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya atas apa yang ia pimpin, ia tak menjadikan kekuasaannya sebagai sarana mengayakan diri tapi malah menjadikannya sebagia sarana untuk menyampaikan risalah ilahi, tak menulikan telinganya untuk selalu rela mendengar keluh kesah rakyatnya, tak membutakan matanya sehingga ia cepat tanggap dengan permasalahan yang terjadi pada rakyatnya. Tidak melumpuhkan kakinya sehingga ia selalu dengan senang hati mengujungi daerah-daerah tertinggal yag ada di wilayah kepemimpinannya, selalu kuat dan sehat tangganya untuk terus menyapa, mengayomi serta menyalami masyarakatnya.
Dan masih banyak lagi keadaan yang luar dari kebiasaan akan terjadi saat generasi-generasi penerus itu di didik oleh kedua orang tuanya untuk sukses dunia dan akhirat. Kerena keluarga adalah madrasah pertama sudah sepantasnya tempat pertama ini memberi pengaruh yang baik. Karena kesan pertama menentukan segalanya selajutnya terserah anda. Semoga para ayah dan ibu di Indonesia dapat memainkan perannya sebagai orang tua dengan sebaik mungkin. Sebab suatu kebaikan yang besar berawal dari kebaikan-kebaikan kecil yang sederhana. Karena inspirasi itu berawal dari ketenangan jiwa dan jiwa yang tenang berada dalam lingkaran keluarga yang harmonis.
*)Mahasiswi Pendidikan Fisika FKIP Untan