Hobi yang Mampu Biayai Umrah

Hobi yang Mampu Biayai Umrah

  Rabu, 22 June 2016 10:25
HIDUPI KELUARGA: Kastini (47) dan Suroso (49) menata kue kering yang sudah dikemas di rumahnya, Senin(20/6). Selama puluhan tahun, bisnis rumahan itu mampu membiayai hidup keluarga mereka. MIFTAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

 
Kue kering telah menjadi salah satu hidangan wajib kala hari raya Idul Fitri. Tak salah bila para pengusaha kuliner seakan berlomba-lomba menawarkan aneka varian kue kering. Hanya saja, bisnis ini sering dianggap bisnis musiman karena hanya ramai jelang hari raya.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

MENJALANKAN bisnis makanan seperti kue kering sebenarnya menawarkan banyak keuntungan. Kue kering selalu ramai dikejar masyarakat menjelang hari raya. Lantas bisnis ini pun sering dianggap bisnis musiman karena produksinya yang hanya terlihat mendekati lebaran atau natal.

Kue kering memang identik dengan hari raya, padahal untuk mengonsumsi kue kering bisa kapan saja. Kebiasaan masyarakat yang sudah menyebar luas ini pun membuat pengusaha kue kering hanya memproduksi kue kering jelang hari raya saja.

Banyak faktor yang menjadikan bisnis musiman ini dilirik banyak orang dan menjadi sasaran empuk mereka. Salah satu alasannya, penduduk Indonesia yang sebagian besar beragama islam. Besarnya potensi pasar itu membentuk persaingan ketat.

Peluang bisnis itulah yang sudah dijalankan Kastini (47) selama puluhan tahun. Kastini mengaku pekerjaan itu sudah menjadi pendapatan utama keluarganya. Ia  mengungkapkan, usahanya yang kini sudah memiliki delapan pegawai itu berawal dari dapur rumahnya. “Sudah dulu sekali sejak baru menikah,” ungkapnya yang biasa dipanggil Mbak Tini ini.

Memasuki rumahnya yang beralamat di Jalan Kom Yos Soedarso Gang Caturwarga, terlihat tumpukan kue kering dan aneka keripik yang tersusun rapi. Dari dapurnya yang berukuran sekiter 6x3 meter hingga ruang tamu dipenuhi kue kering dan aneka keripik. Kue kering dan aneka keripik itu sudah terbungkus rapi dalam kemasannya masing-masing. “Ini karena rumah kami yang kecil dan pesanan yang lumayan banyak,” kata Mbak Tini kepada Pontianak Post, Senin(20/6).

Mbak Tini lalu menceritakan, pertama kali ia memproduksi kue kering ialah saat ia baru menikah. “Waktu itu masih tinggal di Singkawang,” katanya. Sudah menjadi kebiasaan keluarganya untuk membuat kue kering jelang lebaran. Selama lebaran itulah, banyak orang yang menanyakan resep kue kering buatannya. “Lama-lama ada yang pesan,” katanya.

Setelah itu, ia lalu memberanikan diri dengan modal seadanya untuk memproduksi kue kering untuk dijual setiap tahunnya jelang lebaran. “Oh Ternyata orang-orang suka,” kata Mbak Tini. Dari sanalah ia pun berkeinginan untuk terus membuat kue kering.

Sampai akhirnya ia pun mengikuti beberapa kali kursus membuat kue kering di salah satu kelas tata boga ternama di Pontianak. Akan tetapi, ia mengaku hanya beberapa kali mengikuti kursus karena kurangnya biaya. “Mahal mas. Satu kali pertemuan bisa sampai Rp150 ribu,” jelasnya.

Setiap tahunnya Mbak Tini memproduksi kue kering hanya pada masa mendekati lebaran, natal dan tahun baru. Selebihnya ia hanya memproduksi aneka keripik dan peyek. Selama bertahun-tahun kue kering telah menjadi bisnis musiman yang dijalani Tini. Jelang lebaran seperti ini, omzetnya bisa melambung tinggi. “Bersihnya setelah gaji pegawai, kira-kira bisa sampai Rp80juta atau Rp90juta setiap tahun,” jelas Tini.

Dengan omzet sebesar itu, Tini sudah bisa memperkerjakan delapan orang pegawai. Satu orang untuk menggoreng peyek dan keripik, satu orang lagi di bagian pengemasan dan enam orang lainnya di bagian produksi kue kering. Kedelapan orang pegawai itu ialah warga sekitar yang hanya ia panggil selama masa produksi jelang lebaran.

Pada hari-hari biasa, Tini hanya memperkerjakan dua orang pegawai yang membantunya memproduksi aneka keripik dan peyek. “Sebelum bekerja di sini, mereka saya ajari dulu cara membuat kuenya. Agar rasanya tetap terjaga,” katanya. Ke semua pegawainya pun rata-rata sudah mengikuti mbak Tini sejak lama.

Ida (48) contohnya, sudah bertahun ia mengikuti Mbak Tini memproduksi kue setiap lebaran. Bersama dengan Sari (38) mereka mendapat tugas untuk membuat kue kering di dapur rumah Tini. “Hari biasa ya kerja seadanya, atau hanya di rumah mengurus anak,” kata Sari.

Berbicara modal, selama musim produksi seperti jelang lebaran ini, Tini dan suaminya dapat menghabiskan modal hingga Rp100juta rupiah. Bahkan lebih. Modal itu diperlukan untuk menutupi permintaan kue kering yang sangat tinggi. Sebagian besar, modal digunakan untuk membeli tepung, telur dan bahan lainnya. “Membeli bahan-bahan tersebut kan harus kontan. Tidak bisa kredit. Kalau hari-hari biasa kami bisa kredit. Karena membeli bahannya di kenalan saya,” jelas Tini.

Per kilogram, Tini membanderol kue keringnya dengan harga Rp80 ribu hingga Rp90 ribu. Untuk peyek, dihargainya Rp60 ribu. “Peyek terpaksa naik dari Rp55 ribu, karena bahan-bahannya terus naik. Dan harga kue kering sebisa mungkin kami pertahankan walaupun bahan bakunya juga terus naik,” kata Tini.

Memasuki ruang dapur rumah berdinding putih itu, terlihat suaminya, Suroso (49) tengah menimbang keripik lalu dikemas dalam kantong plastik. Satu kemasannya ia takar dengan hati-hati untuk satu kilogram keripik.

“Jika tidak memasuki musim hari raya seperti ini, keripik inilah yang kami produksi,” jelas Suroso yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh pangkul di Pasar Kapuas Indah. “Tapi sebelum puasa kemarin sudah berhenti. Supaya lebih fokus bantuin ibu.”

Omzet penjualan kue kering ini sepenuhnya ialah kerja keras istrinya. Sebagai suami pun ia tetap bekerja untuk menutupi kebutuhan sehari-hari keluarga. Suroso menyebutkan, keuntungan dari berjualan kue kering ini telah mampu memberangkatkan istrinya ke Mekkah. “Alhamdulillah,, istri saya sudah bisa berangkat umrah beberapa tahun lalu. Berkat kerja kerasnya selama ini” tutup Suroso.(*)

Berita Terkait