Hingga Sore di Sekolah, Protes Karena Kelelahan

Hingga Sore di Sekolah, Protes Karena Kelelahan

  Rabu, 11 Oktober 2017 09:57
BELAJAR MENGAJAR: Kegiatan belajar mengajar di SMAN 1 Sukadana. Sekolah ini menjadi salah satu yang menerapkan full day school yang telah berjalan sejak tahun ajaran baru. DANANG PRASETYO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Melirik Penerapan Full Day School di Kayong Utara

SALAH - satu siswa SMA Negeri 1 Sukadana menggambarkan jika penetapan full day school berdampak kepada siswa yang kelelahan ketika belajar di kelas. "Pulangnya saja sudah sore. Belum lagi harus ngerjakan tugas. Belum lagi kami mau istrahat di rumah. Bahkan saking lelahnya, tidak jarang ada yang tertidur di kelas," kata siswa bersangkutan, belum lama lalu.

Diakui dia, dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sebagai siswa mereka tidak bisa berbuat apa-apa. "Sebenarnya kami pun tidak bisa menolak apa yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Karena yang membuat aturan ini adalah pemerintah. Jadi kami hanya bisa ikut saja. Kalau lanjut, lanjut. Tapi kalau mau hentikan Alhamdulillah," ungkapnya.

Dirinya mengatkan, jika diizinkan menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo, dia berharap agar kebijakan ini dihentikan. "Kalau saya boleh sampaikan ke Bapak Presiden, kalau bisa full day ini dihentikan, karena banyak siswa yang mengeluh. Apa lagi kadang ada yang tertidur di kelas, efek dari full day, yang pulangnya terlalu sore. Kalau boleh jujur, ndak apalah hari Sabtu sekolah asal full day ini dihentikan," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala SMA N 1 Sukadana Erik Yuniastuti melontarkan pendapat berbeda. Menurut dia, kebijakan ini sebetulnya sudah berjalan sejak awal ajaran baru.

"Untuk full day school ini, sudah berjalan 3 bulan, sejak awal ajaran baru kemarin. Tentunya berdasarkan mandat dari Dinas Pendidikan Provinsi. Dan sekolah kami ini menjadi rujukan untuk di Kabupaten Kayong Utara," sambungnya

Dikatakan dia, penetapan full day school ini tentunya juga dari Kementerian Pendidikan. Selanjutnya kebijakan ini disampaikan kepada pihak Dinas Pendidikan Kayong Utara.

"Dan mengenai hal ini pun diimbau oleh Kementerian Pendidikan untuk mencoba melaksanakan sekolah lima hari. Dan mengenai hal ini pun telah kami sampaikan ke Dinas Pendidikan, melalui Kabid Dikmennya dan Beliau menyetujui. Bahkan mengenai hal ini pun telah kami sampaikan kepada teman-teman MKKS, ternyata di Kayong utara ada 10 sekolah    yang teleh menjalani full day scholl dari tingkat SMA dan SMK," lanjutnya.

Dalam penetapan ini, diakui dia dengan hal yang baru tentunya pasti memiliki kendala. Apa lagi, sambung dia, dalam penyelenggaraannya ada yang tidak komitmen.

"Sudah pasti, hal baru pasti ada kendala. Biasanya masalah komitmen. Karena ada beberapa orang yang tidak mampu dalam menjalankannya. Dan pada full day school ini satu hari sebanyak delapan jam waktu belajar," tambahnya.

Dirinya menilai, saat ini siswa sudah dapat menjalani hal yang baru ini. Hal tersebut, sambung dia, dengan adanya kegiatan hingga sore hari cukup antusias siswa mengikutinya.

"Untuk istirahatnya kita ada dua kali. Jadi ada makan siang, dan untuk waktu salatnya. Bahkan juga ada orangtua yang mengantarkan makan siang ke sekolah untuk anaknya. Dan saya rasa siswa cukup baik dalam menjalankannya," ungkapnya.

Salah satu guru, Nurlela, mengatakan, pada awalnya memang terkejut untuk guru-guru. Begitu pula yang dirasakan oleh siswa. Karena, sambung dia, untuk siswa biasanya pulang awal, ini sampai sore.

"Tetapi, setelah berjalan beberapa bulan, dengan masuk  6.45 WIB dan pulangnya bahkan sampai 16.00 WIB. Karena itu ada kegiatan ekstrakurikuler," lanjut guru Matematika ini.

Mengenai keluhan siswa, dikatakan dia, itu memang hal yang biasa. Apa lagi hal tersebut juga, diakui dia, dirasakan sebelum ditetapkan full day school.

"Kalau keluhan siswa mengenai ngantuk itu wajar. Tidak Full Day aja mereka mengantuk. Jadi alasannya ngatuk tidak ada alasan. Apa lagi kalau sekolah enam hari pun mereka juga ngantuk. Mugkin ini juga pengaruh dengan asupan gizinya," ungkapnya. (*)

Berita Terkait