Hilangkan Stigma Negatif Napi!

Hilangkan Stigma Negatif Napi!

  Rabu, 24 Agustus 2016 09:35
NARAPIDANA: Para penghini Lapas Kelas IIB Putussibau saat mengikuti perlombaan dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI di lingkungan Lapas, 17 Agustus lalu.

Berita Terkait

PUTUSSIBAU – Stigma negatif yang selama ini hinggap pada narapidana (napi) merupakan tantangan bagi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Menjadi tugas Lapas agar setelah warga binaan tersebut keluar dari penjara, bisa diterima oleh masyarakat. Inilah yang menjadi alasan mengapa Lapas Kelas II B Putussibau memberi ruang kepada napi untuk mengaplikasikan keterampilan mereka sesuai petunjuk, selama pembinaan oleh para petugas Rutan.

 
Kepada wartawan, Selasa (23/8) siang, kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIB Putussibau, Mulyoko, menjelaskan bahwa napi adalah orang yang memiliki masalah, namun mereka juga manusia yang perlu diberdayakan. Untuk itu, dia mengungkapkan bahwa napi perlu diberikan asesmen sesuai keterampilan yang dimiliki. “Oleh negara, kami ditugaskan untuk membina menyelesaikan masalah mereka, programnya membina,” paparnya.

Ditegaskan Mulyoko kembali jika masalah tetap menjadi masalah, namun jangan sampai menjadikan napi putus asa. Oleh karena itu, dia menambahkan, pembinaan kepada mereka seperti pelatihan-pelatihan  menjadi sesuatu yang penting. Lapas bersama instansi terkait baik Pemda, Kepolisian, dan TNI, menurutnya,  telah menjalankan program revolusi mental. “Kami telah menjalankan berbagai program, untuk revolusi mental bagi para napi di Lapas ini,” ungkap dia.

Mulyoko mengakui jika dirinya memiliki program kemandirian. Mereka mengajak para napi tersebut berpikir agar di dalam Rutan dibina kepribadian dan kemandiriannya. Keinginan mereka apakah warga binaan tersebut sudah memiliki hasil dan mampu mempraktikkannya. “Untuk mengejar baik, tidak semudah itu, karena persepsi atau stigma masyarakat kita terhadap napi masih negatif,” aku dia.

Karenanya, dia menjelaskan, selama dibina, napi diberi pembinaan mental kepribadaan agar diterima masyarakat. Mantan Kalapas Sanggau ini menjelaskan bahwa napi yang diberi ruang untuk melaksanakan bidang keahliannya dalam Rutan, yakni mereka yang sudah menjalani minimal setengah dari masa pidana. “Kami akan dekati mereka ke masyarakat. Ini namanya program asimilasi mendekatkan warga binaan ke masyarakat, ini merupakan amanat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995,” terang Mulyoko.

Kendati demikian, kata Mulyoko lagi, pihaknya tetap melakukan pengawasan. Karena tak dipungkiri dia, potensi napi kabur saat dijalankannya program asimilasi bisa saja terjadi. Akan tetapi, jika program asimilasi dilakukan dengan benar, sesuai tingkatan, dia juga yakin akan berjalan baik. “Sistem perlu diperbaiki. Proses masuk sudah kami asesmen, siapa keluarga, keahliannya apa? Karena ada sidang untuk menuju asimilasi itu,” terang dia.

Dengan adanya asesmen, Mulyoko yakin warga binaan tersebut setelah keluar tidak kosong, di mana mereka punya modal keterampilan. Harapan dia, mereka bisa diterima dengan baik di masyarakat, karena napi tersebut punya keterampilan. “Bisa saja keahlian di bidang penjualan, produksi, semua penghasilan. Artinya, mereka beralih dan mengubah hidup dengan cara-cara benar dan mandiri,” paparnya.(aan)

 

Berita Terkait