Hidupkan Motif Khas Kalimantan Barat

Hidupkan Motif Khas Kalimantan Barat

  Selasa, 19 April 2016 09:15
CELUP WARNA: Aris Setiawan salah satu mahasiswa yang tergabung dalam Sentra batik Khatulistiwa melakukan proses pencucian batik.ISTIMEWA

Berita Terkait

Batik selama ini identik dengan Pulau Jawa. Namun bukan berarti di Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat, tak ada yang membatik. Buktinya ada sejumlah warga yang pandai membatik. Bahkan mahasiswa ada yang meneruskan tradisi membatik tersebut. Hanya saja masih belum ”seberani” seperti di pulau jawa.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

“UNESCO sudah mengakui bahwa batik itu punya Indonesia, jadi jangan sampai produksinya di Cina. Dengan semangat seperti itu, Batik Kalimantan juga jangan sampai produksinya di Jawa,” ujar Reni Dwi Widyastuti, Pembina Sentra batik Khatulistiwa.

Semangat mempertahankan budaya, tersirat dari kalimat menggugah namun menyindir halus pembatik di Kalimantan Barat agar lebih berani berkembang. Motif batik Kalimantan Barat khususnya, masih kalah jauh dengan motif batik Jogja atau Pekalongan yang sudah memiliki nama besar. Permintaan akan batik mereka pun selalu ramai dan bahkan bertambah setiap tahunnya.

Batik, memang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Mulai dari pakaian kerja sehari-hari atau dalam menghadiri acara besar. Namun, masyawakat Pontianak dapat menggemari motif atau corak batiknya sendiri, dirasa masih kurang. Kerajinan batik khas sangat penting karena tidak hanya dikuasai oleh industri berskala besar, namun juga bisa dijalankan oleh orang-orang kreatif dengan skala rumahan.

Dari pengamatan Pembina Sentra Batik Khatulistiwa, Reni Dwi Widyastuti, banyak motif batik Kalbar yang beredar di pasaran. Tetapi batik tersebut juga diproduksi di pulau Jawa. Hal itu dirasanya wajar, karena di Kalbar sendiri belum ada pelaku UMKM yang terjun dalam usaha batik sejauh itu. Belum ada keterampilan yang menjadi cikal bakal sebuah industri itu. “Nilai bisnisnya kan tetap kesana,” ujar Ibu Reni.

Di Pontianak sendiri, sudah ada pelajaran membatik di beberapa SMK di Kota Pontianak tetapi hal itu hanya berhenti pada sebuah pelajaran sekolah saja, tidak banyak yang benar-benar melanjutkan keterampilan membatik tersebut.

Berbekal pengamatannya bersama beberapa mahasiswa itu, Sentra Batik Khatulistiwa pun muncul menjadi sebuah ide dalam mata kuliah kewirausahaan. Dalam mata kuliah yang mengharuskan mahasiswa menjalankan usaha berbasis wirausaha ini, mahasiswa bimbingannya memilih untuk menjalankan model usaha membatik.

Dari matakuliah inilah, semangat delapan mahasiswa yang tersisa, menjalankan komunitas ini, menetapkan komitmennya untuk menjalankan sebuah model usaha mikro. “Kita arahkan, kita cari pembimbing yang bisa memberikan pelajaran tentang batik,” ungkapnya yang juga Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Panca Bhakti.

Selama proses belajar membatik, semua kegiatannya dilakukan di lingkungan Kampus. Bermodalkan bahan seadanya yang didatangkan dari Jogja, usaha kecil itu bisa berjalan. Saat itu, dirinya mendatangkan Agung Suhaifa, guru SMK Negeri 3 Pontianak sebagai pengajar.

Setelah matakuliah kewirausahaan selesai, ternyata mahasiswa memiliki ide untuk melanjutkan usaha membatik tersebut. Dan tercetuslah rencana magang ke Sentra batik Nakula Sadewa di Sleman, Yogyakarta. Selama satu bulan, sepuluh mahasiswa itu dikirim dan dilatih tentang bagaimana membuat batik. Tak lupa juga mendapatkan pelajaran tetang standar operasional, manajemen, dan pemasaran batik itu sendiri.

Sudah berjalan dua tahun sejak 2014 lalu, kelompok mahasiswa semester akhir itu, berkomitmen bersama untuk memulai sebuah usaha hingga bisa berkembang. Usaha ini juga sempat kewalahan karena kekurangan modal. Modal awal pernah didapat dari Dikti tetapi dirasa masih kurang. Akhirnya aliran modal pun datang dari Dekan pembimbing itu.

Aris Setiawan, ketua Sentra Batik Khatulistiwa, mengatakan usaha batiknya memang belum memiliki badan hukum yang jelas, karena usaha kecil ini juga masih belum mampu memproduksi batik dalam jumlah besar.

Rajin ikut pameran, usaha kecil yang ditekuninya perlahan mulai dikenal di Kalimantan Barat. Permintaan akan produksi batik diakuinya sudah sangat banyak, sekitar 30-40 lembar kain batik sudah dipesan. Untuk memenuhi pesanan itu, dia bersama tujuh temannya masih kejar-kejaran memenuhi pesanan.

Membuat satu lembar kain motif batik tulis, membutuhkan waktu dua minggu pengerjaannya. Hal itu diakuinya karena kekurangan tangan untuk membantu proses pengerjaan batik tersebut. Apalagi, dia bersama teman-temannya sedang menjalankan tugas akhir skripsi. “Mau tidak mau, fokus kita juga terpecah. Tapi tetap berjalan,” ujar Aris.

Namun, dia yakin usaha yang telah ditekuni itu tetap bisa berjalan setelah ia lulus nanti. Karena sejumlah prestasi yang sudah disematkan rumah usaha ini-setelah beberapa kali pindah-pindah stan pameran-kini mereka sedang mengejar stok produk untuk dipamerkan dalam pameran.

Sentra Batik Khatulistiwa pun terpilih menjadi salah satu industri yang mewakili Kota Pontianak dalam Inacraft 2016 yang memamerkan produk unggulan kerajinan dan batik dari seluruh pelosok Indonesia. Di Jakarta nanti, Sentra batik ini memiliki kesempatan besar untuk semakin memperluas pasar.(*)

 

Berita Terkait