Hidupkan Kembali Sang Legenda tanpa Batas Usia

Hidupkan Kembali Sang Legenda tanpa Batas Usia

  Minggu, 18 September 2016 10:35
TUR MOTOR: Para anggota gerakan Satu Jiwa saat melakukan turing bersama ke Tayan, Sanggau. Kegiatan mereka tersebut menjadi sesatu yang rutin dilaksanakan. Sesampainya di kota tujuan, satu kegiatan sosial telah menanti untuk mereka laksanakan. ISTIMEWA

Berita Terkait

​Vespa tidak cuma menjadi ikon budaya, tetapi juga kian digemari oleh kaum muda. Dimulai dari kesukaan mereka terhadap Vespa, gerakan kepedulian Satu Jiwa lahir untuk mendatangkan manfaat pada masyarakat melalui kendaraan bermotor roda dua yang satu ini.

Miftahul Khair, Pontianak

SATU jiwa, berawal dari beberapa beberapa pemuda yang ditakdirkan memiliki satu visi yang sama, satu kesukaan benda dalam hal ini hobi yang sama serta harapan yang sama. Mereka sepakat membentuk Satu Jiwa sebagai satu gerakan kepedulian, bukan sebagai satu klub atau satu komunitas. “Gerakan kepedulian ini tidak membatasi aksinya pada hanya hal yang berhubungan dengan vespa, walaupun diawalu dengan satu hobi, yakni vespa,” ujar Ketua Gerakan Satu Jiwa, M Ridwan Hasnan, Jumat (17/9) malam.

Aksi-aksi yang diusung oleh satu gerakan kepedulian ini dimulai dari kegiatan sosial, kurban, kunjungan ke panti asuhan, dan kegiatan yang bersifat edukatif kepada masyarakat. Aksi-aksi yang diupayakan oleh Satu Jiwa ialah sesuatu hal yang dapat menghilangkan persepsi, yang dikatakannya mungkin masih ada yang kurang pas terhadap perkumpulan penyuka kendaraan roda dua pada umumnya. “Kami mencoba menyampaikan bahwa ini menjadi satu hal yang jernih. Jadi kami itu berkumpul untuk mencari manfaat,” terangnya.

Satu Jiwa harus membawa tiga semangat dalam berjalannya gerakan ini, yakni silaturahmi, bahagia dan peduli. Mereka bersama-sama menyepakati visinya yang selalu ingin mendatangkan manfaat kepada masyarakat. Aplikasinya ialah, kata Ridwan, apapun yang kembali ketiga semangat itu, itulah Satu Jiwa. Kongkretnya yang dilakukan ialah beberapa kegiatan yang diharapkannya menjadi manfaat kepada masyarakat umum, khususnya juga kembali bermanfaat pada para anggota Satu Jiwa.

Yang ingin disampaikan secara khusus olehnya ialah kegiatan yang dilakukan oleh Satu Jiwa ini diusahakan selalu bersifat positif, pada satu lintasan yang fokus pada hal-hal yang positif. Dikatakan Ridwan, gerakan ini ditetapkan hari jadinya pada sata dilaksanakan kegiatan pertama oleh Satu Jiwa pada 5 Mei 2013 lalu. Kegiatan yang diusung dengan nama Bhinneka Tunggal Vespa. Semangat-semangat yang tersisa dari acara tersebut masih terus dibawa. “Salah satunya dengan menggunakan kaus acara itu,” katanya sambil menunjukkan kaus yang dikenakannya.

Gerakan ini memang diprakarsai di Kota Pontianak. Akan tetapi, gerakan ini disikapi secara positif oleh para penyuka kendaraan klasik di Kalimantan Barat. Bahkan, hingga ke luar Kalbar juga. “Inilah uniknya hobi,” katanya yakin. 

Hubungan-hubungan secara fisik dan hubungan batin sangat cepat terjalin. Karena berdasarkan hobi, sesama penyuka kendaraan klasik itu dapat bertukar pikiran dan semakin didekatkan oleh apa yang mereka sukai itu. “Tetapi kegiatannya haruslah bermanfaat,” timpalnya lagi.

Vespa, sebagai kendaraan yang memiliki penggemar yang tersebar di seluruh di Indonesia memiliki keunikan dalam kata-kata yang diusung oleh para penggemarnya, semisal ‘Satu Vespa Sejuta Saudara’. Kata-kata seperti itu, langsung membekas ke dalam batin setiap pengguna vespa.

Bukti paling gampang yang dapat dtemukan menjadi dampak dari kata-kata tersebut ialah, ketika seorang pengguna vespa berpapasan, mereka saling menyapa. Ketika mereka mengalami kesulitan pada motornya di jalan, dan di saat bersamaan terdapat pengendara vespa lain yang kebetulan lewat di jalan tersebut. Sebagai pengendara vespa, mereka pasti akan saling membantu dalam menyelesaikan masalah yang dimiliki vespanya masing-masing.

Kedepannya cita-cita yang ingin dibawa oleh Satu Jiwa ialah dengan mencari dan melestarikan kendaraan klasik yang ada di Kalbar. Sehingga mereka bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat dari daerah lain untuk datang berkunjung ke Kalbar. “Cita-cita itu sedang kami bangun melalui Satu Jiwa dan selanjutnya dapat berkembang dan selalu memberikan manfaat yang lebih besar,” katanya.

Bebeberapa kegiatan itu puncaknya akan dilaksanakan bersamaan dengan memperingati HUT Kota Pontianak yang ke-245 Oktober mendatang. Dalam kegiatan itu murni dilaksanakan kegiatan yang bersifat hobi, bukan komersil. Setelah acara itu selesai, jika terdapat satu pemasukan dalam acara tersebut, dana itu akan didistribusikan kepada kegiatan sosial.

Acara puncak yang diusung dengan nama ‘Vespa Satu Jiwa untuk Khatulistiwa’ itu ialah kali kedua mereka melaksanakan even akbar vespa di Kalbar. Ketua Panitia acara tersebut, Ramdhani mengatakan, filosofi acara ini sebagai Satu Jiwa. Kebersamaan pada pecinta kendaraan roda dua khususnya vespa. Baik vespa klasik, standar atau modifikasi. “Kami mencoba membuat animo mereka terhadap vespa dapat kembali lagi,” kata bapak berambut putih ini.

Menurut pengamatannya, vespa dewasa ini tidak lagi memiliki tempat khusus di masyarakat. Kendaraan ini sangat mudah untuk disingkirkan dan diganti dengna kendaraan yang baru dan lebih bagus. Mereka yang masih mencintai kendaran ini mungkin masih menyimpannya di garasi mereka. Akan tetapi tak sedikit juga yang menjual vespa dalam keadaan yang mengenaskan bagi pecinta vespa. Bagian per bagian vespa dijual pada toko besi kiloan atau pembeli barang bekas.

Melalui acara yang akan dilaksanakan pada 29 – 30 Oktober itu, Satu Jiwa berusaha mengembalikan lagi animo dan semangat para pecinta vespa. Acara itu yang akan berisikan berbagai kegiatan seperti, kontes vespa, lomba desain logo, lomba lukis dan mewarnai anak-anak, dan kegiatan donor darah diusahakan dapat mengangkat kembali kecintaan pada vespa. “Masyarakat bisa datang dan menilai langsung bagaimana kegiatan vespa. Jangan hanya dinilai sebelah mata,” katanya.

Membawa mereka keluar dari tempat mereka selama ini bersembunyi. Tentu, acara ini juga akan menghidupkan kembali bengkel-bengkel atau toko aksesoris yang selama ini tutup karena popularitas vespa yang menurun. Acara ini diharapakan dapat berlanjut tiap tahunnya setelah dua tahun absen. Sehingga bisa merangkul komunitas-komunitas lain di Pontianak.

Semangat-semangat itu akan terus dibakar agar kendaraan klasik ini tetap memiliki tempat di hati di masyarakat oleh para pecintanya. “Kami mencoba menghidupkan kembali sang legenda tanpa batas usia, Vespa,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait