Hidup Satwa Purba Menggoda

Hidup Satwa Purba Menggoda

  Sabtu, 11 November 2017 10:00
PENYU HIJAU: Pengunjung pantai Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas melihat langsung penyu hijau, yang tergolong satwa langka bertelur.ADONG EKO/ PONTIANAK POST

Berita Terkait

Kurang lebih tigabelas jam perjalanan dari Pontianak menuju Paloh ditempuh. Semua lelah di perjalanan terbayarkan, ketika dapat melihat langsung penyu hijau (chelonia mydas) bertelur di semak-semak pohon yang tumbuh di tepian pantai Temajuk, Minggu (5/11).

ADONG EKO, Paloh 

INI perjalanan pertama saya ke Paloh, Sambas. Ada Festival Pesisir Paloh, yang satu kegiatannya melepaskan tukik (anak penyu) di pantai sekaligus melihat lebih dekat kehidupan satwa langka itu kembali ke pantai untuk bertelur. Ini kesempatan yang tak boleh disia-siakan.

Belasan jam  perjalanan itu dimulai. Dari Pontianak, berangkat menuju ekor Borneo, sekitar pukul tujuh pagi. Dari jalan mulus, hingga berlubang dilewati. Menyeberangi sungai menggunakan kapal penyeberangan, hingga akhirnya, sekitar pukul delapan malam kami di pantai dengan panjang sekitar 63 kilometer itu.

Tibalah di lokasi peristirahatan, yakni di camp WWF, organisasi perlindungan yang fokus pada kegiatan konservasi. Lelah menempuh perjalanan berjam-jam itu, terbayarkan oleh indahnya pemandangan pantai dan deru suara ombak. Bahkan lebih bahagia lagi, ketika salah satu relawan penjaga penyu mengabarkan jika saat itu ada tiga ekor penyu naik ke pantai untuk bertelur. 

Lelah dalam perjalanan itu pun terasa hilang. Bagi saya yang tidak pernah memandang secara langsung satwa dilindungi itu, tentu kabar keberadaannya adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu. Kami bergegas menuju bibir pantai Temajuk tepatnya di Dusun Sungai Belacan.

"Jarak lokasi sarang sekitar 2,5 kilometer. Jalan saja dulu, nanti kami jemput dengan motor," kata Petugas Pengawas Penyu, Hermanto. 

Menelusuri bibir pantai, ditemani gemuruh ombak, saya tiba di lokasi bertelur. Meski tak begitu dekat, proses bertelur hewan bercangkang dapat terlihat, mulai dari menggali pasir atau membuat lubang hingga menyembunyikan telur agar tak dimangsa predator. 

"Kalau pas bertelur, tidak boleh diganggu. Tunggu 30 menit sampai satu jam proses bertelur berlangsung, baru mendekat dan silakan diabadikan," ucap Pak Itam panggilan Hermanto.

Sambil menunggu proses bertelur, di tepian pantai tampak jejak penyu menuju sarang. Jejak itu, secara tidak langsung dapat menggambarkan ukuran penyu yang naik ke permukaan. Sebagai hewan yang cukup sensitif, saat proses bertelur berlangsung, penyu benar-benar tak boleh diganggu, tak boleh ada cahaya bahkan tak boleh ada suara.

"Kalau ada cahaya, Penyu akan mengurungkan niatnya untuk bertelur. Dia akan kembali ke pantai. Oleh karena itu, harus dijaga, jangan sampai ada sinar dan suara,"Pak Itam menjelaskan.

Sabar menunggu proses bertelur akhirnya terbayarkan. Setelah lebih dari satu jam, penyu menuntaskan pekerjaannya. Setelah telur-telur selesai dikeluarkan, ia kembali menutup lubang dengan pasir.

"Penyunya sudah selesai bertelur. Sudah boleh dilihat. Tetapi kalau ingin mengambil gambar, usahakan pencahayaannya tidak dari depan, karena hewan ini sensitif. Pencahayaan bisa membuat matanya buta atau penglihatannya terganggu," tutur pak Itam, pria berusia 43 tahun itu. 

Saat itu, saya dapat melihat langsung bagaimana keempat tungkai penyu itu mengibas-ngibaskan pasir untuk menutupi puluhan telurnya. Saya bisa melihat langsung bagaimana penyu menggerakan badan untuk mengarahkan kepalanya ke pantai. Bahkan melihatnya bergerak menuju pantai dan meninggalkan sarangnya dan akan kembali pada musim bertelur selanjutnya.

Perlahan tapi pasti, gerak penyu itu pelan menuju pantai. Tugasnya tuntas menyiapkan generasi selanjutnya. Telur akan berada di dalam pasir kurang lebih selama 44 hari, selanjutnya menetas dan tukik akan keluar dari cangkang menuju kehidupannya di pantai lepas. 

"Kalau secara alami, telur di dalam sarang akan menetas selama 44 hari. Tukik keluar dari cangkang dan akan menuju pantai," kata pak Itam yang juga bertugas sebagai petugas Balai Pengolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pontianak. 

Namun kali ini telur-telur di bawah vegetasi (semak dan bawah pohon) itu tak dibiarkan di sarang, telur terpaksa dipindahkan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Air laut tengah pasang, dikhawatirkan akan merendam telur, sehingga berdampak telur tak dapat menetas.

"Jika kondisi air laut tidak pasang, maka telur akan dibiarkan menetas secara alami. Tetapi karena kondisi air laut selalu pasang, telur akan kami pindahkan ke penangkaran," kata pria berkumis tipis itu. 

Telur-telur itu rentan dicuri. Masih ada saja, masyarakat yang diam-diam memanfaatkan kesempatan, mengambil telur lalu menjualnya. "Dari seribu tukik yang menetas, hanya satu saja yang mampu bertahan hidup. Kalau telur tidak dijaga, maka hewan ini akan punah," ungkap Pak Itam, malam itu.

Malam itu, saya benar-benar beruntung. Karena kedatangan kami, di penghujung musim bertelur. Perjalanan benar-benar terbayarkan dengan hasil yang tak mengecewakan. Tiga ekor penyu bertelur di sektor lima dan tujuh pantai Temajuk.

"Kalau melihat lebar jejak, kira lebar cangkangnya 93 sentimeter dan panjang cangkang 93 sentimeter. Untuk usianya, saya tidak bisa memastikan, yang jelas pertama kali kawin usianya 30 tahun," ungkap Pak Itam menutup perbincanganya dengan saya. 

Proses bertelur selesai, Pak Itam bersama kedua rekannya menggali sarang. Satu demi satu telur dimasukkan ke dalam ember, lalu dibawa menuju penangkaran yang jauh lebih aman. Saat bersamaan, di penangkaran, ratusan telur menetas, tukik-tukik kecil dengan lucunya berusaha keluar dari cangkang.

Malam itu saya bukanlah orang satu-satunya orang yang pertama kali melihat penyu bertelur. Ada Angelica Malva. Siswi kelas sembilan SMP Pelita Cemerlang Pontianak itu rela-rela berjam-jam menempuh perjalanan untuk datang ke pantai Paloh melihat penyu.

"Baru ini melihatnya, luar biasa rasanya bisa memandang penyu secara dekat, hewan besar dan menggemaskan," kata gadis berusia 14 tahun itu. 

Saking kagumnya, tak mau meninggalkan pantai sebelum penyu benar-benar hilang dari pandangannya. "Tadi selesai bertelur, saya mengikuti penyu yang hendak menuju pantai. Jalannya pelan, tapi begitu masuk ke air langsung hilang,” tutur Malva.

Malva berharap masyarakat dapat menjaga keberlangsungan hidup penyu, agar tidak punah dan dapat dilihat generasi yang akan datang. "Penyu hewan yang langka dan hampir punah, sudah seharusnya, masyarakat melindungi dan menjaganya dengan tidak mencuri dan menangkapnya,” ucap gadis berambut panjang itu. (*)

Berita Terkait