Hidup Enak Jadi Pengemis di Kota Pontianak

Hidup Enak Jadi Pengemis di Kota Pontianak

  Selasa, 29 March 2016 21:11
DIAMANKAN: Cecep, pengemis asal Bandung yang diamankan petugas saat berpatroli, yang berpura-pura cacat dalam melakukan aktivitas menarik simpati masyarakat. CHAIRUNNISYA/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

BEKERJA menjadi pengamis di Kota Pontianak ternyata cukup menjanjikan. Penghasilan dengan cukup mengulurkan tangan ini bisa mendapatkan uang Rp2,1-2,8 juta per hari. Dengan uang itu tak heran, pengemis mampu memiliki handphone, punya kebun dan rumah di kampong halamannya. Sebagian besar pengemis di kota ini berasal dari Jawa Timur.

Saat ini sedikitnya ada 14 pengemis diamankan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) bersama Satpol PP Kota Pontianak. Mereka terjaring razia di sejumlah lokasi seperti Pasar Mawar, Flamboyan, Nusa Indah, Dahlia, Kemuning, dan beberapa ruas jalan seperti Jalan Diponegoro, Tanjung Raya I, SPBU Tanjungpura, SPBU MT Haryono dan beberapa jalan lainnya. Saat ini ditampung di Pusat Layanan Anak Terpadu (PLAT) Jalan Ampera Pontianak.
Berbagai cara dilakukan pengemis untuk menarik simpati masyarakat. Bahkan ada yang merelakan dirinya seolah-olah penyandang cacat agar bisa menaruh belas kasihan. Dinsosnaker Pontianak belum lama ini menjaring seorang pengemis yang berpenampilan seperti orang cacat atau lumpuh. Ternyata, ketika dibawa ke PLAT dan diperiksa, pengemis itu tidak lumpuh dan dapat berdiri serta berjalan secara normal.

Ada pula yang memang penyandang cacat tetapi dia dieksploitasi dan dijadikan sebagai sumber untuk memperoleh penghasilan bagi keluarganya. “Keluarga pengemis itu mengawasi dan memantau dari kejauhan. Itu terpantau oleh petugas Dinsosnaker,” kata Walikota Pontianak Sutarmidji.
Sedangkan pengemis anak-anak di bawah umur berdomisili di Gang Semut yang beroperasi di perempatan lampu merah dan terjaring penertiban oleh Dinsosnaker. Pemkot akan mengusut tuntas dan membongkar pemukiman di lokasi tempat mereka bermukim.
Salah seorang pengemis yang terjaring razia selama dua kali, Yulis Kurnia (41) asal Sumenep, mengaku dirinya datang ke Pontianak untuk mengemis atas ajakan rekannya yang sudah lebih dulu mengemis. Ia tertarik tawaran rekannya lantaran penghasilan mengemis di Pontianak lumayan banyak. Bahkan, sebelumnya, ia sudah pernah tertangkap dan dipulangkan ke daerah asalnya. Kemudian kembali lagi ke Pontianak dan terjaring razia kedua kalinya. “Saya datang ke sini bertiga dengan teman naik kapal laut. Sampai di sini saya dijemput oleh teman sesama pengemis terus mengontrak rumah di Siantan,” tuturnya saat ditemui di PLAT.
Di daerah asalnya, ibu tiga anak ini mengaku memiliki suami yang bekerja sebagai penjahit. Ia juga kerap menghubungi keluarganya di Sumenep via telepon seluler yang dimilikinya. Selama mengemis di Pontianak, Yulis mampu meraup sekitar Rp 70 ribu hingga Rp 90 ribu per hari atau Rp 2,1 juta hingga Rp 2,7 juta per bulan.

“Saya turun mengemis mulai subuh, pulang sekitar pukul 21.00 – 22.00 WIB. Sebagian penghasilan saya dikirim ke Sumenep, biasanya Rp 500 ribu per bulan,” kata Yulis.(humas pemkot)

Berita Terkait