Hidayatullah Negarawan El Islami, Ketua PPI Filipina yang Kuasai Enam Bahasa

Hidayatullah Negarawan El Islami, Ketua PPI Filipina yang Kuasai Enam Bahasa

  Kamis, 25 Agustus 2016 09:30
BAKAT POLIGLOT: Hidayatullah berpose di sebuah taman di Kota Makati, Filipina. DHIMAS GINANJAR/JAWA POS

Berita Terkait

Sulit menguasai bahasa asing? Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Filipina Hidayatullah punya cara yang mudah untuk ditiru. Dia sekarang bisa menguasai enam bahasa asing. 

DHIMAS GINANJAR, Manila 

MOBIL Uber yang saya dan Hidayatullah tersendat cukup lama di jalan dari Quezon menuju Makati. Untuk membuang jenuh, kami mengajak Rico, sang sopir, untuk mengobrol. 

Dalam obrolan itu, Rico mengaku bahwa dirinya sebenarnya bekerja di Aljazair. Saat ini dia sedang cuti pulang ke Filipina. Dan, untuk mengisi hari-hari cutinya sekaligus untuk mencari tambahan penghasilan, dia menjadi sopir Uber. 

Untuk membuktikan pengakuan Rico, Aya –panggilan Hidayatullah– lantas mengajak sopir itu berbahasa Prancis. Mengingat, bahasa Prancis sering dipakai di negara yang terletak di Afrika Utara itu. 

Namun, Rico meminta maaf karena tidak bisa ngobrol dengan bahasa yang menurutnya sulit tersebut. Dari pertemuan itu, saya jadi tahu bahwa Aya jago berbahasa asing. Bahkan, tidak hanya satu bahasa, tapi enam bahasa sekaligus. Yakni, bahasa Arab, Inggris, Prancis, Swahili (Afrika Timur), Visaya, dan Tagalog.

’’Visaya atau Bisaya merupakan bahasa yang digunakan orang-orang di Filipina Selatan, sedangkan Tagalog bahasa ibu Filipina,’’ terang Rico. 

Sembari duduk di salah satu minimarket di Makati, pemuda yang lahir di Jakarta, 1 Maret 1985, itu mulai bercerita tentang kemahirannya berbahasa asing. Aya memang diberi bakat khusus untuk gampang menguasai bahasa asing. Semua berawal dari setamat SD di Pejaten Timur, Jakarta, Aya pindah ke Padang, Sumatera Barat. Di sana, dia bersekolah di MTs Koto Panjang Lampasi.

Dari situ, mulailah Aya belajar dasar-dasar bahasa Arab. Namun, hanya setahun dia di Padang. Dia lantas pindah lagi ke Sukabumi untuk belajar di Pondok Pesantren Syamsul Ulum. ’’Belajar bahasa Arab-nya makin serius karena tuntutan kurikulum pondok,’’ imbuhnya.

Dia dituntut bisa cepat menguasai bahasa Arab. Sebab, bahasa Arab menjadi bahasa komunikasi sehari-hari di pondok. Dia pun mencari cara supaya cepat bisa. Salah satu yang dilakukan adalah menuliskan kosakata bahasa Arab dalam huruf latin. 

’’Waktu awal, apa yang saya ucap saya tulis,’’ tuturnya.

Anak kedua di antara empat bersaudara itu menjelaskan, setiap hari minimal dirinya harus hafal lima kosakata bahasa Arab, berikut penulisannya. 

’’Saya juga mempraktikkan dalam percakapan sehari-hari. Biar cepat masuk ke memori,’’ katanya. ’’Kalau tidak segera dipraktikkan, yang sudah dihafal bisa hilang lagi,’’ tambah Aya.

Dia biasa belajar bahasa asing setelah subuh. Pada jam-jam itu, diasumsikan otak masih fresh untuk menerima ilmu. Setelah itu, selama 15 menit, dia ber-conversation dengan santri yang lain. ’’Pas makan juga bawa kamus untuk menghafal kosakata baru,’’ ingatnya. 

Makin mahir berbahasa Arab membuat Aya ingin terus mendalaminya. Dia lalu mengikuti jejak gurunya, Iskandar, yang merupakan alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor. Saat SMA, dia pergi ke Ponorogo untuk memperdalam bahasa Arab sekaligus bahasa Inggris. Dua bahasa asing itu memang dijadikan bahasa komunikasi sehari-hari di Gontor. 

”Di Gontor terkenal banget disiplinnya. Lulusannya pasti bisa bahasa Arab dan Inggris,” kenangnya. 

Saat mondok di Gontor, porsi bahasa Arab memang paling besar. Tapi, dia juga harus membiasakan diri dengan bahasa Inggris. Sebab, pada hari-hari tertentu, santri harus berkomunikasi dengan bahasa internasional itu. 

Aya menggunakan teknik yang sama seperti saat belajar bahasa Arab ketika belajar bahasa Inggris. Setiap hari menghafal lima kosakata. Tapi, dia mengakui agak kerepotan karena di Gontor bahasa Arab lebih dominan daripada bahasa Inggris. ”Akibatnya, awalnya saya agak kewalahan. Bahasa Inggris saya hanya dapat nilai 6. Sedangkan bahasa Arab saya 9.”

Aya juga ingat, di Gontor ada mahkamah bahasa yang digelar setiap hari. Mahkamah itu bertugas menyidang santri yang lupa tidak berbahasa Arab atau Inggris dalam berkomunikasi. Hampir setiap hari ada saja santri yang disidang. Aya sendiri sering disidang karena lupa berkomunikasi dengan dua bahasa asing tersebut. ”Tidak terhitung berapa kali saya disidang,” kata dia, lantas terbahak.

Aya menjelaskan, cara menghafal lima kosakata itu membuatnya lebih kaya perbendaharaan kata. Setelah itu, baru struktur bahasanya yang dipelajari. 

Itu dia buktikan ketika lulus dari Gontor dan mendapat beasiswa untuk kuliah di International Islamic Call College Tripoli, Libya, pada 2006. Kampus tersebut menggunakan bahasa Arab untuk komunikasi. Aya pun tidak menemui kesulitan karena sudah mahir berbahasa Arab. Meski bahasa Arab yang digunakan tidak sama persis dengan yang dia pelajari selama ini. ”Istilahnya, bahasa Arab-nya pasaran. Kalau di Indonesia seperti lo gue. Bukan bahasa Arab baku,” ungkapnya. 

Selain bahasa Arab yang makin terasah, Aya penasaran dengan bahasa Swahili yang biasa digunakan di kawasan Afrika Timur. Bahasa Swahili sampai saat ini masih digunakan sekitar 100 juta orang di Afrika.

Aya mengaku butuh waktu empat tahun untuk bisa lancar mengucapkan dan memahami bahasa Swahili. Cara yang digunakan juga masih sama, tetapi ditambah percaya diri untuk selalu berbicara dengan orang asli di sana. Kebetulan, teman-temannya kuliah berasal dari negara pengguna bahasa Swahili. ”Setiap ada kata baru, saya catat. Kalau ketemu teman, saya tanyakan,” ujarnya.    

Memasuki tahun ketiga di Libya, Aya mulai belajar bahasa Prancis. Sebab, banyak negara di Afrika yang bekas jajahan Prancis. Sehingga banyak pula penutur bahasa Prancis di sana. Kali ini Aya bonek (bondo nekat). Dia tidak segan-segan nimbrung di tengah teman-temannya yang sedang berbicara dalam bahasa Prancis. ”Bahasa Prancis saya ngawur saja. Sehingga sering diketawain,” cerita dia.

Aya tahu bahasa Prancis punya teknik pengucapan yang sangat sulit. Karena itu, dia lebih suka mengikuti cara pengucapan temannya yang sudah fasih. Hasilnya, dia ”hanya” butuh waktu dua tahun untuk menguasai bahasa tersebut.

Ketika lulus (dari Libya) pada 2011, Aya sudah menguasai empat bahasa asing, yakni Arab, Inggris, Swahili, dan Prancis. Dia merasa beruntung karena selama kuliah keempatnya juga digunakan sehingga kemampuannya terus terasah. Tapi, banyak menguasai bahasa asing membuatnya kerap keseleo lidah. ”Kalau ngomong, bahasa Arab-nya suka muncul,” ucapnya.

Akhir 2013, setelah mengambil kuliah di Universitas Padjadjaran untuk convert beberapa mata kuliah yang tidak ada di Libya, Aya memutuskan untuk menuju Davao, Filipina Selatan. Dia mengambil business administration di Universitas Immaculate Conception. Dia memilih Filipina untuk melanjutkan studinya karena murah dan menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi.

Di Davao Aya mulai mempelajari bahasa Visaya yang menjadi bahasa sehari-hari di kota itu. Polanya juga sama, mendengarkan orang berbicara di mana saja. Paling sedikit lima kosakata yang dia catat untuk ditanyakan lagi ke teman kuliahnya supaya disempurnakan. ”Dengan mencatat itu, saya dapat dua keuntungan. Makin ingat dan tahu tulisannya,” jelas dia. Baru pada tahun kedua di Davao Aya berani berbicara dengan bahasa Visaya. 

Bagaimana bahasa Tagalog? Aya mengungkapkan, tidak ada teknik khusus untuk mempelajarinya. Kebiasaan mondar-mandir Manila–Davao membuatnya tidak asing dengan bahasa itu. Apalagi, pada Maret 2016 dia terpilih sebagai ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Filipina. Maka, makin cepat dia menguasi bahasa nasional negara tetangga tersebut.

Meski sudah mahir enam bahasa asing, Aya masih ingin menguasai beberapa bahasa manca lainnya. Salah satunya bahasa Spanyol. Dia sedang memulainya. Lewat grup Clash of Clans anak Spanyol, Aya mempelajari beberapa kosakata Spanyol. ”Baru tipis bisanya. Sebatas obrolan ringan soal perang dan minta tentara,” katanya.

Selain itu, mumpung masih muda, Aya menargetkan dalam lima tahun ke depan bisa berbahasa Mandarin, Korea, dan Jepang. Semuanya bakal dipelajari dengan teknik menguasai tulisan dulu. Karena itulah, saat terdengar lagu Korea, dia biasanya ikut menyanyi. ”Tiongkok akan menguasai perdagangan. Jepang dan Korea unggul di teknologi. Saya harus bisa menguasai bahasanya,” tegas dia. (*/c5/c9/ari)

Berita Terkait