Hentikan Diskriminasi-KDRT pada Perempuan dan Anak

Hentikan Diskriminasi-KDRT pada Perempuan dan Anak

  Selasa, 26 April 2016 09:30
UNDANGAN: Seluruh tamu undangan yang hadir memadati aula kediaman dinas Wali Kota Pontianak.

Berita Terkait

Pemkot Pontianak Peringati Hari Kartini ke-137

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Pontianak melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan Anak dan Keluarga Berencana (BPMPAKB) Kota Pontianak menggelar perayaan Hari Kartini ke-137 di aula kediaman dinas Wali Kota Pontianak, Senin (25/4).

Perayaan berlangsung semarak, dirangkai dengan berbagai kegiatan yang turut dihadiri Wali Kota, para pejabat serta Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) di jajaran Pemkot Pontianak. Tiga hal yang disoroti sebagai tema kegiatan yaitu dengan semangat Hari Kartini mari akhiri kekerasan pada perempuan dan anak, perdagangan manusia dan ketidakadilan perempuan pada akses sumber daya ekonomi.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Pontianak, Lismaryani Sutarmidji berpesan, kepada kaum perempuan, meski sudah mengenyam pendidikan tinggi, ketika telah memiliki suami sekaligus ibu bagi anak-anaknya jangan sampai melupakan kodratnya. “Dalam kehidupan rumah tangga wanita tidaklah sama dengan laki-laki, dalam hal ini suaminya, sebab suami tetap sebagai kepala rumah tangga dan pemimpin dalam keluarga,” ujarnya.

Dia berharap di Kota Pontianak tidak ada lagi diskriminasi, kekerasan terhadap perempuan dan anak maupun tingkat perceraian yang tinggi. Hari Kartini yang diperingati setiap tahun, tidak hanya sekadar memperingati dengan kegiatan saja tetapi harus muncul figur-figur Kartini baru yang juga bisa melegenda. "Sebuah bangsa akan maju tergantung pada kualitas perempuan dan di balik suksesnya sebuah keluarga tidak terlepas dari peran kaum perempuan, baik sebagai istri maupun sebagai ibu dari anak-anaknya,” tuturnya.

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengatakan, dalam memaknai Hari Kartini, Pemkot Pontianak berupaya melakukan pencegahan dengan mengampanyekan agar tidak terjadi tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maupun terhadap anak-anak. Predikat sebagai Kota Layak Anak (KLA) juga diharapkan bisa ditingkatkan lagi ke peringkat Nindya. “Kami juga kampanyekan kewajiban seorang perempuan sebagai seorang ibu untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya,” ungkap dia.

Upaya konkret yang dilakukan pihaknya untuk mencegah terjadinya perdagangan manusia dimana kaum perempuan kerap menjadi korban, yakni dengan menggelar secara rutin razia rumah-rumah kos dan penginapan yang disinyalir sebagai tempat praktik prostitusi. “Kami selalu gencar dan rutin melakukan razia rumah-rumah kos atau hotel-hotel yang disinyalir sebagai tempat praktik prostitusi,” terang Sutarmidji. 

Terkait kesetaraan gender antara kaum laki-laki dengan perempuan, hal itu tidak perlu dikuatirkan. Sebab, di Kota Pontianak terutama di jajaran Pemkot, dirinya sudah menerapkan kesetaraan gender dengan memberikan kepercayaan kepada kaum perempuan untuk menduduki jabatan-jabatan strategis yang umumnya dipimpin kaum pria. “Misalnya Inspektorat, Kasatpol PP, Kepala Dishubkominfo dan beberapa kepala SKPD dipimpin kaum perempuan,” pungkasnya.

Kepala BPMPAKB Kota Pontianak, Darmanelly menyatakan, jika sejauh ini kekerasan terhadap kaum perempuan terlihat semakin meningkat justru dikarenakan masyarakat sudah mengetahui cara untuk melapor. “Jika dulu itu dianggap aib rumah tangga, sekarang mereka sudah berani melapor, karena kami rutin menyosialisasikan bahwa hal tersebut merupakan tindak pidana, Alhamdulillah semua kasus bisa ditangani,” katanya.

Kemudian untuk perdagangan manusia jika dulunya kebanyakan kasus merupakan penjualan ke luar negeri, sekarang ini yang mengkhawatirkan justru yang berada di lingkungan sekitar. Bahkan ada anak di bawah umur yang dijual, dijadikan pemuas nafsu hidung belang. “Sampai-sampai anak-anak itu sendiri yang menjadi pelaku menawarkan sesama teman, ini harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Mengenai ketidakadilan perempuan pada akses sumber daya ekonomi, di Pontianak dikatakan sudah sangat terbuka luas. Antara perempuan dan laki-laki mempunyai akses sama. Bahkan banyak perempuan mampu bekerja dengan baik dan menduduki jabatan di berbagai bidang. "Hanya jangan sampai perempuan yang aktif di sektor publik merasa kelelahan di sektor domestik," harapnya.

Hal senada juga diutarakan Kepala Dishubkominfo Kota Pontianak Utin Srilena Candramidi, menurutnya, kepercayaan masyarakat terhadap dirinya hingga bisa menjadi salah satu birokrat perempuan tak lepas dari peran RA Kartini. “Berkat perjuangan RA Kartini perempuan sudah diakui, kerjanya tidak hanya sekadar di dapur dan kasur tapi juga mampu berkiprah melaksanakan pembangunan negara,” ucapnya. 

Meski demikian, dirinya tetap menyadari kodrat sebagai perempuan, baik menjadi istri maupun ibu dari anak-anaknya. “Saat pulang ke rumah wanita harus menyadari kodratnya, jangan membesarkan ego, apapun jabatannya di luar, saat pulang semua harus dicopot,” pungkasnya. (*)

Narasi : Idil Aqsa Akbary/Pontianak Post dan Humas Pemkot

Foto : Shando Safela/Pontianak Post 

PUTRI: Para finalis Putri Kartini Kota Pontianak Tahun 2016 menunjukkan aksinya berjalan di catwalk.

 

SAYANG IBU: Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Pontianak, Lismaryani Sutarmidji memberikan piagam kepada kecamatan yang masuk tiga besar Gerakan Sayang Ibu.

 

 

DUET: Wali Kota Pontianak beserta istri berduet menyumbangkan sebuah lagu memeriahkan perayaan ke-137 Hari Kartini.  

 

 

MENYANYI: Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin ikut menyanyikan sebuah lagu dalam perayaan peringatan ke-137 Hari Kartini.  

 

 

PEJABAT: Para pejabat di Kota Pontianak yang hadir saat acara peringatan ke-137 Hari Kartini. 

 

Berita Terkait