Hendro Gondokusumo Bicara tentang Kualitas Pertumbuhan Ekonomi

Hendro Gondokusumo Bicara tentang Kualitas Pertumbuhan Ekonomi

  Senin, 25 January 2016 09:35

Sektor infrastruktur, properti, teknologi informasi, serta finansial bakal menjadi pilar perekonomian Indonesia pada masa mendatang. Tiang-tiang penyangga ekonomi itu bakal berdiri kukuh ketika fondasi modal dasar berupa pasar yang luas dengan jumlah penduduk yang besar bisa dimaksimalkan.

Pemikiran tersebut diungkapkan Hendro Santoso Gondokusumo, 65, saat ditemui di Intiland Tower, Jakarta, belum lama ini. CEO PT Intiland Development Tbk itu menekankan, besarnya jumlah penduduk di Indonesia menjadi salah satu kunci pertumbuhan ekonomi. Dia mencontohkan Tiongkok yang bisa memaksimalkan potensi tersebut.

’’Dulu orang lihat populasi di Tiongkok yang banyak itu berarti beban. Sekarang pas mereka (Tiongkok, Red) berkembang, anggapan itu sudah berubah jadi big population is a big opportunity,’’ ujarnya.Hal tersebut, lanjut Hendro, juga bisa sejalan dengan Nawacita pemerintah yang tengah menggenjot pertumbuhan masyarakat dari pinggiran. Sebab, pria yang juga founder ERA Indonesia itu yakin pertumbuhan ekonomi yang baik adalah yang adil dan merata bagi seluruh kalangan. Pertumbuhan tersebut mesti melibatkan semua segmen, baik masyarakat kelas bawah maupun kelas atas.

Perbaikan sektor infrastruktur juga menjadi salah satu mesin pendorong. Adanya fasilitas umum yang baik, transportasi publik yang tercukupi, serta fasilitas utama lain seperti pelabuhan, bandara, hingga stasiun yang memadai merupakan kunci pertumbuhan. Dengan ketersediaan infrastruktur, lanjut dia, biaya logistik bisa ditekan.

’’Saya lihat kemauan Pak Jokowi untuk memajukan sektor-sektor itu cukup bagus ya,’’ tambah pria yang gemar minum teh tersebut.

Hendro juga yakin Indonesia mampu bersaing pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Sebab, kata dia, berbagai potensi yang dimiliki Indonesia akan membuat negara lain ingin masuk ke negara ini. Artinya, Indonesia masih dianggap sebagai pasar yang sangat potensial bagi negara lain.

Dia juga mengungkapkan, perbaikan infrastruktur dan stabilitas politik akan meningkatkan daya saing sehingga bisa lebih kompetitif jika dibandingkan dengan negara lain di ASEAN. ’’You mau minta negara mana yang jadi saingan? Penduduk kita itu besar. Itu saja sudah potensi,’’ tegasnya.

Namun, di sisi lain, dia menyebut beberapa hal masih menjadi ganjalan bagi pertumbuhan ekonomi. Salah satunya peraturan dan kebijakan yang masih tumpang tindih. Hendro beranggapan, pemerintah semestinya mempermudah masyarakat dalam membuka usaha di tanah air. Dia menegaskan, pemerintah harus lebih responsif dalam membuat peraturan yang lebih pro terhadap dunia usaha.

Selain itu, minimnya kualitas sumber daya manusia (SDM) bisa menjadi kendala. Dari sisi neraca perdagangan, jelas Hendro, Indonesia juga mesti berbenah. Anjloknya harga komoditas dunia otomatis membuat ekspor Indonesia yang didominasi ekspor komoditas ikut terjun bebas.

Dia juga mengimbau agar ekspor industri kreatif tetap berjalan baik. Sebab, dia percaya, terakselerasinya industri kreatif akan ikut mendorong tumbuhnya wirausaha baru di tanah air. Dengan begitu, semakin banyak pula lapangan kerja yang terbuka lebar.

Menurut Hendro, hal itu bisa terwujud jika syarat pemerintah dan seluruh sektor terkait mampu memberikan fasilitas bagi wirausahawan. ’’Mereka dididik, tetapi juga harus ada panggungnya,’’ tegasnya.

Dengan kerja sama seluruh pihak, Hendro yakin Indonesia bisa bertransformasi dari negara berkembang menjadi negara maju. Yang penting, lanjut dia, ada keyakinan dari setiap individu bahwa setiap usaha yang dijalankan dengan sungguh-sungguh dan tekun pasti akan membuahkan hasil.

’’Dari awal saya ingin sesuatu yang different. You bisa buat apa sesuatu yang berbeda dan unik, itu bagus. Kesulitan itu pasti ada, tapi harus tetap dihadapi dengan kuat dan tekun,’’ tuturnya.

Optimisme yang membuncah di dada Hendro memang tidak lepas dari kisah perjuangan bisnisnya. Berbekal kerja keras dan ketekunan, Hendro yang terlahir dari keluarga yang tidak bergelimang harta kini termasuk salah satu orang terkaya di tanah air.

Dia menceritakan, ayah, paman, dan banyak anggota keluarganya yang lain menggantungkan hidup dari berdagang hasil bumi. Menginjak usia 20 tahunan, Hendro mulai berpikir untuk menggeluti bidang lain yang merupakan sesuatu yang amat dicintainya.

’’Jadi, orang itu memang kadang enggak bisa dipaksain bahwa you mesti jadi ini atau you mesti jadi itu. Dulu keluarga saya tumbuh itu dari hasil bumi. Saya malah enggak interes sekali dengan kerja di bidang hasil bumi,’’ ungkapnya.

Kala itu ayah dan paman Hendro beralih usaha ke bisnis bidang properti. Hendro pun mencoba peruntungan di bidang itu. Dengan menjadi sales yang door-to-door, dia mengawali karir di bidang properti.

’’Waktu itu saya memasarkan proyek Taman Harapan Indah pada 1970-an kepada pedagang di Pasar Pagi. Itu susahnya minta ampun,’’ kenangnya. ’’Mereka maunya tinggal di ruko. Soalnya, bisa sambil jualan. Susah sekali lah pokoknya saat itu,’’ lanjut pria yang kini juga menduduki kursi ketua Asosiasi Pemilik Lapangan Golf Indonesia (APLGI) itu.

Namun, Hendro tak patah arang. Kegigihan dan ketekunanya berbuah manis. Berkali-kali dipersuasi, akhirnya satu dua pedagang luluh juga. Lama-kelamaan, karena banyak yang berhasil dipersuasi, pedagang-pedagang itu akhirnya mengajak rekan-rekan mereka untuk ikut pindah.

’’Bisnis itu harus ditekuni dulu. Mulai semuanya dari bawah. Baru dari sana akhirnya semuanya pasti bisa berkembang,’’ ujarnya.

Kini nama Hendro cukup disegani di bidang properti. Gurita bisnisnya pun ikut berkembang di berbagai wilayah di tanah air. (dee/c5/sof)