Hati Terasa Sejuk Berada Ditengah Tengah Santri

Hati Terasa Sejuk Berada Ditengah Tengah Santri

  Senin, 23 Oktober 2017 14:30

Berita Terkait

Suhadi Sw merasa sejuk berada ditengah tengah Santri, mereka sangat santun dan menghargai seniornya. mereka juga sangat disiplin, ketika disajikan makanan mereka tidak menyentuh sebelum dipersilahkan oleh Kyai atau Ustadz atau gurunya, sementara itu diluar pondok sana, etika kesopanan , kedisiplinan sudah mulai ditinggalkan,  makanya suhadi merasa betah berada ditengah tengah para Santri.

pada kesempatan tersebut, Suhadi didaulat oleh Ketua Panitia Peringatan Hari Santri ke 3 untuk memberikan motivasi kepada para Santri di Pondok Pesantren Al Jihad  Sui jawi Pontianak Barat, Pimpinan KH Abdul Mutolib.

Thema yang diusung dalam perayaan hari Santri tersebut, singkat padat dan penuh makna  "  Santri adalah cikal bakal pemimpin Massa Depan " . tema ini sangat tepat sesuai dengan makna dan arti dari Santri yaitu tiga kebaikan, yaitu Aklak. Ilmu dan Amal.

Aklak kata Suhadi Sw berkaitan dengan kejujuran, yaitu jujur kepada Tuhan, Jujur kepada diri sendiri, jujur kepada orang lain dan jujur kepada sesama mahluk ciptaan Tuhan.

Demikian juga Ilmu bahwa dipondok ini, banyak Ilmu yang bisa dipetik, pertama Ilmu Agama kedua masalah kedisiplinan, baik disiplin dalam menjalankan perintah Tuhan, disiplin dalam menjaga norma norma, baik norma agama maupun norma kesopanan dan ketiga terbangunnya Tali silaturahmi yang kuat antar sesama santri,  antar Orang tua Santri, dan yang tidak kalah hebatnya adalah terbangunya hubungan yang permanen antara Alumni dengan Almameternya.

berkaitan dengan hal itu, Suhadi mengajak para Santri untuk  membangun jaringan komunikasi yang kuat dengan para seniornya yang sudah duluan tamat.

menurut Suhadi saat ini Bangsa Indonesia sedang dihadapkan dengan lima masalah besar yaitu masalah Intoleransi, Radikalisme, Masalah Narkoba, masalah kesenjangan Sosial dan masalah Bonus Demografi 

masalah Intoleransi mulai merebak dimedia sosial, para santri jangan terjebak dengan informasi dimedia sosial.jika kita salah dalam menggunakan media sosial akan berhadapan dengan aparat penegak hukum.

demikian juga radikalisme mulai muncul mengatas namakan Agama, hal ini harus dicegah oleh para Santri.

Santri selalu muncul diwaktu yang tepat. ketika negara dihadapkan dengan Radikalisme para santri berada dibaris terdepan untuk melawannya.

demikian juga ketika masyarakat dihadapkan dengan maraknya peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkoba merebak, Pondok pesantren memberikan solusi dengan merehabilitasi para Pecandu.

ketika muncul kesenjangan sosial para Alumni Pondok pesantren memberikan solusi dengan Bank Syariah dan sebagainya.

ketika Bangsa ini sedang menghadapi Bonus Demografi,  dimana jumlah penduduk Produktif antara 15 sampai dengan 60 tahun, lebih banyak dari pada Jumlah penduduk non Produktif yaitu antara 1 tahun sampai 15 tahun.

kondisi ini kalau tidak disikapi dengan baik,  akan berdampak terhadap masalah masalah sosial kemasyarakatan seperti munculnya pengangguran yang tidak kentara, adanya kejahatan berdemensi baru, maupun kejahatan konvensional. munculnya konflik sosial dan masih banyak lagi potensi yang bakal timbul.

Suhadi mencontohkan Negara yang berhasil menghadapi bonus demografi adalah Cina dengan menggalakkan komponen elektronik sebagai industri rumah tangga dan Korea Selatan menggalakkan industri komponen telepon genggam sebagai Industri rumah tangga.

menghadapi Bonus Demografi tersebut, para santri harus bisa menciptakan lapangan kerja baru. jangan mengharap bekerja dikantor pemerintah. jadilah santri santri yang mandiri. santri yang mampu menyinari lingkungannya, baik melalui siar agama maupun keteladanan.

karena menilai baik buruknya santri itu bukan ketika ia berada di Pondok, tetapi ketika ia berada diluar pondok apa yang mereka lakukan untuk masyarakat atau malah menjadi beban masyarakat.

Suhadi mengingatkan kepada para Santri bahwa keberhasilan seseorang bukan hanya mengandalkan Intelektualitas saja,  tetapi justru yang lebih utama adalah kejujuran, Disiplin, pandai bergaul, pekerja keras, menyukai pekerjaannya, bisa menjadi teladan, mampu mengelola diri secara baik, sanggup berkompetisi, Pendamping hidup dan memiliki  merk atau brand, sementara itu intelektualitas menduduki ranking dua puluh, namun hal ini bukan intelektualitas diabaikan tetapi tetap harus dipacu.

untuk mewujudkan itu semua,Suhadi meminta kepada para santri untuk terus mengasah kecerdasan Spiritual, kecerdasan Emosional dan kecerdasan Intelektual secara terus menerus, agar kelak setelah selesai mondok memiliki bekal yang cukup untuk membangun rumah tangga dan menjalani hidup ditengah tengah masyarakat dengan baik.

mengakiri  pencerahannya Suhadi meminta kepada para Santri jika kelak memilih pasangan hidup agar diperhatikan bibit, ( asal usulnya),  bobot ( Kualitas atau latar belakang pendidikan dan pekerjaannya) dan bebet ( Lingkungan pergaulannya ).  karena kesemuanya itu kelak akan menentukan keberhasilan dalam menjalani hidup dan kehidupan sehari hari.

Berita Terkait