Hati-Hati dengan Azzurri

Hati-Hati dengan Azzurri

  Sabtu, 2 July 2016 09:30

Berita Terkait

BORDEAUX – Jerman lebih difavoritkan ketimbang Italia. Berangkat ke Euro 2016 dengan statusnya sebagai juara Piala Dunia 2014, Die Mannschaft – julukan Jerman – juga diunggulkan bursa judi Eropa di posisi kedua untuk mengangkat trofi Henry Delaunay, di Stade de France, Saint-Denis, 11 Juli nanti WIB. 

Jerman pun termasuk dalam satu di antara tiga negara yang belum terkalahkan hingga 16 Besar lalu. Manuel Neuer dkk menjadi satu-satunya negara yang belum pernah kebobolan sejak laga pertama di fase grup. Makanya, tidak salah apabila Jerman bermimpi seperti Prancis atau Spanyol yang mampu menjuarai Euro dan Piala Dunia secara beruntun. 

Asalkan, negara juara Euro tiga kali itu bisa menghindari kejutan Italia dalam perempat final di Nouveau Stade de Bordeaux, Bordeaux, dini hari nanti WIB. ''Jangan ada kesalahan, karena kesalahan pertama akan menentukan hasil akhir,'' ucap bek tengah Mats Hummels, sebagaimana dikutip di dalam situs resmi DFB. 

''Apabila dalam laga persahabatan, okay satu kesalahan masih bisa kami tebus. Di suatu uji coba kami bisa ditahan 1-1, tetapi di uji coba Maret lalu kami bisa membalasnya dengan skor 4-1. Sementara satu kesalahan di fase knockout ini saja, maka pulanglah kami,'' lanjut bek yang menjadi salah satu titik lemah Jerman di Euro 2016 ini. 

Ya, Hummels harus berhati-hati. Pasalnya Antonio Conte sebagai allenatore Italia dikenal cukup cerdik dalam memilih celah. Seperti di balik berakhirnya laju juara bertahan Euro Spanyol pada fase 16 Besar (27/6). Italia sukses memanfaatkan celah dari jebloknya performa Sergio Busquets sebagai pivot Spanyol. 

Sedangkan untuk Jerman, Conte sebagaimana yang dilaporkan di Tuttosport sudah membidik 4 spot lemah Jerman. Hummels menjadi salah satunya. Tiga spot lemah lainnya ada di sisi kanan Jerman yang ditempati Joshua Kimmich, lalu Sami Khedira dan Toni Kroos sebagai double pivot Jerman dalam skema main 4-2-3-1. 

Dari analisis empat laga, Hummels kerap melakukan error. Sedangkan Kimmich sering telat di saat transisi dari menyerang ke bertahan. Sama seperti kelemahan Kroos yang tidak mampu menutupi lambatnya pergerakan Khedira. Ingat, karakter permainan counter attack dan bertempo cepat Italia ini belum pernah dihadapi Jerman. 

Lambat sedikit saja, maka Italia bakal mencuri gol cepat. Ingat, dua dari lima gol Italia tercipta dalam kurun waktu 35 menit pertama. Apalagi, Italia mempunyai tren menghabisi lawan-lawannya di dalam 60 menit pertama. Berbicara kepada Bild, Loew meminta pemainnya untuk mewaspadai setiap pergerakan pemain Italia. 

Loew menyadari, Italia bakal memaksa pemainnya frustasi dalam menyerang. Terutama dengan kekuatan trio BBC Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini-nya. Tapi di sisi lain, der trainer 56 tahun tersebut juga paham bahwa Italia bukan tim yang tidak bisa dikalahkan. Terlebih untuk laga ini lini tengahnya tidak 100 persen. 

Tanpa Daniele De Rossi, terjadi perombakan di jantung lini tengah Italia. Marco Parolo digeser lebih ke tengah untuk menjalankan tugas De Rossi menjadi gelandang jangkar. Sementara, untuk tugas Parolo dalam menyuplai bola ke depan diambil alih Stefano Sturaro. Nah, di sinilah titik yang menjadi sasaran Jogi – sapaan akrab Loew. 

Untuk menjadi gelandang jangkar, butuh pemain yang bagus dalam intersep dan menyuplai bola ke depan. Harusnya, Thiago Motta bisa jadi pengganti gelandang AS Roma tersebut. Motta memiliki intersep dan passing sama bagusnya. Sedangkan Parolo hanya jempolan dalam intersep dengan total lima kali intersep. 

Statistik UEFA menyebut, Jerman dan Spanyol memang sama-sama tim terbaik di penguasaan bola dan rasio passing kompletnya. Bedanya, hanya Jerman yang mampu menyeimbangkan 64 persen sisi penguasaan bola plus 91 persen passing kompletnya dengan total 78 kali tembakan dalam empat laga.

Hanya, satu kelemahan Jerman yang sudah tampak bakal jadi keuntungan Italia. Defense Der Panser kerap berani memainkan garis pertahanan tinggi dengan hanya menyisakan Hummels di area belakang garis tengah. Jerome Boateng ketika menyerang selalu berada di antara satu meter di sekitar garis tengah. (ren)

 

Liputan Khusus: 

Berita Terkait