Hasil Lumayan, Cukup Untuk Biaya Sekolah anak

Hasil Lumayan, Cukup Untuk Biaya Sekolah anak

  Rabu, 13 April 2016 10:02
BISNIS KERUPUK: Elon dengan kantong-kantong kerupuk yang siap dipasarkan keliling ke seluruh Bengkayang. AIRIN/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Kerja keras mewujudkan impian dan diiringi doa. Itulah yang dilakukan Elon (54). Selama 19 tahun menjadi pedagang kerupuk. Awalnya, dia hanya kuli panggul. Tapi kini, dia menjadi pemilik usaha kerupuk yang mandiri.

Airin Fitriansyah, Bengkayang

ZERO to hero merupakan kata yang cocok untuk disematkan kepada seorang laki-laki perantau yang berjuang mengadu nasib. Mulai dari kuli panggul, kemudian berdagang kerupuk. Seperti petang itu. 

Saat mentari menghilang dari permukaan langit, kami berkunjung di kediaman Elon di Jalan Bangun Sari Gang Damai Kelurahan Sebalo, Kabupaten Bengkayang.

Terlihat aneka jenis kerupuk menghiasi sudut ruangan rumah yang siap untuk dipasarkan. Lainnya, kumpulan kerupuk mentah berjajar didapur yang akan digoreng. Elon mengaku, selama menjadi pedagang kerupuk susah senang, sudah dirasakan. Mulai dari kuli panggul hingga menggunakan berjualan kerupuk keliling.

"Saat saya merintis usaha ini, saya jualan kerupuk pikul panggul ke rumah-rumah penduduk. Waktu itu saya masih bekerja sama orang. Hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan hidup sendiri," terangnya.

Pengalaman berdagang kerupuk sudah cukup dirasakan. Tapi, yang paling menyenangkan ketika usaha tersebut adalah milik pribadi. Jika ingin banyak penghasilan, usaha harus di perluas dan model lebih diperbesar.

Bahan mentah kerupuk di beli dari Kota Singkawang dengan kisaran harga Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per karung. Rata-rata satu karung berisi 30 kilogram. Jumlah tersebut bisa dihabiskan dalam waktu dua hari. Sedangkan dalam satu minggu bisa menghabiskan 5 karung kerupuk mentah.

Aneka jenis kerupuk yang digoreng bermacam-macam. Sementara, cukup disebarkan ke beberapa toko yang ada di  Kecamatan Bengkayang. Adapun jenis kerupuk dipasarkan adalah kerupuk belimbing, rantai, makroni, tengkuyung dan kecipir.

"Untuk satu bungkus kerupuk dijual seribu rupiah. Satu toko saya titip 3-5 jenis kerupuk masing-masing 50 bungkus. Setelah itu dalam waktu satu minggu saya kirim lagi kerupuk yang baru," ungkap ayah empat anak ini lagi.

Elon menuturkan terkait omset penjualan kerupuk tidak bisa diprediksikan. Tapi hasil penjualan kerupuk cukup untuk memenuhi kebutuhan anak sekolah dan kebutuhan hidup kekuarga.

Dia menyampaikan usaha kerupuk dipasaran cukup banyak persaingan. Namun usaha kerupuk ini harus bisa dilaksanakan dengan sungguh-sungguh karena tidak semua konsumen menyukai kerupuk. Sehingga penjualan kerupuk tidak bisa ditentukan untung atau rugi hasil dipasaran.

Ia mengungkapkan dalam usaha yang harus dilakukan adalah memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen. Sehingga barang dagangan bisa terjual dengan lancar dan tidak mendapat keluhan dari konsumen.

"Setiap penjualan kerupuk harus diberikan yang terbaik. Kerupuk yang dipasarkan harus gurih. Supaya konsumen tidak kecewa memberi kerupuk," imbuhnya.

Di tempat yang sama isteri Elon sedang asyik membungkus kerupuk, Uun (39) ditemani anaknya yang  masih balita dengan gesitnya menata jenis-jenis kerupuk yang akan dipasarkan.

"Ada lima  jenis kerupuk yang siap untuk  dijual. Bungkusan kerupuk ini akan di kirim ke tokoh di dekat rumah saja," ucapnya menunjukan jenis kerupuk yang biasa beredar dipasaran.

Dia menuturkan dalam proses penggorengan terkadang mengalami kendala. Bahan  baku kurang kering sehingga berpengaruh terhadap hasil gorengan kerupuk. Hasil gorengan menjadi kecil dan kurang gurih.

Ia mengungkapkan hasil penjualan kerupuk diprediksi dua minggu mencapai Rp 3 juta. Tetapi hasil tersebut harus dibagi dengan modal dari bahan baku pembuatan kerupuk. Hasilnya kalau dijalani dengan telaten akan memberikan keuntungan cukup baik.

"Apabila dagangan kerupuk habis terjual dipasaran. Untungya adalah buat keluarga. Tapi sebaliknya, penjualan macet mau tidak mau kita harus bersabar karena belum rezekinya. Ini yang dimaksud dengan tantangan usaha mengalami pasang surut seperti dalam kehidupan," tutupnya. (*)

Berita Terkait