Haru dalam Misa Rasa Indonesia di Kapel Jerusalem

Haru dalam Misa Rasa Indonesia di Kapel Jerusalem

  Rabu, 27 December 2017 10:00
KOTA SUCI TIGA AGAMA: Pater Al Gesu dan Asteria Wicaksono, turis asal Indonesia, di dekat Lion's Gate, Jerusalem, Senin (25/12). Church of Flagellation di Jerusalem, salah satu gereja yang menghelat misa Natal. INDRIA PRAMUHAPSARI/JAWA POS

Merayakan Natal di Bethlehem, Melewati Ketegangan di Dua Sisi Perbatasan (2-Habis) 

Wartawan INDRIA PRAMUHAPSARI turut merasakan ketatnya pengamanan Natal di Bethlehem sebelum menyeberang ke Jerusalem untuk mengikuti misa. Natal yang basah oleh hujan, berkah yang selalu dirindukan warga di sana. 

DARI hotel yang terletak di pusat kota, di tengah guyuran hujan deras, sirene terdengar meraung-raung. Mobil patroli polisi Palestina lalu-lalang di jalanan. Sekitar 20 menit sekali, kira-kira. 

Bethlehem, yang terletak di Tepi Barat, wilayah kekuasaan Otoritas Palestina, memiliki curah hujan rendah. Tapi, tiap Natal, air dari langit selalu turun dengan deras. Juga, pada Minggu malam lalu (24/12) angin yang cukup kencang menyertai. 

Tapi, polisi harus tetap bersiaga. Sebab, mereka punya tugas besar: mengamankan misa malam Natal. Apalagi, malam itu ada Uskup Agung Israel Patriarkat Monsignor Pierre Batista yang akan memimpin misa di Gereja Nativitas di Bethlehem.    

Karena itulah, pengamanan dilipatgandakan. Sejak pagi, tentara-tentara Palestina sibuk. Mereka memeriksa tas dan barang bawaan semua orang yang melintas menuju Gereja Nativitas. Baik turis maupun warga setempat.

”Saat Natal seperti inilah tentara Palestina terlihat di berbagai sudut. Biasanya, mereka relatif santai,” kata Pater Al Gesu, rohaniwan asal Maluku yang bertugas di Jerusalem. 

Bethlehem, menurut Pater Al yang sudah dua tahun tinggal di Jerusalem, selalu aman. Di kota berpenduduk sekitar 220 ribu orang itu, Palestina berkuasa. 

Di sebelahnya, Jerusalem, Israel yang punya wewenang. Urusan keamanan pun menjadi tanggung jawab mereka. Selama ini, dua kota yang penting bagi umat Nasrani tersebut bisa berdampingan dengan damai meski dikuasai dua otoritas berbeda yang tenar dengan perselisihannya tersebut. 

Tapi, belakangan Jerusalem memanas, menyusul deklarasi dukungan AS terhadap kota tua itu sebagai ibu kota Israel. Demonstrasi merebak, mengakibatkan 15 pendemo Palestina tewas, ratusan terluka, dan ratusan lain ditangkap. 

Di Tepi Barat, setidaknya selama saya dan rombongan tur rohani dari Indonesia tiba di sana pada Sabtu lalu (23/12), demonstrasi serupa tak terlihat. Namun, di berbagai sudut, tampak poster, spanduk, dan baliho dukungan yang menyatakan bahwa Jerusalem adalah ibu kota abadi Palestina. 

Memasuki Minggu siang dan malam, yang mengemuka di Bethlehem sudah pasti perayaan Natal. Dengan Gereja Nativitas sebagai sentral. 

Di sana, misa digelar tiap jam pada Minggu sampai Senin (25/12). Sebab, umat Nasrani wajib mengikuti misa malam Natal dan misa Natal. 

Di Gereja Nativitas, misa diselenggarakan dalam berbagai bahasa: Inggris, Latin, Ibrani, Italia, dan bisa juga Indonesia jika memang ada permintaan. Tapi, pada Minggu malam lalu itu tak ada kebaktian dalam bahasa Indonesia. 

Yang ada justru di Kapel Notre Dame di salah satu sudut Kota Jerusalem, sekitar 10 kilometer dari Bethlehem. Tempat kami menuju dari Bethlehem pada Minggu malam lalu itu.  

Di kapel tersebut, ada tiga pastor yang memimpin misa. Semuanya berasal dari Indonesia. Selain Pater Al, dua lagi adalah Romo Garbito dan Pastor Bernardinus Palangngan. Tapi, pada misa Minggu malam itu, hanya Romo Garbito yang melayani umat dari Indonesia. 

Malam itu ada sekitar 100 umat Katolik dari Indonesia yang mengikuti misa di sana. Mereka kebetulan sedang berziarah di Jerusalem. Semuanya kompak memakai topi Sinterklas yang menjadi simbol Natal. 

”Kami bertiga tadi bersepakat bahwa hari ini sudah Natal. Maka, kami ucapkan selamat Natal kepada Bapak-Ibu dan Saudaraku sekalian,” kata Romo Garbito di ujung misa. 

Seluruh umat pun lantas bersalaman. Saling mengucapkan selamat Natal sekaligus bercakap-cakap ringan. Minimal menanyakan daerah asal satu sama lain. 

Mereka yang sudah sepuh menitikkan air mata. Terharu karena diberi kesempatan merayakan Natal di tanah kelahiran Yesus Kristus. 

Jerusalem, kota suci bagi tiga agama Samawi, juga tampak tenang pada Minggu malam lalu itu. Di kota tersebut, kekuasaan tumbuh dan runtuh. Perang berkali-kali terjadi selama beratus-ratus tahun. 

Tapi, pada Minggu malam lalu itu, seperti juga di Bethlehem, kesibukan yang menonjol terlihat di berbagai gereja dan kapel. Tempat misa malam Natal diadakan. Jerusalem, setidaknya pada malam itu, tampak damai. 

Doa bagi kedamaian Jerusalem juga dilontarkan Paus Fransiskus dalam Urbi et Orbi atau pesan untuk Kota Roma dan dunia. Paus berharap adanya dialog untuk merealisasikan solusi damai dua negara. 

Itu adalah kali kedua paus berbicara di depan publik tentang Jerusalem sejak 6 Desember lalu, saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui wilayah tersebut sebagai ibu kota Israel. Pemuka agama Katolik yang telah berusia 81 tahun itu sebelumnya pernah meminta agar status quo Jerusalem dihormati dan jangan sampai ketegangan baru di Timur Tengah memicu lebih banyak konflik di dunia. 

Sayang, kami tak bisa berlama-lama larut dalam kedamaian dan keharuan seusai misa malam Natal itu. Eko Put, pemandu kami dari Jakarta, mengingatkan agar kami bersalaman sembari berjalan meninggalkan kapel bergaya Eropa tersebut. 

”Sebab, kapel ini akan digunakan oleh umat yang lain,” ucap Eko. 

Di belakang kami memang sudah mengantre rombongan wisatawan Eropa. Menurut Eko, kapel tersebut sudah penuh dipesan dari malam sampai pagi. Tiap jam ada misa yang digelar di sana. 

Dari Kapel Notre Dame yang terletak di lantai 2 salah satu hotel di Jerusalem itu, rombongan kami bergerak kembali ke Bethlehem. Kota kelahiran Yesus tersebut terletak di selatan Jerusalem. 

Karena Jerusalem berada di bawah wewenang Israel dan Bethlehem dikuasai Palestina, ada pos pemeriksaan di tiap perbatasan. Dua petugas bersenjata senapan tavor siaga di sana. 

Untuk rombongan turis, tidak ada pemeriksaan khusus. Petugas hanya naik ke bus dan bercakap-cakap dengan sopir bus. Atau, kadang kala sopir bus yang turun ke pos dan melapor kepada petugas. 

Kali ini para penumpang bisa duduk anteng sambil tersenyum. Dan, ada kejutannya pula! 

Dua petugas naik ke bus kami. Tapi, yang satu tidak menyandang senapan. Dia justru membawa bungkusan plastik yang isinya warna-warni. ”Shalom. Merry Christmas,” kata lelaki itu, lalu tersenyum. 

Salam ala Yahudi tersebut disambut kompak oleh rombongan. Dia lantas memperkenalkan diri sebagai perwakilan dari Kementerian Pariwisata Israel. 

”Kami punya bingkisan Natal untuk kalian semua,” katanya dalam bahasa Inggris.

Dia lantas membagikan makanan ringan dan permen serta cokelat dalam bungkusan plastik tersebut. Di belakangnya serdadu dengan tavor mengekor. Semua penumpang di bus tersenyum meski tetap tak berani mengabadikan momen itu dengan kamera. Masih trauma dengan ketatnya pemeriksaan di sisi perbatasan Israel saat kami masuk dari perbatasan Palestina. 

Setelah semuanya mendapatkan bingkisan, dua pria itu turun dari bus. ”Todaraba,” seru kami setelah mendapatkan bocoran dari pemandu wisata lokal, Erez, tentang bahasa Israel untuk kata ”terima kasih”.

Saat kali pertama rombongan turis dari Jakarta tiba di Israel, Erez-lah yang menyambut. Dia menemani sampai perempatan terakhir menjelang pos perbatasan Jerusalem-Bethlehem. 

Sebelum pemeriksaan di perbatasan, dia turun. Bapak tiga anak itu tidak ikut masuk Bethlehem. Ternyata, pemandu wisata asal Jerusalem tak boleh masuk Bethlehem, apalagi waktu petang. Juga, sebagai Yahudi yang taat, dia pun tak mau melanggar konsensus tersebut.

Malam itu, sepulang kami dari Jerusalem, Bethlehem masih diguyur hujan deras. Angin juga masih bertiup lumayan kencang. 

Jadilah keramaian selepas misa di Gereja Nativitas yang biasanya meluber sampai pusat Kota Bethlehem tak terlihat. Tapi, senandung pujian dari panggung yang sengaja dibangun di halaman kompleks Gereja Nativitas menggema ke seluruh kota. Sampai dini hari, Christmas Carol berkumandang, diselingi bunyi air hujan.

”Di Bethlehem ini kami jarang mendapat hujan. Tapi, tiap Natal pasti hujan, satu atau dua hari, berkah bagi kami,” ujar Nabil, pemandu wisata asal Bethlehem yang menemani rombongan Indonesia. 

Melihat Bethlehem yang medannya berbukit-bukit dan gersang, wajar jika Nabil dan penduduk Bethlehem lain sangat mencintai hujan. Karena itu, mereka selalu menantikan Natal yang identik dengan berkah tersebut. (*/c11/ttg)