Harta Halal Penyebab Cukup dan Ketenangan Hidup

Harta Halal Penyebab Cukup dan Ketenangan Hidup

Jumat, 29 July 2016 11:15   622

ALLAH SWT berfiman “ Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik ( di dunia ) dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka ( di akhirat ) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan “ ( An-Nahl : (16 ) : 97 )

Rasul SAW mengajarkan doa yang mayshur “ Ya Allah, berikanlah kecukupan bagiku dengan rezeki-Mu yang halal dan ( jauhkankah aku ) dari yang haram, serta cukupkanklah aku dengan karunia-Mu ( sehingga aku tidak butuh ) kepada selain-Mu “ ( Dari Ali bin Abi Thalib ) Hadis ini memuat petunjuk  bahwa rezeki yang halal adalah sebab kecukupan dan limpahan karunia-Nya, dan jika Allah telah mencukupi seorang hamba dengan karunia-Nya maka siapakah yang dapat mecelakakan dan menghinakan hamba tersebut. Allah SWT berfiman “ Bukankah Allah maka mencukupi hamba-Nya ( dalam semua keperluannya “ ( Az-Zumar (39) : 36 ). Maknanya kecukupan, kelapangan hati dan ketenangan hidup manusia hanya dapat diraih dengan mengikuti petunjuk Allah dan mengikuti syariatnya, termasuk mencukupkan diri dengan harta yang halal dan menjauhi yang haram. Allah SWT menjamin “ Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jaminan baginya jalan keluar dalam semua masalah dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka sangkanya “ ( Thaklaq (65): 2-3 )

Orang –orang yang memiliki harta halal dan mata pencaharian yang halal adalah orang – orang yang paling selamat agamanya, paling tenang hati dan pikirannya, paling lapang dadanya, paling sukses kehidupannya. Kehormatan dan harga diri mereka bersih dan terjaga, rezeki mereka penuh berkah dan citra mereka dimasyarakat selalu indah. Mencari harta halal dengan cara yang halal adalah sifat mulia yang telah dicerminkan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya. Rasul SAW bersabda “ Barangsiapa mengkonsumsi sesuatu yang baik, melaksanakan sunnah dan masyarakat sekitarnya tidak terganggu dengan keburukannya, maka dia masuk surga “ ( HR.Tirmizi dari Abi Sa’id al-Khudri ).” Ada empat hal, bila keempatnya ada pada dirimu, maka segala urusan dunia yang luput darimu tidak akan membahayakanmu, menjaga amanah, berkata benar, akhlak baik dan menjaga urusan makanan “.

Banyak potret orang – orang saleh terdahulu sebabagai bukti kehati-hatian dan kewaspadaan mereka dalam masalah ini. Diantaranya  Suatu ketika sahaya Abu Bakar as-Shiddiq membawa suatu makanan dan Abu Bakar memakannya. Ketika Abu Bakar bertanya asal makanan itu pembantunya menjawab “ Dahulu saya pernah berlagak seperti dukun, padahal saya tidak punya ilmu perdukunan. Saya hanya menipunya. Kemudian dia menemui saya dan memberi upah kepadaku.” Mendengar itu langsung Abu Bakar memasukkan jari tangannya kemulutnya sampai ia memuntahkan semua makanan yang baru beliau makan.

“Makan halal adalah energi untuk meningkatkan semangat berbagai hal. Semangat hidup bergantung pada makanan yang dikonsumsi.Semangat belajar bergantung pada makanan yang dimakan. Bahkan, ketajaman tulisan seseorang bergantung pada kualitas makanan yang dia komsumsi saat menulis” kilah Abd Al-Wahhab Al-Sya’rani guru sufi Abad ke 10 H. Abu Yazid bin Harun berkata, “ Aku tidak pernah melihat orang yang lebih warak daripada Abu Hanifah. Suatu saat, aku melihat dia sedang duduk di bawah terik matahari di dekat pintu rumah seseorang. Aku bertanya kepadanya, “  Wahai Abu Hanifah, mengapa engkau tidak pindah ke bawah pohon supaya dapat berteduh ? “. Dia menjawab , ‘ Aku mempunyai piutang kepada pemilik rumah ini. Aku khawatir, jika aku duduk di bawah pohon miliknya, aku telah memanfaatkan harta miliknya. Dalam pandanganku, manfaat dari barang milik pngutang adalah kelebihan, dia ia dianggap riba.”

          Wallahu’alam.  

Uti Konsen