Hari Raya Qurban

Hari Raya Qurban

  Selasa, 13 September 2016 10:00   371

Oleh: Aswandi

 

HARI Senin, 12 September 2016 adalah hari raya Idul Adha, disebut juga; Hari Raya Haji, dan Hari Raya Qurban. Ali Syari’ati (2008) dalam kitabnya “Haji” mengatakan bahwa ibadah haji pada hakikatnya adalah proses evolusi manusia menuju Allah SWT, demonstrasi simbolik, petunjuk penciptaan, petunjuk sejarah, petunjuk persatuan, petunjuk ideologi Islam dan petunjuk umat.

Ibadah haji menjadi lambang perjalanan kita kembali kepada Allah SWT yang maha mutlak, tanpa batas, dan tanpa ada yang menyamaiNya. Qurban adalah salah satu demonstrasi  simbolik dan menjadi bagian atau rangkaian penting dari ibadah haji yang berawal dari dialog Ibrahim dan anaknya Ismail.

Mengorbankan Ismail adalah awal ibadah haji, bukanlah akhirnya. Oleh karena itu yang kita rayakan hari ini adalah hari raya qurban, yakni hari dimana Allah SWT menanyakan dan menguji pengorbanan kita dalam menegakkan risalahNya, bukan hari raya kemenangan. Kita harus selalu siap berqurban demi tegaknya kebenaran, tidak harus menunggu saat kita menjadi jutawan, dan saat kita memegang jabatan atau memperoleh kekuasaan. Indonesia, negeri tercinta ini tidak akan pernah lahir di muka bumi tanpa ada para pahlawan yang rela berkorban jiwa dan raganya.

Sejarah umat manusia mencatat, Ibrahim adalah manusia pertama yang memberontak, berjuang melawan berhala dan Namrud demi tegaknya agama tauhid, ia dididik dan dibesarkan dalam keluarga yang kerjanya membuat berhala. Setelah melawan berbagai siksa, derita dan angkara murka, Ibrahim membangun sebuah rumah yang bukan untuk dirinya sendiri dan bukan pula untuk putra tercinta Ismail, melainkan rumah untuk kita semua, segenap umat manusia. Di samping itu, Ibrahim juga penantang kebodohan dan penindasan..

Diusia uzurnya, rambut dan janggut telah memutih dimakan usia. Sarah, istri tercinta nabi Ibrahim mempunyai seorang hamba wanita hitam, melarat dan hina dari Ethiopia bernama Hajar yang atas izinnya menikah dengan Ibrahim suaminya, kemudian dari rahimnya lahir seorang anak bernama Ismail yang lebih dari seratus tahun ditunggu kelahirannya.

Ismail tumbuh dan berkembang bagaikan sebatang pohon yang subur dan kokoh. Ia memancarkan keceriaan dan kebahagiaan dalam kehidupan ayahnya Ibrahim.

Dalam kondisi dimana Ibrahim sangat mencintai putra tunggal, mencurahkan seluruh hidupnya untuk putranya itu, tumpuan seluruh harapan, buah kehidupan yang penuh perjuangan, lantas  Allah SWT memerintahkannya untuk menyembelih anak kesayangannya itu sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an Surah Ash-Shaffaat:102 Allah SWT berfirman; “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?. Ia (Ismail) menjawab; “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Tidak dapat kita bayangkan betapa tergoncang dan luluh hati Ibrahim menerima wahyu ini, meyembelih anaknya dengan tangannya sendiri. Godaan setan atau iblis agar tidak melaksanakan perintah Allah SWT ini sempat terucap pertanyaan dalam dirinya; “Bukankah aku ini ayahnya?”. Ismail menyadari dan berusaha menenangkan ayahnya; “Ayah, taatilah dan janganlah ragu melaksanakan perintah Allah ini, Insya Allah hambapun akan taat dan sabar”. Lalu iapun jalankan perintah Allah dengan tenang, tetapi begitu Ibrahim akan menyembelih putra kesayangannya Ismail, tiba-tiba domba muncul disertai wahyu; “Wahai Ibrahim, sebenarnya Allah tidak menghendaki engkau mengorbankan Ismail. Domba ini adalah tebusannya. Engkau telah melaksanakan perintah Allah”.

Ibrahim berhasil menjalai ujian Allah SWT melalui pengorbanan anaknya Ismail dengan tangannya sendiri, demi menyelamatkan orang lain dari korban penyembelihan, pembodohan dan penindasan”. Siapa orang lain itu?. Mereka adalah orang yang tertindas di bawah kekuasaan dan diperas oleh sang penumpuk harta atau terjebak dalam kemunafikan dan kesengsaraan. Kita baru akan mampu merebut pedang ditangan sang algojo atau musuh, bila kita telah menang berperang melawan diri kita sendiri, dan mampu membuktikan keberanian kita dengan menyembelih Ismail-Ismail kita, yakni; apa saja yang melemahkan iman kita, apa saja yang menghalangi jalan menuju kebaikan kita, apa saja yang menyelewengkan tanggung jawab kita, apa saja yang menjadikan kita egoist, apa saja yang membuat kita tidak mampu mendengarkan risalah, nasehat dan mengakui kebenaran, bahkan mungkin berwujud apa yang menjadi kelemahan kita, dan apa saja yang membuat kita lebih mencitainya lebih dari pada mencintai Allah SWT. misalnya; jabatan kita, pangkat kita, harta yang kita miliki, anak, istri/suami dan keluarga kita.

Semua ini adalah upaya Allah SWT menguji keimanan, keikhlasan dan kesabaran kita dalam hidup ini. Ini sebuah iqtibar; Jika kemenangan demi kemenangan kita raih, jangan sampai menyesatkan dan menipu kita, jangan sekali-kali merasa suci tanpa dosa, jangan sekali-kali merasa aman dan terlindungi dari godaan setan, kita tidak selalu kebal terhadap kekuatan ghaib setan yang senantiasa mengintai dan mengitari umat manusia.  

Bukanlah di dunia ini kita menyaksikan “Keunggulan seorang manusia bisa menjadi sumber kebesaran dan sumber kehancuran sekaligus”.

Tiga hari sesudah  “idul Adha ini disebut hari raya tasyriq, yang jatuh pada hari kesepuluh Zulhijah, kita meningkat mencapai posisi Ibrahim, yakni memperoleh keberanian dan keikhlasan untuk mengorbankan Ismail-Ismail kita dan selalu waspada terhadap tipu daya Iblis, meskipun ia telah kita lempar dengan ribuan bahkan jutaan batu di Jumratul al-‘ula, jumratul al-wustha, dan jumratul al-‘aqabah. Meskipun Iblis dan musuh telah kita taklukkan, pertempuran sesungguhnya belumlah berakhir. Orang bijak berkata; “Lepaskan baju kita, tetapi ingat jangan lepaskan senjata kita. Kita bisa raih kemenangan dalam waktu satu hari, tetapi bila tidak waspada, kita akan kalah seketika”.

Iblis adalah musuh utama kita, bersifat latent dan abadi; jika kita usir ke luar dari pintu, ia datang kembali lewat jendela. Kita kalahkan dia di luar kita, dia bangkit kembali masuk ke darah dan sendi-sendi di dalam diri kita. Kita rubuhkan dia di medan laga, dia bisa berjaya kembali di saat damai. Mungkin saja dia tersingkir sebagai musyrik, dia pun bisa kembali mengaku sebagai penganut tauhid. Kita bisa menguburkannya di rumah berhala, dia bisa tampil kembali di atas altar atau tempat-tempat yang disucikan.

Pada hari ini, banyak diantara kita telah menunaikan ibadah haji, bahkan tidak sedikit yang melakukannya lebih dari satu kali, semestinya semua rangkaian ibadah haji yang telah dilakukan itu memberi dampak positif, yakni meningkatnya keimanan, kesabaran dan keikhlasan kita dalam berkurban demi tegaknya agama ini. Namun sayangnya masih banyak diantara kita belum mampu menangkap pesan simbolik agama dan moral dari ibadah haji ini, khususnya pesan yang disampaikan melalui dialog Ibrahim dan anaknya Ismail yang berintikan keimanan dan keikhlasan sebagai dasar atau pondasi dalam beramal dan melakukan aktifitas sebagaimana yang telah dimanahkan Allah SWT kepada kita sebagai khalifah di muka bumi ini

 

*) Dosen FKIP UNTAN