Hari Pertama Operasi, Listrik Padam

Hari Pertama Operasi, Listrik Padam

  Kamis, 11 Agustus 2016 11:39
TERMINAL BARU: Dua tentara berpatroli di terminal 3 ultimate yang baru dilaunching. REUTERS

Berita Terkait

Jakarta – Operasional pertama terminal 3 ultimate, Bandara Soekarno Hatta, Banten diwarnai kejadian-kejadian di luar rencana. Terjadi gangguan arus pendek hingga menyebabkan listrik padam. Sejumlah penerbangan Garuda Indonesia pun dilaporkan mengalami delayed panjang.

Korsleting ini terjadi pada Selasa (9/8) malam, sekitar pukul 19.00 WIB. Dari informasi yang dihimpun, saat daya listrik putus, pemasok daya cadangan uninterruptible power supply (UPS) tidak mampu menopang kebutuhan listrik. Hingga akhirnya, terjadi listrik padam.

Salah satu penumpang Garuda Indonesia rute Surabaya-Jakarta, Adi M.D mengaku sempat melihat adanya percikan api akibat korsleting saat berada di toilet terminal kedatangan, terminal 3 ultimate. ”Jadi begitu turun, sekitar pukul 18.30 WIB, kan ke toilet dulu. Eh lihat ada percikap api kayak korsleting listrik. Terus ada asap-asapnya,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, kemari (10/8). Meski begitu, lanjut dia, percikan api tidak meluas karena langsung ditangani.

Masalah korsleting listrik ini dibenarkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Dirut Angkasa Pura II Djoko Murjatmodjo. Namun, ia menekankan, bahwa kejadian tersebut tidak terjadi secara menyeluruh di terminal 3 ultimate.

”Listrik terminal 3 itu tidak ada apa-apa. Yang terjadi adalah di daerah lounge Garuda peralatan korsleting. Tapi, dalam 1 jam bisa recover,” ungkapnya saat ditemui di Kementerian BUMN, Jakarta.

Terkait ketidakmampuan UPS menopang kebutuhan listrik, Djoko justru mengatakan, lokasi tersebut memang tidak dicover oleh UPS. Sebab, lokasi terbut tidak termasuk aliran listrik lokal bukan mayor yang terhubung dengan sistem utama.

”Ini minor. Kalau yang mati aliran dari PLN, ya genset langsung berfungsi otomatis. Tapi ini kan lokal, jadi sistem tidak terpengaru,” papar Mantan Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) itu.

Meski hanya kategori lokal, Djoko berjanji segera melakukan pengecekan ulang secara menyeluruh. ”Secepatnya. Kalau bisa besok pagi (hari ini, red),” tegasnya.

Korsleting  ini pun disebut-sebut berdampak pada operasional penerbangan Garuda Indonesia. Sejumlah penerbangan mengalami delayed panjang, bahkan rute Jakarta-Jambi dan Jakarta-Denpasar dikabarkan ditunda keberangkatannya hingga Selasa (10/8) pagi.

Merespon hal ini, Djoko enggan disudutkan. Sebab menurutnya, delayed tidak terkait langsung dengan korsleting yang terjadi. ”Kalau delayed Garuda bukan saya dong. Tanya Garuda. Nanti kita juga akan ketemu dan tanya kenapa delayed,” ujarnya.

Dia pun minta kejadian ini dimaklumi karena merupakan terminal baru. Sehingga, masih ditemukan beberapa masalah. Dia berjanji segera menuntaskan seluruh masalah dalam waktu dua mingu ke depan.

Ditemui dalam kesempatan sama, Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara Kemenhub Suprasetyo menanggapi santai soal korsleting ini. Meski mengaku sudah menerima laporan soal korsleting dan delayed panjang yang terjadi, Suprasetyo tetap menilai operional pertama terminal 3 ultimate berjalan sukses tanpa hambatan berarti.

”Ada korsleting di gate 11 dan 12, memang tidak dipasang UPS karena bukan titik prioritas. Untuk delayed, kemarin dilaporkan ke saya sekitar dua jam,” ujarnya.

Masalah pemadaman yang bukan prioritas ini agak bertolak belakang dengan sikap Kemenhub sebelumnya saat era kepemimpinan Iganasius Jonan. Saat itu, masalah pasokan listrik sempat dipermasalahkan hingga berujung pada penundaan penggunaan terminal 3 ultimate untuk arus mudik lebaran. Tim verifikasi Kemenhub menemukan jika switch daya dari pasokan PT PLN ke UPS tidak stabil pada proses verifikasi 3 Juni lalu. UPS diketahui tidak mampu mengaliri listik secara keseluruhan.

Suprasetyo menuturkan, masalah tersebut berbeda. Korsleting yang terjadi saat ini hanya di dua titik itu saja. Kalaupun padam, bukan merupakan titik prioritas dan tidak menggannggu keseluruan operasional. ”Yang inti itu kan seperti check in, escalator dan bagasi. Yang tidak itu kayak yang di tenan-tenan,” jelasnya.

Kendati begitu, pihaknya tetap meminta AP II untuk melakukan audit internal. Hasil audit kemudian diminta untuk dilaporkan pada Kemenhub dalam waktu secepatnya. (mia)

Berita Terkait