Hari Ini, Hari Guru Nasional Momentum untuk Merefleksi dan Mengevaluasi Diri

Hari Ini, Hari Guru Nasional Momentum untuk Merefleksi dan Mengevaluasi Diri

  Rabu, 25 November 2015 09:13
SERIUS MENGAJAR: Seorang guru terlihat saat serius mengajari murid-muridnya di ruang kelas. Hari ini, 25 November, merupakan Hari Guru Nasional yang selalu diperingati setiap tahunnya. DANANG PARSETYO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Hari guru diperingati setiap tanggal 25 November, di mana merupakan hari paling bersejarah bagi seorang guru. Hari ini merupakan momen penting untuk merefleksi dan mengevaluasi perjalanan panjang yang telah dilakukan selama menjadi seorang guru. Tentunya, banyak catatan hitam dan putih yang mesti dijadikan dasar dalam melangkah setahun ke depan sampai tanggal ke-25 November tahun berikutnya.DANANG PARSETYO, Sukadana

MENGENAI guru, tentunya ada beberapa fenomena terkait perilaku guru. Selama ini masih ada sebagian guru tidak hadir ke sekolah pada jam efektif, hadir ke sekolah tetapi tidak tepat waktu seperti terlambat atau pulang sebelum waktunya, hadir ke sekolah namun tidak masuk kelas, masuk kelas tetapi tidak tepat waktu, dan masuk kelas namun tidak mampu melakukan proses pembelajaran yang baik. 

Menurut kepala Bidang Pendidikan Menengah Umum dan Kejuruan (Dikmenumjur) Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara, Tasfirani, fenomena tersebut tentunya menjadi masalah mendasar bagi dunia pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Sebab, sambung dia, guru merupakan garda terdepan sebagai pelaku atau subjek dalam memajukan dunia pendidikan. Karena, menurut dia, seorang guru yang melakukan proses pembelajaran, berinteraksi dengan peserta didik. Bila guru tidak melakukan proses pembelajaran atau tidak mampu melakukan proses pembelajaran dengan baik dan berkualitas, maka, dia yakin, peserta didik tidak akan memperoleh apa-apa, tidak terjadi perubahan pada diri mereka, berbagai potensi (multiple intelligence) yang dimilikinya tidak akan bisa berkembang secara optimal, dan akibatnya pendidikan menjadi tidak berkualitas.

 “Banyak variabel menjadi penyebab terjadinya perilaku guru seperti tersebut. Variabel mendasar adalah keringnya internalisasi makna guru dalam dirinya. Mungkin bagi mereka memaknai guru sebagai seseorang yang tugasnya hanya menyampaikan  atau mentransfer ilmu materi kepada peserta didik,” ungkapnya.

Menurut dia, para guru ini bertugas hanya sekadar melepaskan tanggung jawabnya sebagai seorang guru, di mana mereka datang ke sekolah, masuk kelas, menjelaskan materi, memberi latihan soal dan PR, kemudian menunggu jam pulang dan langsung pulang. Bahkan, sambung dia, masuk kelas tanpa melakukan persiapan apapun, di mana mereka cukup hanya buku pegangan dan absen siswa. Yang seperti ini, menurut dia, guru hanya melaksanakan tugasnya sebagai transfer of knowledge atau melaksanakan fungsinya sebagai transferring, yaitu hanya memindahkan informasi yang disebut ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya. 

“Dalam  hal ini, memang tidak sulit untuk menjadi seorang guru. Begitu gampangnya menjadi guru, sehingga mereka yang bukan lulusan kependidikan, bahkan yang hanya lulusan SMA pun sudah bisa menjadi guru. Dengan hanya sedikit kemampuan, bisa berdiri di depan kelas, bisa menyampaikan materi kepada siswa, kemudian bisa membuat tes sebagai alat evaluasi dan bisa membubuhkan nilai pada hasil tes peserta didik dengan proses pembelajaran seadanya,” sambungnya.

Padahal untuk bisa sebagai  guru tidak cukup hanya mampu mentransfer ilmu kepada siswa, membuat alat evaluasi dan memberi penilaian. Akan tetapi harus bisa melaksanakan fungsinya dalam “transfer of behavior dan “transfer of value” atau sebagai “transforming”, yaitu, mampu menanamkan nilai-nilai budaya positif, nilai-nilai kepribadian, dan nilai-nilai spiritual kepada peserta didik dan tidak cukup hanya dengan mengajarkan akan tetapi juga menjadi contoh dan suri tauladan bagi peserta didiknya.

“Guru yang melaksanakan fungsinya sebagai “transforming” inilah yang dikehendaki oleh kita semua. Siswa, orang tua, masyarakat, dan pemerintah, bahkan yang diamanahkan oleh Undang-Undang Sisdiknas dengan pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional. Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP nomor 74 tahun 2008 tentang Guru, menyebutkan bahwa guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik,” terangnya.

Kemudian, profesional merupakan pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah,  apa yang harus dilakukan oleh seorang guru agar menjadi tenaga profesional ?" sementara itu, berdasarkan undang-undang Sisdiknas untuk menjadi tenaga profesional, seorang guru harus memiliki kemampuan keahlian dan keterampilan dalam mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Sedangkan, pada pasal 12 disebutkan terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik, agar  guru tersebut dapat disebut sebagai pendidik professional, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi profesional serta kompetensi sosial.

“Ini berarti yang harus dilakukan guru agar menjadi tenaga profesional adalah mengembangkan kemampuan diri dalam hal bagaimana cara menyampaikan materi agar peserta didik memahami materi tersebut, bagaimana cara membimbing peserta didik agar mereka termotivasi dan terinspirasi, bagaimana cara memberi penilaian dan mengevaluasi peserta didik agar penilaian yang diberikan merefleksikan kemampaun mereka,” ujarnya.

Secara sederhana guru yang profesional adalah guru yang mampu memberikan solusi bagi setiap peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, mampu menggunakan metode terbaik dalam proses pembelajaran ketika proses pembelajaran tidak lagi memberikan suasana yang kondusif untuk belajar, dan mampu menghadirkan proses pembelajaran yang enjoyable dan meaningful.

“Kalau kita analogikan, dengan profesi lain yang dianggap professional, Dokter misalnya,  ketika ada pasien sakit, dokter mendiagnosa gejala penyakit yang dideritanya, kemudian memberikan resep obat untuk kesembuhan pasien tersebut. Demikian pula semestinya dengan guru, ketika ada siswa mengalami kesulitan atau ketika hampir separuh siswa mengalami kesulitan belajar yang diindikasikan dengan lambannya mereka memahami materi yang disampaikan sehingga berimplikasi pada rendahnya hasil ulangan mereka, guru dapat memberikan solusinya,” papar sosok yang saat ini sedang menempuh Program Doktor Ilmu Manajemen FE Untan.

Hal yang pertama  yang harus dilakukan ialah, mengidentifikasi tingkat kesulitan yang dialami siswa, mengdiagnosanya, kemudian mencari solusi penyelesaian berupa memperbaiki proses pembelajaran yang dimulai dengan memperbaiki Silabus, RPP, metode pembelajaran, media pembelajaran, metode penilaian, alat penilaian, dan feed back (umpan balik.Red) terhadap hasil penilaian yang diberikan.

“Untuk menjadi seorang guru yang professional tentunya tidak lah mudah dan itu tidak bisa diperoleh hanya melalui teori di kelas (bangku kuliah.Red). Namun yang paling berpengaruh secara signifikan membentuk profesionalisme seseorang adalah melalui pengalaman langsung (direct experience) di lapangan.  Coba kita bandingkan dengan tenaga profesi lain yang profesional, misalnya dokter, apoteker dan pengacara? Mereka (dokter, pengacara, apoteker) harus mengikuti berbagai jenis jenjang pendidikan formal, praktek lapangan, atau magang dalam waktu tertentu di bidangnya masing-masing.

Bahkan, di Negara-Negara maju, sambung Tasfirani, seperti Jerman dan Amerika, konon untuk mendapatkan status guru seseorang harus magang di lembaga pendidikan minimal selama dua tahun. Hal ini dilakukan sebagai salah satu jaminan bahwa yang bersangkutan profesional dalam menjalankan tugasnya. Sementara guru-guru yang berasal dari lulusan non kependidikan dan SMA tidak pernah mengikuti praktek lapangan atau magang seperti itu. Bahkan menurut dia, dari sarjana kependidikan pun praktek lapangan yang dilakukan relatif terbatas. Itu sebabnya guru-guru perlu disertifikasi sebagai jaminan dapat disebut sebagai tenaga profesional.

“Artinya, pengalaman yang telah diperoleh selama menjadi guru mestinya menjadi guru terbaik (the best teacher) baginya untuk menjadi lebih profesional.  Dan guru harus dapat menjadikan setiap pengalaman sebagai media untuk memperbaiki diri, dan tiada henti belajar, senantiasa meningkatkan kualitas diri secara terus menerus dan berkesinambungan (continous quality improvement). Dan setiap action yang dilakukan guru hendaknya selalu berorientasi pada bagaimana meningkatkan prestasi peserta didik, selalu berupaya mencari model, pendekatan, strategi, metode, dan tehnik terbaik dalam melaksanakan proses pembelajaran, selalu mencari langkah-langkah dan cara terbaik memberi apresiasi kepada peserta didik,” ujar Kabid Dikmenjur.

Sebelum melaksanakan proses pembelajaran, guru semestinya selalu bertanya pada dirinya what  do i want the student to know, understand, appreciate and able to do, sehingga proses demi proses yang dilakukan guru akan bermakna dan memberikan perubahan yang signifikan baik bagi guru dalam rangka peningkatan kemampuan diri (self kompetence) maupun bagi siswa sebagai objek pendidikan.

Dua dari beberapa upaya dalam rangka peningkatan kualitas diri (self continous improvement) tersebut selalu berupaya menggali dan mengembangkan kemampuan diri dan selalu berupaya melakukan perbaikan penataan hati, bagaimana supaya tugas yang diemban dapat dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan. Sebab yang dibutuhkan sekarang ini ialah guru yang dapat melaksanakan tugasnya dengan hati bukan hanya dengan  otaknya saja,”pungkasnya.

Karena, menurut dia, bila seorang guru mengajar dengan hati, akan mampu menjadi seorang guru yang bukan saja mengajar dan membimbing, tetapi sebagai inspirator dan motivator, menjadi seorang guru yang mampu menjadi inspirasi dan motivasi bagi peserta didiknya. “Tentunya guru akan dibutuhkan setiap saat oleh peserta didiknya akan dirindukan ketika tidak berada disekitar peserta didiknya, tentunya bimbingan dan nasihatnya selalu diingat, kehadirannya senantiasa dinantikan oleh peserta didik,” harapnya. (*)

 

Berita Terkait