Harga Sembako Melambung

Harga Sembako Melambung

  Minggu, 22 May 2016 11:06
PERKAMPUNGAN : Perkampungan di Desa Lanjak Kabupaten Kapuas Hulu masih mengandalkan hasil sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Kenaikan harga sembako di perkotaan tak mempengaruhi langsung kehidupan masyarakat pedesaan. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

​JAKARTA - Hari pertama puasa di bulan Ramadhan masih sekitar dua pekan lagi. Harga barang kebutuhan pokok mulai melambung tinggi, terutama gula dan daging sapi. 

Harga jual daging sapi di pasar sampai kemarin mulai merangkak naik. Pemerintah menyebutnya stabil di harga tinggi. Diakui bahkan ada yang sampai menjual Rp 150 ribu per kilogram (kg).

"Kalau di sini semalam masih Rp 110 ribu paling mahal ada yang Rp 120 ribu (per kg)," kata Ram di pasar daging Ciputat, Tangerang Selatan, kemarin (21/05).

Ditemui saat masih santai kemarin sore karena jam jualan mulai malam sampai pagi, Ram mengatakan mayoritas sapi di situ produk impor dari Australia. "Kayaknya sih mau naik lagi ya. Seminggu jelang puasa sama seminggu lagi mau lebaran itu naik lagi biasanya," ujarnya.

Selain harga daging sapi, harga gula pasir termasuk harga pokok yang mengalami kenaikan signifikan. Kenaikan mencapai sekitar 30 persen.  Di grosir toko Budi Laras, Cimanggis, Ciputat, Tangerang Selatan, modal gula pasir melonjak menjadi Rp 170 ribu per 10 kg. "Mulai semingguan ini lah. Naiknya gila - gilaan. Paling kencang ya gula itu. Biasanya Rp 125 ribu atau Rp 130 ribu ( per 10 kg)," keluh ibu pemilik grosir itu, enggan disebutkan nama aslinya.

Maka harga jual eceran pun naik. Dari biasanya dia jual antara Rp 12 ribu sampai Rp 13 ribu per kg menjadi Rp 20 ribu per kg.  "Ini pokoknya harga semua naik. Hampir semua. Minyak goreng juga naik lumayan banyak lah," nada bicaranya semakin tinggi.

Dua hari ini, harga jual ayam potong di pasar yang sama juga mulai naik. Ayam fillet basah (potongan dada, paha) biasanya Rp 40 ribu per kg menjadi Rp 43 ribu per kg. Harga ayam fillet fresh (potong sendiri di pasar) dari biasanya Rp 45 ribu per kg menjadi Rp 48 ribu per kg.

Begitu juga ayam potong per ekor (utuh plus ceker) dengan berat rata 2,5 kg per ekor naik menjadi Rp 65 ribu. "Biasanya kita jual Rp 60 ribu. Mulai dua hari ini lah naiknya," ujar penjual yang ingin disebut mas Gondrong (29).

Dia menduga kenaikan sampai kemarin hanya permulaan. Masih ada kemungkinan naik lagi mendekati puasa dan jelang hari raya Idul Fitri.

Bulan Ramadhan dan lebaran ini menjadi tantangan bagi pemerintah. Terutama Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam rangka menyukseskan target makro salah satunya inflasi diangka 4 plus minus 1 persen.

Di awal tahun ini, tingkat inflasi memang masih relatif terkendali. Bank Indonesia (BI) mencatat pada kuartal pertama tingkat inflasi sebesar 4,45 persen dan pada April 3,60 persen. "Intinya kita memang ingin menyukseskan target inflasi ya. Maka antisipasi dini sudah kita lakukan," ucap Sekjen yang juga merangkap Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Srie Agustina kemarin (21/05).

Srie menyadari bahwa pergerakan harga pangan dan kebutuhan pokok (volatile food) di awal tahun ini menjadi faktor penyumbang angka inflasi. Terlebih di musim puasa dan lebaran akibat kenaikan harga pokok. Sapi menjadi salah satu perhatian utama karena menurutnya harga jual saat ini stabil tinggi. "Iya saya dapat laporan ada yang sampai 130 ribu bahkan 150 ribu (per kg)," akunya.

Langkah antisipasi sudah dilakukan untuk mulai meredamnya. Harus diakui, menurutnya, barang konsumsi satu ini memang masih ketergantungan pada impor. Stok yang ada saat ini masih untuk memenuhi kebutuhan normal yaitu sekitar 100 ribu ekor. Menghadapi Ramadhan dan lebaran, kebutuhan meningkat menjadi sekitar 150 ribu sampai 180 ribu ekor.

Maka untuk menutupi kekurangan itu pihaknya sudah menginstruksikan impor tambahan dari Australia. "Supaya impor karkas sapi. Sudah dipotong dari sana tapi masih bentuk utuh dibawa ke sini," terangnya.

Khusus untuk DKI Jakarta bahkan melibatkan BUMD PT Darma Jaya utuk mengimpor sendiro daging sapi hanya untuk kebutuhan puasa dan lebaran saja. "Mudah-mudahan setelah itu harganya tidak terkerek naik," penuh harap. Bagi para pihak yang mendapatkan penugasan impor itu ditargetkan mampu menjual antara Rp 80 ribu sampai Rp 85 ribu per kg. Meskipun, kata Srie, dari koordinasi yang sudah dilakukan telatif sulit untuk mencapai harga itu.

Belum lagi untuk sampai ke tangan masyarakat ada mata rantai bisnis termasuk distribusi. Maka target konservatifnya harga daging sapi ada di kisaran Rp 100 ribu sampai Rp 110 ribu per kg di pasar. Namun pemerintah tetap menggelar operasi pasar (OP) melibatkan banyak pihak baik instansi pemerintah seperti koperasi di bawah naungan TNI maupun swasta. Diharapkan OP bisa menggiring sebagian masyarakat terutama dengan status ekonomi menengah ke bawah agar tidak semua membeli ke pasar.

Dengan perannya sebagai pengimbang itu maka OP diharapkan mampu menciptakan "kompetisi" harga meski hanya sesaat agar di pasar tidak terjadi lonjakan harga daging sapi. "Tapi OP hanya untuk musim puasa dan lebaran saja. Tidak boleh terlalu lama karena kita tidak mau ada kompetisi," pikirnya.

Lonjakan harga gula juga menjadi perhatian besar. Ada kenaikan dari rata-rata kebutuhan sebesar 220 ribu ton yang biasanya cukup untuk satu bulan. "Sebenarnya itu cukup untuk sebulan. Tapi dengan pertimbangan faktor waktu distribusi dan sebagainya, semestinya stok itu antara dua sampai tiga kali dari kebutuhan," Srie memerkirakan.

Saat ini sedang terjadi musim giling. Produksi petani belum ada lagi. Maka pemerintah mengutus PT PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia) untuk bekerjasama dengan produsen yang mampu mengolah raw sugar menjadi gula kristal putih.

Hasilnya kemudian harus segera dipasok ke pasar. Nantinya juga dilakukan OP melibatkan koperasi Kartika di bawah TNI yang diyakini lebih mampu melakukan mobilisasi sampai ke daerah perbatasan.

Sementara untuk impor dinilai tidak bisa dilakukan pada saat ini. Sebab impor gula tidak boleh satu bulan sebelum atau sesudah lebaran. "Lagipula kalau impor nilai tambahnya jadi milik orang lain," tegasnya. Harga gula saat ini secara rata-rata nasional, menurutnya, di kisaran Rp 12.800 per kg. Di daerah tertentu mencapai Rp 15 ribu per kg bahkan di Jayapura sampai Rp 16.500 per kg.

Targetnya, harga gula pasir pada sepanjan puasa sampai lebaran di kisaran Rp 11.800 per kg terutama di Jawa dan sekitar Rp 12.800 per kg di wilayah timur bahkan Papua.   Selebihnya, Srie menilai harga kebutuhan pokok pada level wajar. Harga beras ada kenaikan tapi di kisaran nol koma sekian persen.

Stok di pasar Induk Kramat Jati sebagai salah satu barometer dari 10 pasar induk, kata dia, stoknya lebih dari cukup. Dari biasanya 33 ribu ton menjadi 54 ribu ton. Pasokannya naik dari 2.500 ton per hari menjadi 3.800 ton per hari.

Harga cabai malah dilihatnya turun. Begitu juga bawang merah yang dia yakini tidak akan terjadi lonjakan harga. "Pasokan bawang merah ke pasar induk dipenuhi. Saya barusan dapat kabar dari Kementerian Pertanian sedang dilakukan mobilisasi bawang dari beberapa daerah," katanya. Musim panen bawang memang sudah selesai. Saat ini sedang dilakukan pengeringan. Sempat ada kekurangan pasokan antara 2 sampai 2,5 bulan karena petani mulai tanam baru. "Itu yang sempat membuat harga naik," imbuhnya.(gen)

Berita Terkait