Harga Sayur Kembali Melambung

Harga Sayur Kembali Melambung

  Senin, 9 May 2016 10:05
JUAL SAYUR: Aktivitas pedagang di pasar Sungai Pinyuh. Harga sayur naik karena panen tak maksimal. Pembeli tetap antusias, meski volume berkurang. WAHYU/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

SUNGAI PINYUH- Sejak beberapa hari ini, harga sejumlah komoditi sayur melambung tinggi. Komoditi yang mengalami kenaikan signifikan seperti wortel dan tomat. Dampak kenaikan harga itu sendiri menyebabkan turunnya omset pendapatan para pedagang.

“Sudah hampir satu minggu ini, harga wortel dan tomat mengalami kenaikan. Dan kami pun tidak tahu pasti apa yang menyebabkan harganya naik sampai berlipat-lipat seperti itu,” tutur seorang pedagang sayur di Komplek Pasar Rakyat Usaha Bersama (PRUB) Sungai Pinyuh, Ati, Minggu (8/5) pagi.

Warga Gang Beringin Sungai Pinyuh itu mengungkapkan, harga jual wortel yang sebelumnya Rp 15 ribu perkilogram, kini mencapai Rp 45-50 ribu perkilogram. Sedangkan harga tomat yang dulunya Rp 8 ribu perkilogram, naik menjadi Rp 15 ribu perkilogram.

“Sedangkan untuk komoditi sayur lainnya seperti bawang merah dan bawang putih memang sudah mengalami kenaikan sejak beberapa bulan lalu. Harga bawang saat ini berkisar Rp 40-45 ribu perkilogram,” paparnya.

Wanita yang mengaku sudah 15 tahun berjualan sayur itu mengatakan, kenaikan harga komoditi sayur dipastikan berdampak terhadap omset yang didapatnya. Konsumen cenderung mengurangi porsi belanja sayur untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

“Kalau biasanya konsumen beli perkilogram, sekarang hanya per ons saja. Kita memaklumi situasi itu, karena para ibu-ibu harus pintar membagi uang belanja agar semua kebutuhan bisa terpenuhi,” pendapatnya.

Pedagang sayur lainnya, Nisa menyebut kenaikan harga komoditi sayur tersebut membuat dirinya harus menyusun strategi penjualan. Misalnya dengan mengurangi stok sayur yang dibeli dari agen. Sebab, jika banyak sayur yang tidak laku maka pedagang yang akan menanggung kerugian.

“Kami juga membeli sayur dari para agen. Setiap hari, hasil penjualan akan disetor kepada agen tersebut. Sayur yang tidak laku, tidak bisa dikembalikan. Makanya, beberapa komoditi yang kurang diminati pembeli, tidak terlalu banyak kami jual,” tuturnya.

Dengan sistem berjualan seperti, imbuh Nisa yang juga warga Dusun Parit Kurus, Desa Sungai Bakau Besar Darat ini menuturkan, tidak banyak keuntungan yang bisa didapatnya. Apalagi jika masyarakat membeli dalam jumlah yang sedikit.

“Kalau belinya per ons, kami bisa mendapatkan untung Rp 1000-2000. Nah, kalau belinya perkilogram lumayan lebih besar bisa Rp 4000-5000 keuntungannya. Sejak kenaikan harga beberapa jenis komoditi ini, daya beli masyarakat terhadap komoditi bersangkutan jadi menurun,” ujarnya.

Meski demikian, Nisa mengaku tetap bersyukur. Walau omset pendapatannya tidak terlalu besar, namun cukup untuk menambah penghasilan rumah tangganya. Dia pun berharap menjelang ramadahan ini, daya beli masyarakat kembali bergairah.

“Secara umum, daya beli masyarakat tetap tinggi. Mudah-mudahan saja pada ramadhan nanti semakin ramai masyarakat yang berbelanja. Mungkin nanti, stok sayur juga akan kita tambah lagi,” tukasnya.(wah)

Berita Terkait