Harga Lada Cendrung Tidak Stabil

Harga Lada Cendrung Tidak Stabil

  Selasa, 22 November 2016 09:30

Berita Terkait

Kebun Lada masyarakat perbatasan yang baru mulai ditanam

PUTUSSIBAU—Lada merupakan salah satu komoditi unggulan masyarakat Kabupaten Kapuas Hulu, terutama masyarakat dikawasan utara kabupaten ini. Namun sayangnya harga komoditi ini cendrung tidak stabil, sehingga petani tidak bergairah kembangkan perkebunan lada. Karenanya pemerintah diharapkan memperhatikan komoditi yang banyak dijual kenegaratetangga melalui jalur takresmi ini.

Kebun lada milik masyarakat banyak ditemukan di beberapa kecamatan diperbatasan, kecamatan Batang Lupar, Badau, Puring Kencana dan Empanang serta sebagian kecil ada kecamatan Putussibau Utara. Kondisi harga tidak stabil, petani enggan mengelola kebun dengan luas. “Biaya perawatan sangat besar dan butuh perawatan khusus,”terang Sunardi warga Putussibau Utara, Minggu (20/11).

Selama ini, kata Sunardi, masyarakat pemilik kebun lada menjual hasil kebunnya pada pengepul dan pengepul menjual lada tersebut ke pasar Malaysia. “Harganya paling tinggi 30-40 ringgit Malaysia per kilo lada,” jelasnya. Itu pun, sambung dia lagi, harga tidak stabil. Jika sudah banyak, harga lada akan anjlok ditingkat petani. Karena selama ini, jarang pengepul lada menjual ke pasar dalam negeri.

Untuk itu, dia berharap, sebagai salah satu komoditi unggulan masyarakat perbatasan, diharapkan pemerintah bisa memperhatikan harga lada. Selain itu, juga diperlukan bantuan dari pemerintah pada petani, terutama pupuk. “Biaya pupuk lada cukup mahal. Belum lagi kebutuhan lainnya,” tutur dia. Dikatakan, selama ini masyarakat perbatasan mengebun lada hanya sebagai pekerjaan sambilan.

Padahal, jika dikelola dalam sekala bisa, bisa menjadi komoditi unggulan bagi masyarakat perbatasan yang diekspor ke luar negeri. Hanya saja, kata Sunardi lagi, perlu campur tangan pemerintah agar usaha petani ini bisa bersaing dipasar internasional. Karena selama ini, masyarakat menjual lada ke pasar negara tetangga melalui jalur tidak resmi. Sehingga, harganya dipermainkan pedagang di Jiran.

Dia oftimis, jika lada dikembangkan secara oftimal dan pemerintah hadir ditengah-tengah petani lada. Maka lada Kapuas Hulu bisa menjadi penghasil lada tebesar di Kalbar dan pangsa pasarnya tidak lain negara tetangga. “Harga lada dalam negeri pernah lebih tinggi dari negara tetangga, tetapi harga tersebut tidak pernah bisa bertahan lama. Padahal potensi lada cukup besar,” beber dia.(aan)

5///

Berita Terkait