Harga Karet Beranjak Naik

Harga Karet Beranjak Naik

  Senin, 18 April 2016 10:38

Berita Terkait

Dorong Permintaan Dalam Negeri

PONTIANAK - Harga komoditas karet di pasar di pasar internasional mengalami kenaikan. Merangkaknya harga karet itu setalah adanya kesepakatan antar tiga negara produsen karet alam (Indonesia, Thailand, dan Indonesia). 

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Kalimantan Barat Jusdar Sutan bahkan otimistis harga komoditas karet akan terus membaik untuk ke depannya akibat barangnya sudah mulai berkurang di pasar.

Dijelaskan dia AETS (agreed export tonnage scheme/ambang batas ekspor) merupakan langkah mengurangi ekspor dari tiga negara ITRC (International Tripartite Rubber Council) sebanyak 615 ribu ton dari bulan Maret- Agustus 2016. Apalagi ekonomi dunia juga mulai membaik, walaupun masih rentan. 

“Saat ini, ekspor terbesar karet masih ke Amerika dan diharapkan dengan perbaikan ekonomi global keadaan akan menjadi lebih baik, tetapi kondisi Tiongkok belum sebaik dulu,” sebutnya. 

Khusus untuk Indonesia jelas Jusdar mengurangi ekspor sebanyak 238 ribu ton dari Maret hingga Agustus 2016 mendatang. “Semua anggota Gapkindo diberikan alokasi ekspor supaya AETS ini bisa berjalan dengan baik,” katanya. 

Dipaparkan Jusdar pula, harga pada awal Maret 2016 saat AETS diberlakukan mencapai USD 1,08 perkilogram SIR (Standar Indonesia Rubber) di pasar Internasional. Sementara untak saat  saat ini harga sudah menjadi USD 1,50 per kilogram atau naik sekitar 39 persen.

“Kalau hitung ditingkat petani sebelum naik harga sekitar Rp 5 ribu/kg. Sekarang sudah sekitar Rp 7 ribu/kg. Itu untuk karet dengan K3 sekitar 45 persen. Harga tergantung kepada kadar karet keringnya (K3). Semakin tinggi K3, semakin tinggi harganya,” tutupnya.

Sementara itu Anggota DPR Komisi XI Michael Jeno menyebut, pihaknya juga sudah mendorong pemerintah untuk mendongkrak harga karet. Apalagi kata dia, karet merupakan tumpuan penghasilan bagi sebagian besar masyarkat Kalbar. Untuk karet, pemerintah juga telah melakukan program yang sama yaitu meningkatkan pasar dalam negeri.

“Pasar luar negeri terbatas dan harganya sangat tergantung dari permintaan. Kalau pasar dalam negeri itu semua di bawah kontrol kita. Pemerintah mendorong dengan adanya program pembangunan infrastruktur yg banyak dimana-mana, maka karet bisa dijadikan untuk campuran aspal, bantalan untuk rel kereta api, dan untuk dipelabuhan bisa menjadi sandaran kapal sebagai pelengkap infrastruktur. Dengan begitu, kita bisa mengambil keuntungan dari pembangunan infrastruktur tersebut,” pungkasnya. (ars)

Berita Terkait