Harga Karet Anjlok, Kratom jadi Penyelamat

Harga Karet Anjlok, Kratom jadi Penyelamat

  Minggu, 17 April 2016 09:00
KRATOM: Warga Jongkong mengangkut daun kratom.

Berita Terkait

ANAK buah kapal sibuk membongkar dan menurunkan barang. Demikian juga Anai, sang juragan, sibuk memelototi nota barang titipan. “Sal siapkan indomie, 50 dus,” teriak Anai memerintah Faisal, anak buah kapal.

Saya pun tak mau hanya sekedar diam, melihat kerja keras mereka. Melihat tetesan keringat mereka. Saya langsug bergegas mengambil poisisi membantu mereka. Saya fikir ini adalah hari terakhir saya bersama mereka, setelah selama Sembilan hari menyusuri Sungai Kapuas dengan Kapal Bandong KM Cahaya Borneo.

Setelah hampir empat jam proses bongkar dan menurunkan barang, akhirnya selesai juga. Kapal Bandong pun berlahan meninggalkan dermaga dan menuju dermaga milik Anai, sang juragan yang letaknya berada persis di seberang dermaga kota itu.

Kapal Bandong pun bertambat. Saya dipersilahkan untuk mampir ke kediaman sang juragan. “Ini rumah saya mas,” ujar Anai mempersilahkan saya masuk.

Anai lalu mengajak saya untuk melihat kolam Arwana Super Red yang  berada di lahan di antara rumah warga. Kolam ikan Arwana itu menjadi sumber penghasilan tambahan keluarga ini, selain mengandalkan jasa angkut barang dari Pontianak menuju Kapuas Hulu. “Kolam ini isinya Arwana Berazil. Dan yang ini Super Red. Indukannya hanya 12 ekor,” kata Anai, sambil memberi umpan ikan endemic Kalimantan Barat itu.

Di rumah itu saya diperkenalkan dengan keluarga Anai, ayah dan ibunya. Di sela-sela obrolan kami, Wan Machmud, ayah Anai mengelurkan uneg-uneg soal turunnya harga karet yang semakin mencekik leher. “Mas, saya mohon uneg-uneg saya ini disampaikan ke orang-orang yang ada di pusat sana. Harga karet sekarang semakin merosot. Satu kilo karet tak bisa untuk membeli gula satu kilo,” keluhnya.

 “Jika harga karet terus turun, petani karet di Kapuas Hulu ini mau makan apa. Sedangkan 90 persen penghasilan mereka dari karet,” sambungnya.

Tampaknya turunnya harga karet  menjadi persoalan yang serius di sini. Menurut cerita, banyak petani karet yang frustasi akibat harga karet semakin anjlok.

Bahkan sebagian dari mereka memilih mencari pekerjaan alternative lain, seperti Penambang Emas atau berburu daun Purik atau Kratom yang nilainya lebih menjanjikan. “Daun kratom, tidak selama bisa menjamin hidup kami. Lama kelamaan daun itu akan habis,” katanya.

Daun Kratom memang bukan barang yang asing bagi masyarakat Kapuas Hulu. Sejak beredar kabar satu kilogram daun Kratom kering dihargai Rp60 ribu, maka sebagian masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu memburunya untuk dijadikan alternative pekerjaan.

Daun Kerotom dikeringkan dan dihaluskan. Istilah orang local Remahan. Dimana daun Kratom yang sudah mengering kemudian diremas-remas hingga menjadi bubuk kasar. Lalu disaring, agar serat daun terpisah dengan daunnya. Sehingga menghasilkan bubuk Daun Kratom yang halus.

Menurut informasi, tanaman ini memiliki rasa pahit karena mengandung senyawa alkaloid. Daun kratom telah lama digunakan oleh orang-orang Thailand sebagai obat tradisional. Daunnya dapat dikonsumsi dengan cara dikunyah, dibuat menjadi teh dan diolah menjadi bubuk. Kratom memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan diantaranya, mengatasi kecanduan narkoba.

Klinik rehabilitasi sering menggunakan kratom untuk mengatasi ketergantungan terhadap obat-obatan seperti opium dan morfin. Pada tahap awal rehabilitasi biasanya dilakukan detoksifikasi, untuk mengeluarkan racun sisa opium atau morfin. Pada tahap ini akan menyebabkan sejumlah gejala yang tidak menyenangkan. Pasien biasanya memiliki keinginan yang kuat untuk kembali mengkonsumsi opium atau morfin. Bubuk kratom dapat digunakan untuk menggantikan narkoba tersebut.
Manfaat lainnya, mengatasi diare, meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan tekanan darah tinggi, meningkatkan energy, mengatasi nyeri otot, mengatasi depresi, stimulan seksual, dan mengontrol kadar gula darah.

Namun ada juga yang berpendapat bahwa Daun Kratom termasuk dalam kategori narkotika. Seperti yang dirilis Direktorat Tindak Pidana Narkotika Mabes Polri pada 2013 lalu. Dimana Mabes Polri menemukan lima dari tujuh golongan zat psykoaktif (narkoba) baru yang ada di dunia.

Lima narkoba baru di dunia diantaranya, Methylone, Syntetic LSD, Ketamine, Piperazine, dan jenis zat tanaman dasar yakni Kratom, dan tanaman Khatinona yang memiliki efek sama seperti memakai sabu dan ekstacy, yaitu halusinasi, hilang nafsu makan, ephoria, dan menyebabkan rasa gembira.

Obrolan kami pun ngalor- ngidul sampai akhirnya saya memutuskan untuk pamit dari rumah sang juragan ke Kapal Bandong. Secara tidak sengaja saya melihat dua orang mengajuh sampan membawa belasan kantong ukuran 20 Kg berisi Daun Kratom yang sudah menjadi bubuk. Daun-daun kratom itu rencananya akan dibawa ke Pontianak.

Malam pun semakin larut. Malam ini saya masih bermalam di Kapal Bandong bersama mereka, orang-orang Bandong sebelum akhirnya saya melanjutkan perjalanan menuju ke Putussibau menggunakan speedboat. (arief nugroho)

 

Liputan Khusus: 

Berita Terkait