Harga Cabai Selangit, Pengusaha Kuliner Menjerit

Harga Cabai Selangit, Pengusaha Kuliner Menjerit

  Rabu, 11 January 2017 09:30
Ilustrasi

Berita Terkait

PONTIANAK - Kenaikan harga cabai di Kota Pontianak dan sekitarnya dalam satu minggu terakhir berdampak luas. Pengusaha kuliner  tradisional hingga modern pun harus putar otak demi mensiasati harga cabai.

Inisiator Asosiasi Pelaku Usaha Kuliner (ASPEK) Kota Pontianak, Laisah Maranatha, menyebut cabai rawit merupakan salah satu bahan baku yang sangat diperlukan, baik itu dalam bumbu maupun untuk bahan utama pembuatan sambal.

Setiap rumah makan maupun restoran pasti menggunakan cabe rawit dan menyediakan sambal sebagai pelengkap utama dalam setiap sajian.“Apalagi bagi usaha rumah makan yang menu utamanya adalah sambal, harga cabai sekarang sangat mencekik,” katanya, Selasa (10/1) kemarin.

Dengan adanya kenaikan ini, yang sudah satu minggu lebih, dari awalnya harga cabai hanya Rp 35.000 per kilogram lalu meroket menjadi Rp 90.000 per kilogramnya. Bahkan sudah menembus hingga Rp125 ribu. Ini tentu berpengaruh pada harga produksi. “Otomatis angka pembelian bahan baku kami naik,” tegasnya.

Naiknya harga produksi, kata Laisah, tidak serta merta dapat diikuti dengan menaikkan harga tiap menu makanan. “Bagi pengusaha yang bergerak di bidang usaha rumah makan dan resto, akan sangat sulit bagi mereka untuk menaikkan harga jual makanan,” katanya. 

Mau tak mau, dalam satu minggu terakhir, masing-masing pengusaha berupaya bertahan dengan harga jual yang sama walaupun harga cabai naik signifikan. “Konsekuensi nya akan berpengaruh pada margin keuntungan,” katanya lagi.

Ia melanjutkan, menaikkan harga jual makanan adalah langkah terakhir. Seorang pengusaha kuliner pastinya akan mempertahankan harga sebisa mungkin sebelum akhirnya menaikkan harga jual apabila harga cabai ini tak kunjung turun dalam kurun waktu berbulan-bulan. Harga yang dinaikkan itupun hanya jenis makanan yang banyak menggunakan cabai, terutama sambal.

Menanggapi kabar maraknya pembelian cabai busuk dari pengusaha kuliner, sebagai buah mahalnya bahan makanan tersebut di pasar, menurutnya tak perlu membuat masyarakat resah. Sebagian besar pengusaha kuliner yang ada di Pontianak menurutnya selalu mengusahakan kualitas yang dapat diberikan kepada konsumennya. Ia pun mengimbau para penjual kuliner agar tidak menggunakan cabai busuk sebagai bahan makanan. Ini akan berdampak kepada kesehatan.

Namun begitu ia berharap kenaikan ini tidak lama dan harga cabai bisa kembali normal di kisaran Rp30 ribu atau Rp35 ribu per kilogramnya. “Pemerintah mesti bertindak cepat, agar dampak yang ditimbulkan tidak semakin meluas,” katanya.

Meroketnya harga cabai juga sangat berpengaruh pada pengusaha kecil atau UMKM. Ari (38) misalnya. Penjual gorengan di Perumnas 2 ini mengaku kesulitan mensiasati naiknya harga cabai sejak minggu lalu. Terlebih, bagi dirinya cabai merupakan bahan baku utama bagi usahanya.

Ia melanjutkan, sangat sulit apabila ia harus menaikkan harga gorengan jualannya. “Masyarakat pasti protes kalau harga (gorengan) naik,” katanya. Solusi sementara baginya untuk tidak merugi terlalu besar hanya dengan mengurangi takaran sambal atau cabai.

Dari satu bungkus plastik sambal, ia hanya memberikan takaran hingga tiga perempat bungkus. Selain itu, dari sebelumnya ia memberikan tiga bungkus sambal atau cabai per sepuluh gorengan, kini ia hanya mampu memberikan dua bungkus sambal atau cabai kepada konsumennya. “Mau tidak mau, agar 

Sebagai informasi, berdasarkan pantauan di Pasar Flamboyan Pontianak, harga cabai untuk jenis rawit termurah kisaran Rp90 ribu. Sementara untuk kebutuhan masyarakat lainnya yang saat ini masih belum turun yakni harga ayam potong Rp28 ribu per kilogram, yang sebelumnya Rp23 ribu per kilogram. Sedang kelompok sayur mayur dan barang kebutuhan dapur lain harganya relatif stabil. (mif)

Berita Terkait