Harga Cabai Rawit Tembus Rp120 Ribu

Harga Cabai Rawit Tembus Rp120 Ribu

  Rabu, 11 January 2017 09:30
ILUSTRASI

Berita Terkait

KETAPANG – Harga cabai rawit di Ketapang sejak beberapa hari terakhir meroket. Jika di akhir 2016 berkisar Rp70 ribu perkilogramnya, maka di awal 2017 ini harganya mulai melambung tinggi. Saat ini di pasar-pasar di Kota Ketapang dibanderol Rp120 ribu perkilogram.

Salah satu penjual sayur di Pasar Rangga Sentap Ketapang, Miska (46), tak memungkiri jika kenaikan harga cabai tersebut terbilang sangat drastis. Sejak akhir tahun 2016, harga cabai, diakui dia, terus meroket. Bahkan, dalam kurun satu hari saja, harganya, menurut dia, bisa naik Rp10 ribu. "Sekarang Rp120 ribu perkilonya. Akhir tahun kemarin masih Rp70 ribu perkilonya," katanya, kemarin (10/1).

Ia menjelaskan, mahalnya harga cabai ini disebabkan berkurangnya stok cabai di pasaran. Pasokan di sejumlah sentra, menurut dia, berkurang yang diakibatkan tingginyanya harga modal. Untuk mendapatkan 1 kilogram cabai, mereka bahkan harus merogoh kocek hingga Rp110 ribu. "Jadi kami tidak berani menjual banyak. Paling banyak 2 – 3 kilo saja setiap hari. Karena pembeli juga ngeluh. Mahal," jelasnya.

Ia mengungkapkan, informasi yang ia peroleh dari para pedagang lainnya, berkurangnya pasokan cabai ini disebabkan oleh tanaman yang rusak karena diserang hama, sehingga petani gagal panen. "Kalau dari Ketapang sendiri sedikit. Kebanyakan dari luar cabainya," ungkapnya.

Ia berharap harga cabai rawit ini bisa kembali normal seperti biasa. Karena kondisi tersebut diakui dia berdampak pada pendapatan mereka. "Pembeli juga berkurang. Mereka tidak mau beli karena harganya mahal. Yang biasanya beli setengah kilo, sekarang paling beli 1 atau 2 ons saja. Saya juga tak mau nyetok banyak, takut tak laku," ujarnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan Kabupaten Ketapang, Akhmad Humaidi, mengatakan, hingga saat ini belum ada pemetaan yang begitu jelas terkait sentra penghasil cabai di Ketapang. Masyarakat juga, diakui dia, tidak banyak yang menanam cabai dalam skala yang luas.

Selama ini, kata Humaidi, untuk tanaman hortikultura ini memang sering luput dari perhatian. Permasalahannya baru akan mendapat sorotan, menurut dia, ketika harga cabai melambung tinggi seperti sekarang ini. "Untuk di Ketapang sendiri sentra penghasil cabai ini masih belum terfokus di mana? Karena masih skala kecil," katanya.

Ia menjelaskan, permasalahan cabai ini sebenarnya tidak terlalu sulit jika memanfaatkan media informasi. "Tidak hanya produksi dan komsumsi, informasi juga harus diperhatikan. Jika di satu tempat stok cabai melimpah dan satu tempat lainnya kekurangan, maka langkahnya adalah segera mendistribusikan ke tempat yang kurang itu," jelasnya.

Khusus di Ketapang, diakui Humaidi, petani cabai memang tidak banyak. Untuk memenuhi kebutuhan cabai, sebagian besar, menurut dia, masih disuplai dari luar Ketapang. "Karena harga cabai ini tidak tetap, naik turun sesuai stok. Jadi, ke depannya akan kita pikirkan. Tidak hanya produksinya, tapi juga distribusinya," pungkasnya. (afi)

Berita Terkait