Harga Beras Naik

Harga Beras Naik

  Sabtu, 30 January 2016 09:28
NAIK : Harga beras mengalami kenaikan sedikit beberapa hari belakangan ini, sekitar Rp3.000 per karung ukuran 20 kilogram, Jumat (29/1). Kenaikan ini disebabkan belum panennya padi di Pulau Jawa. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Harga beras di Pontianak dan sekitarnya merangkak naik pada beberapa hari terakhir ini. Meskipun demikian, kenaikan tersebut dianggap masih normal oleh para pedagang beras, baik grosiran maupun eceran.

“Belum terlalu tinggi kenaikannya. Kami masih tahan lah supaya jangan naik terlalu tinggi kenaikannya. Kami juga tanya agen, ternyata stok mereka masih lumayan banyak, sehingga belum layak kami naikan harga sampai tinggi sekali,” ujar Aheng, pemilik Toko Anga, penjual beras grosiran di kawasan Pasar Mawar kepada Pontianak Post, kemarin (29/1).

Disebutkan dia, walaupun 90 persen beras yang dijualnya berasal dari Pulau Jawa, pihaknya masih enggan untuk ikut-ikutan mengikuti kenaikan harga di sana. “Memang hampir semua beras kita ini datang dari Jawa, dimana harga di sana sudah tinggi sekali. Tapi kami tanya agen, mereka masih punya stok lama yang dibeli waktu harga masih normal. Tapi kalau stok agen di sini menipis, mau tidak mau nantinya kenaikan tidak bisa dihindari,” jelas dia.

Beras yang dijual Aheng sendiri sudah naik sejak beberapa hari terakhir. Beras kualitas super dengan merek Superman misalnya, sebelumnya berharga Rp13.500 per kilogram kini dihargai Rp14.000 per kilogram. Sementara beras berkualitas baik tapi dengan harga lebih murah bermerek Apel, kini harganya Rp12.500, naik dengan nominal kurang lebih sama dengan beras lainnya.

Aheng mengatakan, kenaikan harga ini tidak berpengaruh terhadap penjualannya. Biasanya dalam satu hari dia mampu menjual 8 karung ukuran 20 kilogram per harinya. Satu hari dia hanya bisa menjual 3-4 karung dengan ukuran yang sama. Tetapi, lanjut dia, penurunan penjualan tersebut juga dipengaruhi aksi beli masyarakat saat menjelang Imlek pertengahan bulan ini, walau tak terlalu besar.

“Mungkin penurunan penjualan kami ada pengaruh dari kenaikan harga. Tetapi saya pikir orang juga masih banyak stok, jadi mereka menunda membeli. Waktu mau Imlek lalu, orang ramai-ramai beli beras, karena untuk stok hari raya, dan toko serta warung juga tutup waktu Imlek. Jadi mungkin mereka hanya menunda membeli saja,” ucapnya.

Beda halnya dengan Ace, penjual beras di kawasan yang sama. Menurutnya kenaikan harga beras ini wajar. “Ini sudah setiap awal tahun begini. Januari-Februari pasti ada kenaikan, karena di Jawa belum panen padi. Biasanya nanti bulan Maret stabil lagi Karen sudah panen,” ujarnya.Sementara itu, harga kebutuhan pokok lainnya stabil. Minyak goreng eceran, gula pasir dan tepung terigu yang biasanya akan naik jelang Imlek, masih stabil. “Minyak goreng masih Rp4.000 satu kilogramnya. Sedangkan gula pasir malah turun harganya,” sambung dia.

Dia berharap, kenaikan harga beras tidak berkelanjutan. Menurutnya beras adalah komoditas paling utama dari masyarakat sehingga harganya harus benar-benar stabil. Kenaikan harga beras, sebut dia, bisa memicu kenaikan barang-barang kebutuhan masyarakat lainnya.Kenaikan harga beras juga terjadi di tingkat pengecer. Yanto, pemilik warung kebutuhan pokok di Jalan Tanjung Raya II misalnya, menaikan harga beras yang dijualnya Rp1.000-2.000 per kilogramnya. Dia menaikan harga jual beras lantaran harga di grosir juga meningkat. “Kalau kita ambil di grosir naik, ya kita harus naik juga. Tapi sampai sekarang belum terpengaruh ke penjualan. Orang juga masih beli seperti biasa,” ucapnya.

Kendati demikian, Tim Pengendali Inflasi Daerah Kalbar memperkirakan inflasi bulan Januari tidak akan sebesar Desember lalu.  Apalagi harga BBM subsidu ditrunkan pemerintah pada awal bulan ini.  “Koreksi harga pada BBM bersubsidi serta bahan bakar rumah tangga atau elpiji yang dilakukan sejak awal Januari  2016 sejalan dengan pergerakan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah saat ini menjadi faktor peredam inflasi utama di periode Januari 2016 mendatang,” ungkap Dwi Suslamanto, pimpinan TPID yang juga Kepala Perwakilan BI Kalbar.

Dwi menyebutkan, meredanya inflasi pada Januari 2016 karena diprediksi menurunnya harga tiket transportasi udara yang menjadi penyumbang tekanan inflasi paling tajam selama Desember 2015karena ada perayaan Natal dan Tahun Baru. Hanya saja, patut diwaspadai, bulan Februari mendatang akan berlangsung Tahun Baru Imlek. Meningkatnya permintaan kebutuhan bahan pokok masyarakat menjelang Imlek diprediksi akan membuat sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga.

Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok masyarakat seperti telur dan gula pasir tetap bertahan tinggi selama hampir sebulan terakhir. Pedagang mengaku mengalami penurunan penjualan meski menjelang tahun baru Imlek.Salah satu pedagang di Pasar Kemuning, Antin (30 tahun) mengatakan harga telur perbutir yang dijual masih tinggi di harga Rp1.700. Sementara untuk gula pasir kini dijual seharga Rp14.000 per kilogram, padahal harga normal biasanya hanya Rp11.000 sampai Rp12.000. "Telur bahkan eceran di warung sampai ada yang jual Rp2 ribu, mungkin karena mendekati Imlek," katanya, Jumat (29/1).

Sementara untuk bahan kebutuhan pokok lain terbilang normal. Untuk harga sayur-mayur juga diakuinya tidak terlalu tinggi. Cabai rawit masih di kisaran Rp30.000 per kilogram. "Timun sedikit tinggi Rp8.000 per kilogram biasa normalnya hanya Rp6.000," ucapnya.Karena harga telur dan gula pasir cukup tinggi penjualan pun sedikit menurun. Kondisi seperti ini terjadi hampir dalam waktu sebulan terakhir. "Penjualan yang lain masih normal, sepertinya Imlek tidak terlalu berpengaruh tidak seperti lebaran ramai yang belanja," terangnya.

Penjual telur grosir dan eceran di salah satu ruko Pasar Flamboyan, Andre mengatakan harga telur memang cenderung tinggi. Belum berubah selama hampir sebulan. Harga telur ayam ras per kilogram masih dikisaran Rp24.000 sampai Rp25.000.Menurutnya harga telur yang masih tinggi kemungkinan disebabkan stok yang sedikit. Di tempatnya, semua kebutuhan telur dipasok dari peternak di wilayah Singkawang. Selain stok telur yang menipis, peternak juga dikatakan sedang kekurangan bibit ayam petelur. “Selain bibit, biasanya tergantung pakan juga, jika pakan mahal harga telur akan ikut mahal,” terangnya.

Sampai Jumat (29/1) kemarin, harga telur eceran di Pasar Flamboyan umumnya hampir sama di setiap tempat. Untuk yang ukuran paling kecil masih di harga Rp1.500 per butir. Sementara untuk telur ukuran sedang dan besar dijual dengan harga Rp1.700 hingga Rp1.800 per butirnya.(ars/bar)

Berita Terkait