Hapus Bea Masuk Mobil CKD

Hapus Bea Masuk Mobil CKD

  Sabtu, 2 April 2016 10:19
GENJOT PENJUALAN: Model berpose disamping Honda Civic teranyar yang ditampilkan di ajang Bangkok International Motor Show, baru-baru ini. Pemerintah Indonesia mendongkrak penjualan mobil yang terpuruk tahun lalu dengan menghapuskan bea masuk semua jenis kendaraan dalam kondisi terurai. REUTERS/Chaiwat Subprasom

Berita Terkait

JAKARTA – Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan berupaya menghapuskan bea masuk semua jenis kendaraan dalam kondisi terurai (completely knock down/CKD). Kebijakan tersebut diharapkan mendongkrak penjualan mobil yang terpuruk tahun lalu.

Kepala Subdirektorat Industri Kendaraan Roda Empat atau Lebih Kementerian Perindustrian Afrida Suston Niar menyatakan, rencana itu dibahas secara intensif sejak awal tahun ini. Hal tersebut menyusul penurunan signifikan penjualan kendaraan tahun lalu. ’’Ini salah satu insentif yang dirancang untuk kembali menggairahkan penjualan otomotif,’’ ujarnya, kemarin (1/4).

Pemerintah selama ini hanya memberikan fasilitas pembebasan bea masuk untuk impor kendaraan terurai jenis truk dan bus. Fasilitas itu diberikan dalam rangka mengembangkan pasar otomotif di Indonesia. ’’Ke depan, kami maunya semua jenis kendaraan, bea masuknya, nol persen. Tidak apa-apa karena merakitnya masih berada di dalam negeri,’’ tuturnya.

Khusus impor kendaraan keluarga multiguna (MPV) dan 4 x 2 akan dikecualikan dari daftar penerima fasilitas bea masuk nol persen. Hal tersebut mengingat pasarnya sudah cukup gemuk di Indonesia.

’’Untuk kendaraan 4 x 2 atau MPV, produksinya sudah banyak di Indonesia. Peminatnya juga sangat banyak. Penjualan MPV selama ini paling besar,’’ terang Afrida.
Tujuan pembebasan bea masuk kendaraan terurai diharapkan mendongkrak penjualan otomotif di Indonesia, terutama jenis sedan. Sebab, selama ini impor terurai mobil sedan terkena bea masuk 7,5 persen dari nilai barang. ’’Sedan termasuk yang tidak terlalu besar pasarnya karena bea masuknya tinggi,’’ jelasnya.

Bukan hanya itu, pemerintah juga berencana menghapuskan bea masuk komponen atau suku cadang mobil sebagai pendukung industri otomotif. Dengan begitu, industri otomotif nasional tidak terlalu berat dalam perakitannya. ’’Impor komponen mobil terkena 2,5 persen, tidak terlalu besar,’’ ungkapnya.

Afrida berharap pembebasan bea masuk membuat prinsipal otomotif lebih betah untuk menggarap pasar Indonesia. Selain itu, diharapkan prinsipal otomotif dunia menambah investasinya dalam bentuk penambahan kapasitas maupun pendirian pabrik baru. ’’Indonesia itu pasar yang sangat besar. Siapa pun ingin masuk ke sini asalkan kondusif,’’ jelasnya. (wir/c23/noe)

Berita Terkait