Hanya Kesabaran yang Mereka Butuhkan

Hanya Kesabaran yang Mereka Butuhkan

  Minggu, 3 April 2016 09:58
MELUKIS: Beberapa anak penyandang autis mengekspresikan kreativitas mereka dengan melukis di atas tas berbahan kanvas dalam aksi HARI AUTIS SEDUNIA di Bundaran Tugu Digulis, Sabtu (2/4). MIFTAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Peringatan hari Autis sedunia berlangsung meriah di Bundaran Digulis Untan, Sabtu (2/4). Puluhan anak-anak penyandang autis dari berbagai pendidikan Sekolah Luar Biasa (SLB), berkumpul menjadi satu. Masing-masing dari mereka didampingi orang tua mereka masing-masing, juga guru-guru dari sekolah mereka. 

Word Autism Awareness Day diperingati setiap tanggal 2 April sekali. Di Pontianak, peringatannya menggelar beberapa kegiatan. Mulai dari talksow tentang pemahaman bagaiamana menangani penyangdang autis sejak dini. Selain mengampanyekan pemahaman tentang apa yang disandang anak-anak ini, juga digelar kegiatan melukis bersama di atas plastik berbahan kanvas.

Edi Asmat, salah seorang ayah dari anak yang menyandang autis, menceritakan bagaimana saat masih berumur 1 tahun lebih, Erik Ramadhan, sang putra, kondisinya sama seperti anak lain pada umumnya. Namun, saat usinya dua tahun, anak bungsunya itu mengalami sakit. “Saya bawa ke rumah sakit, di sana diinfus. Saat menyadari anak saya austis, saya sedih,” ungkap Edi di sela-sela mengontrol anak laki-laki satu-satunya itu melukis bersama belasan anak lainnya.

Saat ini, Erik sudah beranjak remaja. Usianya 13 tahun dan sudah mengenyam pendidikan di kelas VI SD di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kinasih. Dalam masa pertumbuhannya, Erik mendapatkan kasih sayang yang lebih dari orang tua dan ketiga saudara perempuannya. 

Meski menyandang autis, Erik, dipastikan Edi, mampu mengerjakan beberapa pekerjaan ringan. Pekerjaan yang dimaksud dia seperti memasak dan mencuci baju. Dalam hal belajar, Erik, menurut dia, juga mampu membaca dan menulis. “Hanya saja, ada beberapa kesulitan saat mengucapkan kata,” aku Edi. 

Diakui Edi, penyandang autis memang berbeda dari anak biasanya, begitu juga dengan Erik. Sering kali, dia kerap melihat anaknya berbicara sendiri, kadang juga diam. Meski demikian, dia sangat menyayangi anaknya tersebut. “Dia yang paling disayang sama keluarga. Erik pengen sekolah sampai SMA. Saya bangga,” kata Edi tersenyum.

Hartati, salah satu pengajar di SLB Kinasih, menjelaskan bagaimana dalam memberikan pendidikan kepada para penyangdang autis ini, dibutuhkan kesabaran. Sebab, diakui dia, tingkat pemahaman mereka terhadap materi cukup sulit diserap. Namun, dia sangat senang bisa menjadi bagian dari guru anak penyandang autis ini.

“Mereka, tingkat penyerapannya lamban. Hari ini paham, besok bisa lupa. Perlu kesabaran dan berulang-ulang dalam menyampaikan materi. Tapi, setiap dari anak punya kelebihan. Anak-anak juga tidak dipaksa untuk berubah, tapi diajarkan dengan keterampilan. Saya senang, punya tantangan di sini. Apalagi kalau dia bisa berubah, wah itu sangat bersyukur sekali,” ungkap Hartati. 

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kalbar Alik Rasyid mengaku terharu dan bahagia bisa berkumpul dengan anak-anak penyandang autis ini. Dia juga bangga dengan kegigihan para orang tua yang mampu dan tabah dalam mendidik anak-anak mereka tersebut. 

“Anak yang luar biasa, begitu juga dengan orang tuanya. Berkat kegigihannya, bisa seperti ini. Saya sangat bangga,” ungkapnya.

Hari peringatan autis juga diisi sejumlah materi, mengenai apa itu autis. Talkshow itu mengajak memahami anak penyandang autis, agar masyarakat bisa memahami dan bisa berkumpul bersama mereka. Diharapkan nantinya tidak ada lagi anak-anak ini yang kemudian dijadikan candaan. (Gus) 
 

Berita Terkait