Hamil Anggur

Hamil Anggur

  Jumat, 21 Oktober 2016 09:23

Berita Terkait

Memiliki buah hati menjadi idaman bagi semua keluarga, terutama yang baru membina rumah tangga. Tak heran, kehamilan menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu setiap pasangan suami istri. Tetapi patut diwaspadai jika tidak ada tanda-tanda gerakan bayi , padahal usia kehamilan sudah beberapa bulan. Sebab, bisa saja hal ini merupakan gejala hamil anggur.

Oleh: Marsita Riandini

Janin yang tidak berkembang dalam rahim menimbulkan rasa khawatir bagi ibu hamil. Apalagi jika hasil pemeriksaan menyatakan hamil anggur. Apakah hamil anggur itu? Bagaimana gejala dan risikonya?

Dokter spesialis kandungan, Neny Dwi Anggraeni menjelaskan hamil anggur dikenal dengan istilah medis mola hidatidosa, yakni kondisi seorang yang awalnya positif hamil, namun setelah diperiksa melalui USG ternyata tumor jinak yang tumbuh dalam rahimnya. 

Kondisi ini terjadi ketika sel telur yang dibuahi dan plasenta tidak berkembang secara normal. Akibatnya sel-sel abnormal tersebut akan membentuk sekumpulan cairan yang dikenal dengan tumor jinak. 

“Janin gagal terbentuk. Awalnya saat dites positif hamil, tetapi setelah beberapa bulan usia kehamilan bayinya tidak berkembang dengan baik,” ungkap dokter di Rumah Sakit Sultan Syarif Mohammad Alkadrie ini.  

Gejala awal mola hidatosa ini mirip dengan gejala kehamilan normal. Diantaranya, terlambat datang bulan, tes kehamilan positif, bahkan sering mual dan muntah. Tetapi gejala-gejala kehamilan yang dirasakan itu jauh lebih berat dibanding kehamilan normal. 

“Perut terasa sakit, mual dan muntah berlebihan. Tidak adanya gerakan janin dalam rahim, sementara kondisi perut lebih besar dari usia kehamilan,” ungkapnya. 

Gejala-gejala tersebut sering membuat ibu hamil tidak menyadari kondisinya. Dia merasa tidak ada yang salah dalam kandungannya. 

“Biasanya ibu hamil itu tidak merasakan hal aneh dalam kandungannya. Tetapi setelah di USG ternyata bukan janin yang tumbuh melainkan gumpalan-gumpalan yang seperti sarang tawon,” jelas Neny.

Ada pula yang baru menyadari setelah mengalami perdarahan terus-menerus. Ada segumpalan seperti jeli yang keluar dari rahimnya. Ada pula yang menganggapnya gumpalan jeli itu seperti anggur. “Karena sering terjadinya perdarahan, bisa menyebabkan pasien mengalami anemia. Produk kehamilan itu bisa keluar kayak jeli-jeli,” tutur Neny.

Tumbuhnya tumor jinak itu disebabkan oleh beberapa faktor. Mulai dari gangguan kromosom, jarak kehamilan, nutrisi ibu hamil, kuantitas kehamilan yang sering, serta riwayat keguguran yang pernah dialami.  Bila kondisi tersebut tidak segera ditangani, bisa memicu risiko komplikasi. 

“Namanya juga kehamilan abnormal, jadi proses pemeriksaannya harus lebih detail dari pemeriksaan kehamilan normal. Ini untuk menentukan tindakan-tindakan yang akan dilakukan nantinya,” kata Neny. 

Ia menyatakan perlu a dilakukan pemeriksaan tingkat keganasan tumornya. Ini untuk melihat berbahaya atau tidaknya tumot. Ini juga mempengaruhi apakah pasien masih boleh hamil atau tidak. Itu sebabnya harus dilakukan pemeriksaan patalogi anatomi. 

“Harus dilakukan pemeriksaan jaringan tumornya, apakah ganas atau tidak. Bagi yang tidak boleh punya anak lagi, apalagi jika tumornya sudah ganas, biasanya sampai pada pengangkatan rahim,” ungkapnya. 

Tindakan lain yang dilakukan adalah kuret untuk mengeluarkan gumpalan tersebut. Kuret merupakan prosedur yang banyak digunakan untuk kasus keguguran, janin tidak berkembang dan juga hamil anggur. Tindakan kuret menjadi alternatif yang dilakukan oleh tindakan medis untuk membersihkan rahim dari sisa-sisa proses kehamilan. 

“Kuretnya ini harus bersih. Jika tidak bersih, sisa-sisa gumpalan tersebut bisa memicu tumor dalam rahim, tumor  berulang, atau bahkan mencapai tingkat keganasan,” ujar Neny. 

Neny menambahkan kasus pasien hamil anggur tidak sering terjadi. Tetapi jika sudah menemukan kasus pertama, biasanya dalam waktu yang tidak lama akan menemukan kasus yang sama. “Terakhir saya temukan kasusnya itu tahun lalu. Tetapi kalau sudah menemukan kasus pertama, akan menemukan lagi kasus berikutnya dalam waktu yang tidak lama,” pungkasnya. ** 

Berita Terkait