Hamil 13 Pekan, Diancam Bunuh

Hamil 13 Pekan, Diancam Bunuh

  Kamis, 18 Agustus 2016 09:45
grafis

Berita Terkait

MEMPAWAH - Korban perkawinan palsu di Tiongkok, Sherly, 20 warga Desa Peniram, Kecamatan Sungai Pinyuh menyambangi Kantor Badan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (KBPPPAPMPD) Kabupaten Mempawah, Senin (15/8) siang. Sherly menuntut perlindungan dari pemerintah daerah setempat.

 
Perlindungan tersebut diminta Sherly, lantaran dirinya mendapatkan ancaman akan dibunuh oleh suaminya apabila melaporkan kasus ini ke pihak berwajib. Karenanya, Sherly mengharapkan bantuan dari pemerintah daerah setempat untuk ,memberikan jaminan keamanan terhadap dirinya dan seluruh anggota keluarga.

“Dia (suami) mengancam akan menghabisi saya apabila melaporkan permasalahan ini di tanah air (Indonesia). Saya sangat takut dan merasa tertekan,” lirih Sherly ketika diterima Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rahmad Faiz diruang kerjanya.

Wanita muda berambut panjang itu mengaku tak sanggup mengenang kehidupannya selama berada di Tiongkok. Iming-iming memiliki rumah tangga yang bahagia dan sejahtera hanya mimpi buruk dalam kisah kehidupannya.

“Disana (Tiongkok) saya diperlakukan dengan kasar dan tidak layak. Sering dipukul dan disiksa. Pernah juga diancam pakai kayu hingga parang. Sungguh hati dan bathin saya sangat tersiksa oleh suami dan keluarganya disana,” tutur Sherly menahan kepedihan.

Walau kini sudah berhasil kembali pada keluarganya, namun perjuangan Sherly belum berkahir. Sebab, Sherly saat ini sudah berbadan dua. Usia kandungan Sherly sekitar 13 minggu. Dia pun harus membesarkan anak yang ada dalam kandungannya itu seorang diri tanpa suami.

“Cukuplah saya yang mengalami kisah pahit ini. Jangan ada lagi perempuan lainnya yang menjadi korban,” ucapnya.

Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Kabupaten Mempawah, Mahadir yang turut mendampingi Sherly berharap Pemerintah Kabupaten Mempawah melalui Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serius memberikan perlindungan keamanan kepada Sherly.

“Menurut pengakuan sherly, dia diancam dibunuh oleh suaminya ( di Beijing) apabila melaporkan kasus ini. Makanya demi keamanan Sherly dan keluarganya, kami mendatangi Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kami minta agar Sherly dilindungi,” terang Mahadir.

Masih dalam upaya memberikan perlindungan terhadap Sherly, Mahdir mengaku pihaknya juga meminta perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) di Pontianak. Mengingat, korban membutuhkan perlindungan keamanan dari ancaman pembunuhan yang dilayangkan suami korban.

“Kami selalu berkomunikasi dan berkoordinasi untuk memberikan perlindungan kepada Sherly. Kita usahakan setiap saat selalu memantau kondisi keamanan Sherly. Kita antisipasi berbagai macam kemungkinannya. Sebab, ancaman ini sudah dilontarkan kepada korban,” sebutnya.

Selain meminta perlindungan, imbuh Mahadir, pihakya juga memeriksakan kesehatan Sherly ke Rumah Sakit Dr Rubini Mempawah. Mengingat, saat ini Sherly sedang dalam keadaan hamil 13 minggu.

“Sherly kerap mengeluhkan rasa sakit diperutnya. Makanya, kita periksakan ke rumah sakit kondisinya. Menurut keterangan dokter, kondisi kandungan Sherly dalam keadaan sehat. Rasa sakit itu dikarenakan Sherly terlalu kelelahan,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Badan KBPPPAPMPD, Rahmad Faiz berjanji pihaknya akan memfasilitasi Sherly untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan di RSUD DR Rubini Mempawah.

“Untuk pemeriksaan kesehatan, tentu akan kita fasilitasi. Kita upayakan Sherly mendapatkan hak-hak perlindungan sebagaimana diamanatkan perundang-undangan yang berlaku di negeri ini,” tegas Rahmad.

Lebih lanjut, Rahmad mengaku pihaknya akan menjalin koordinasi dengan instansi terkait lainnya dalam membantu Sherly. Termasuk pula melakukan langkah antisipasi agar tidak ada lagi korban lainnya dalam kasus yang dialami Sherly.

“Kedepan, akan kita tingkatkan lagi sosialisasi kepada masyarakat. Kita berikan pemahaman tentang modus maupun sindikat jaringan perdagangan manusia seperti yang dialami Sherly ini. Kasus yang dialami Sherly ini memang baru kali ini ditemukan di Kabupaten Mempawah. Bukan tidak mungkin masih banyak korban-korban lainnya, namun mereka tidak ada yang lapor,” tuturnya.

Seperti diberikan Pontianak Post sebelumnya, Sherly, 20 warga Desa Peniram, Kecamatan Sungai Pinyuh itu menjadi korban perkawinan palsu. Sherly diberikan uang senilai Rp 20 juta dan diming-imingi kehidupan mewah dengan menikahi pria Tiongkok. Sherly sendiri menjadi korban perdagangan orang melalui jaringan sindikat AK, warga Sungai Pinyuh dan LL, warga Pontianak.(wah)

Berita Terkait