Haji dan Perubahan

Haji dan Perubahan

  Rabu, 9 Agustus 2017 09:13   126

Oleh: Atbah Romin Suhaili

SEBAGIAN para jemaah haji dari Indonesia kini sudah diberangkatkan menuju Tanah Suci. Memasuki musim ibadah haji, umat Islam seluruh dunia yang mampu secara fisik, psikis dan materi finansial (QS. Ali Imran:97) berduyun-duyun menuju Makkah al Mukarromah untuk menunaikan kewajiban sebagai umat Islam, yakni rukun Islam yang kelima. Jika dilihat dari tahun sebelumnya jumlah jamaah haji umat Islam di tanah air merupakan penyumbang jamaah haji terbesar peringkat pertama di dunia diikuti Pakistan, India, Bangladesh dan Nigeria. Untuk tahun ini, berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2017 tentang Penetapan Kuota Haji Tahun 1438 H / 2017 M bahwa kuota haji Indonesia tahun 2017 sebanyak 221.000 (dua ratus dua puluh satu ribu ) orang yang terbagi ke dalam kuota haji reguler 204.000 (dua ratus empat ribu) orang dan kuota haji khusus 17.000 (tujuh belas ribu) orang. Jumlah ini meningkat dari 168.000 (seratus enam puluh delapan ribu) orang menjadi 211.000 (dua ratus sebelas ribu) orang. Jumlah 211.000 (dua ratus sebelas ribu) orang tersebut mendapat tambahan kuota 10.000 (sepuluh ribu) orang dari pemerintah Arab Saudi sehingga kuota berjumlah 221.000 (dua ratus dua puluh satu ribu) orang. Kalimantan Barat mendapat kuota jamaah haji sebesar 2.510 (dua ribu lima ratus sepuluh) orang ditambah 17 (tujuh belas) orang TPHD (Tim Petugas Haji Daerah) total berjumlah 2.527 (dua ribu lima ratus dua puluh tujuh) orang. Sedangkan Kabupaten Sambas 316 (tiga ratus enam belas) orang. 

Apabila dilihat dari daftar tunggu (waiting list) jemaah haji di Indonesia yang mencapai 20 tahun, bisa dipastikan bahwa jumlah umat Islam di tanah air yang mempunyai kesempatan menunaikan ibadah haji berjumlah jutaan orang. Jumlah tersebut belum termasuk orang yang tidak hanya sekali berangkat ke tanah suci. 

Haji dan Perubahan

Sesungguhnya banyak hikmah dan ibrah bisa digali dalam pelaksanaan ibadah haji untuk mencapai perubahan perilaku sebagai Muslim, apalagi perilaku modern yang sarat dengan nilai-nilai universal. Hal ini sejalan dengan firmanNya dalam QS. Al Hajj:27-28, antara lain : Pertama, kepatuhan dan penyerahan kepada Allah SWT semata. Ketika Allah SWT memanggil kita, maka kita bergegas memenuhi panggilan tersebut walaupun harus menempuh perjalanan  jauh dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, meluangkan waktu yang sangat berharga dan meninggalkan keluarga dan harta benda.  Dengan demikian seorang haji akan selalu siap bila Allah SWT memerintahkannya menjalankan tugas luhur dari Allah SWT karena untuk memenuhi tugas yang sulitpun kita telah bersedia datang memenuhi panggilannya. Kedua, pakaian ihram. Fungsi utama pakaian adalah untuk menutupi aurat dan melindungi tubuh dari keadaan alam yaitu cuaca panas dan dingin. Tetapi rupanya manusia masa kini menambah lagi fungsinya yaitu sebagai simbol pembeda stratifikasi sosial, ekonomi dan sebagai pemberi pengaruh psikologi. Orang kaya berpakaian yang terbuat dari kain sutera, orang menengah berpakaian kain wol, dan orang rendah berpakaian yang terbuat dari kain yang lebih kasar. Pakaian yang dikenakannya itu dapat membedakan dan mengiklankan kedudukan, harkat dan martabatnya terhadap sesama manusia lainnya. Seorang Gubernur, Walikota/Bupati, TNI, polisi, PNS, Hartawan yang pakaiannya terdapat bintang dipundaknya, pangkat dilengannya dan papan nama didadanya tentu lebih terhormat kedudukannya ditengah-tengah masyarakat dibanding petani dengan pakaian sederhananya. Dalam ibadah haji, seseorang akan ditempa agar menghilangkan perbedaan dalam perbedaan stratifikasi sosial ekonomi dan psikologis negatif. Gubernur, Walikota/Bupati, TNI, Polisi, PNS, Hartawan hanya dibolehkan memakai pakaian ihram saja sama seperti orang lain tatkala ia akan menunaikan haji. Seragam yang dikenakannya setiap hari ditinggalkan di rumah. Ketiga, meningkatkan kedisiplinan. Selama di tanah suci, jamaah haji dibiasakan untuk disiplin melaksanakan semua ritual haji dan sholat secara berjamaah di awal waktu dengan bersemangat. Kebiasaan disiplin tersebut diharapkan dapat melekat dalam kehidupan selanjutnya. Hasan al-Bashari berkata : Bersegerah, bersegeralah, sesungguhnya itulah napasmu, jika telah dihisab niscaya ia akan terputus darimu amal ibadahmu yang dengannya kamu mendekatkan diri kepada Allah SWT, semoga Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepada seseorang yang merenungkan dirinya dan menangisi dosanya, kemudian ia membaca firman Allah SWT: “karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) untuk mereka dengan perhitungan yang teliti” (QS. Maryam: 84). Tidak ada obat mujarab untuk mengobati penyakit malas dalam melaksanakan rutinitas ketaatan kecuali kematian, ingatlah kita semua akan berangkat meninggalkan dunia ini menuju suatu negeri yang akan dibalas padanya orang-orang yang berbuat baik dan yang berbuat jahat. Apabila kita menginginkan untuk terus merasakan berkah haji, maka ingatkanlah diri kita dengan kematian, karena sesungguhnya ia pada saat itu akan segera untuk melaksanakan amal shalih dan giat dalam beribadah kepada Allah SWT. Keempat, motivasi peningkatan diri. Ibadah haji akan menumbuhkan motivasi untuk memperbaiki diri. Seseorang yang bergelimang dosa, sering putus asa dengan dosa-dosanya sehingga sering merasa sudah terlanjur dengan dosanya. Dengan jaminan Allah SWT bahwa Haji akan menghapus dosa, seolah-olah kita disegarkan kembali, sehingga akan termotivasi untuk menjaga diri agar tidak membuat dosa lagi. Kelima, menumbuhkan solidaritas dan kebersamaan. Berkumpulnya ummat Islam dari seluruh dunia pada satu saat di satu tempat menumbuhkan jiwa solidaritas dan kebersamaan. Kita akan bertemu dengan saudara Muslim dari seluruh dunia dalam kesederhanaan dan keberagaman. Kapan lagi bertemu dengan Muslim dari Kosovo, Uzbekistan, Kazakhstan, Mali, Nigeria, Bosnia Herzegovina, Turki, Kirgistan, China, India, Pakistan, Bangladesh, Afganistan. Walaupun ada perbedaan dalam tata cara ibadah, namun tidak membuat ikatan persaudaraan sesama muslim menjadi terhambat. 

Memang harus diakui banyak hal yang bisa menyebabkan umat Islam kurang mampu menangkap ibroh atau hikmah dari setiap pelaksanaan ibadah haji. Hal itu bisa dikarenakan latar belakang tingkat pendidikan, pengetahuan, bimbingan yang kurang dan tidak adanya keteladanan. Padahal hakikat kemabruran haji disamping pelaksanaan ibadah haji yang tepat sesuai dengan syariat, juga sangat ditentukan oleh sikap dan perilaku amal perbuatan sesudahnya. Ulama besar seperti Imam Hasan al-Basri menjelaskan yang dimaksud dengan haji mabrur itu adalah perubahan perilaku ke arah yang lebih baik dan para jamaah haji tersebut mampu menjadi panutan dilingkungan masyarakat (Ay-Yakuuna Ahsana min Qablu wa Ayyakuuna Qudwata Ahli Baladihi). wallahualambishowab. **    

 

*) Penulis: Bupati Kabupaten Sambas