Hadiah Ulang Tahun

Hadiah Ulang Tahun

Jumat, 29 July 2016 10:22   617

Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP hari Rabu 27 Juli 2016 pukul 13.30 dilantik menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, menggantikan Menteri Prof. Dr. Anies Rasyid Baswedan. Menteri Anies pun sudah mengadakan perpisahan di kantornya sore itu. Ia bersama ibunda, istri dan anak-anaknya datang khusus ke acara itu. "Kami memohon pamit meneruskan ikhtiar itu di luar pemerintahan. Kami tidak akan berhenti berkiprah di dunia pendidikan" tuturnya.

 
Menteri Muhadjir bukan orang baru di dunia pendidikan. Pria kelahiran Madiun, 29 Juli 1956, sejak tahun 2000 menjabat Universitas Muhammadiyah Malang. Selain itu Prof. Muhadjir juga menjadi salah satu dari Ketua PP Muhammadiyah bidang pendidikan masa bakti 2015-2020. Itu berarti di bawahnya, kini, terdapat lebih dari 170 perguruan tinggi Muhammadiyah dan ribuan sekolah dasar dan menengah yang tersebar di seluruh di Indonesia.

Jejak pendidikan tingginya diawali di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, filial IAIN Sunan Ampel Surabaya. Lulus Sarjana Muda (BA) Pendidikan Agama, 1978. Dilanjutkan ke IKIP Malang, memperoleh gelar sarjana (Drs) tahun 1982. Gelar Magister Administrasi Publik (MAP) diperoleh di UGM tahun 1996 dan program doktor (Dr.) bidang sosiologi militer di universitas Airlangga tahun 2008. Gelar akademis tertinggi, Guru besar (profesor), diterima tahun 2015.

Dengan rekam jejak seperti itu, kiranya banyak harapan yang diarahkan kepada Mendikbud baru ini di bidang pendidikan Indonesia, terutama pendidikan karakter. Diharapkan jika pendidikan karakter dilakukan secara sistematis, mendasar dan intensif dalam 15 tahun mendatang, 2030, sungguh akan dimasuki oleh generasi emas yang sungguh emas. Generasi emas Indonesia di tahun 2030, mestinya memiliki mental inovator ulung seperti presiden Joko Widodo yang mengangkatnya menjadi salah satu pembantunya, sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru.

Dalam buku “The Innovator's DNA”, penulisnya Jeff Dyer, Hal Gergersen, and Clayton M. Christensen dari Universitas Harvard-AS, mengembangkan gagasan inovatif distruktif yang bercirikan lima (5) ketrampilan menemukan yang dapat membedakan antara para menejer inovatif ulung dari para CEO lainnya. 

Jeff Dyer, Hal Gergersen, and Clayton M. Christensen membandingkan sekitar 500 menejer yang mereka golongkan sebagai inovator ulung dengan 5000 CEO yang lain. Salah satu ketrampilan utama yang dimiliki para inovator ulung itu adalah kemampuan berpikir asosional ("associational thinking"). Kemampuan berpikir asosional berlangsung ketika otak mensitesis dan memberi makna berbagai gagasan/pendapat yang bagi banyak orang terlihat tidak saling berkaitan satu dengan yang lain. Hasil berpikir asosional ini dapat membari arah baru yang sesungguhnya.

Kemampuan berpikir asosional ini dimiliki oleh Presiden Joko Widodo. Salah satu contohnya adalah gerakan ‘revelolusi mental’. Revolusi mental yang dicetuskan Presiden Joko Widodo merupakan penggabungan gagasan banyak pihak dengan latar belakang yang sangat beragam. Ada gagasan para seniman, tokoh agama, budayawan, politisi, akademisi, partisan, profesional, petani, buruh, pedagang, nelayan, dsb tentang masa depan Indonesia. Gagasan mereka itu, kemudian diolah dan dirangkumnya menjadi satu bangunan baru yang disebut ‘revolusi mental’. Selanjutnya, ‘revolusi mental’ ini menjadi tema kampanyenya dan sekaligus tema kepemimpinannya sebagai presiden Indonesia yang baru.

Tema ‘Revolusi mental’ ini membawa seorang ‘kampung’ Solo yang sebelumnya tidak dikenal secara nasional menjadi orang pertama di Indonesia yang kehadirannya dielu-elukan. Diarak oleh rakyat dengan kereta kencana memasuki istana negara. Bahkan, survai terkini, akhir Juli 2016 tingkat kepercayaan publik akan kepemimpinan Presiden Joko Widodo tetap tinggi (68%).

Seandainya Menteri Muhadjir membudidayakan kemampuan berpikir asosional ala Jokowi ini di seluruh jenjang pendidikan yang menjadi kawasan pengabdiannya sesegera mungkin niscaya generasi emas 2030 sungguh-sungguh emas. Prof Muhadjir, Selamat Ulang Tahun, dan selamat memanggul tugas pengabdian yang baru. Semoga!

Leo Sutrisno